Pengaruh Perilaku Kewirausahaan Petani terhadap Kinerja Usahatani Bawang Merah
Abstract
tercermin dari kontribusinya sebagai penyedia bahan pangan, bahan baku industri, penyumbang PDB, penghasil devisa negara dan penyerap tenaga kerja. Salah satu komoditas unggulan dalam sektor pertanian adalah bawang merah, yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berkontribusi signifikan terhadap kesejahteraan petani. Meskipun produksi nasional bawang merah cukup tinggi, namun produktivitasnya masih tertinggal jika dibandingkan dengan negara lain seperti Thailand dan China. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang tepat untuk meningkatkan produksi dan daya saing bawang merah di Indonesia. Keberhasilan usahatani bawang merah tidak hanya bergantung pada alokasi input produksi, tetapi juga pada faktor non-teknis seperti karakteristik individu petani dan lingkungan bisnis yang kondusif. Karakteristik individu yang mencakup pengalaman berusahatani, tingkat pendidikan dan motivasi berperan dalam membentuk pola pikir serta keterampilan kewirausahaan pada petani. Sementara itu, lingkungan bisnis yang mendukung, seperti akses terhadap pasar, kebijakan pemerintah, ketersediaan teknologi dan infrastruktur dapat memberikan peluang bagi petani untuk mengembangkan usahanya secara efektif.
Perilaku kewirausahaan yang kuat memungkinkan petani untuk berinovasi, mengambil risiko dan mengelola usahataninya secara adaptif. Melalui perilaku kewirausahaan yang baik, petani tidak hanya mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi usahatani, tetapi juga dapat memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan daya saing produknya. Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan, pelatihan dan lokakarya kewirausahaan menjadi kunci dalam meningkatkan kinerja usahatani bawang merah. Tujuan penelitian ini (1) menganalisis pengaruh karakteristik individu dan lingkungan bisnis terhadap perilaku kewirausahaan petani bawang merah, (2) menganalisis pengaruh perilaku kewirausahaan petani terhadap kinerja usahatani bawang merah.
Penelitian ini berlokasi di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur pada bulan Agustus-September 2024. Penentuan sampel menggunakan teknik multistage sampling, dengan total sampel sebanyak 130 sampel yang dipilih dengan menggunakan teknik random sampling. Pengambilan data dilakukan secara langsung melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner yang telah disiapkan sebelumnya. Data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan SEM (Structural Equation Modeling) dengan pendekatan PLS (Partial Least Squares). Hasil analisis outer model menunjukkan bahwa semua indikator yang digunakan dalam penelitian ini telah memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas. Hal ini menunjukkan bahwa instrumen penelitian ini secara konsisten dapat mengukur variabel dan hasilnya dapat diandalkan untuk interpretasi lebih lanjut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap variabel yang diteliti memiliki pengaruh yang signifikan satu sama lain. Faktor karakteristik individu berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku kewirausahaan. Hal ini menunjukkan bahwa indikator pendidikan, usia petani, pengalaman usahatani, luas lahan, motivasi dan persepsi petani dapat meningkatkan perilaku kewirausahaan petani bawang merah. Faktor lingkungan bisnis berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku kewirausahaan petani bawang merah. Hal ini menunjukkan bahwa indikator ketersediaan input, dukungan penyuluh, bantuan modal, akses pasar dan kelompok tani berkontribusi dalam meningkatkan perilaku kewirausahaan petani bawang merah. Perilaku kewirausahaan petani berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja usahatani bawang merah. Perilaku kewirausahaan berperan sangat penting dalam peningkatan kinerja usahatani sehingga dengan adanya sikap inovatif, pengambilan risiko, sikap mandiri, kemampuan manajemen dan kemampuan berkembang pada akhirnya akan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja usahatani.
Kinerja usahatani dapat ditingkatkan melalui perilaku kewirausahaan. Pemerintah disarankan melakukan penguatan kapasitas petani melalui pelatihan dan peran serta kelompok tani dalam menyediakan akses pembiayaan dengan bunga yang rendah. Kolaborasi yang baik antara penyuluh dan kelompok tani ini dapat membantu meningkatkan keterampilan, pengetahuan dan juga motivasi dalam diri petani agar petani dapat menjalankan usahatani secara berkelanjutan. Selain itu, pemerintah dapat memfasilitasi kemitraan langsung melalui kontrak pembelian yang menjamin harga yang lebih stabil. Pengembangan platform digital untuk pemasaran hasil panen akan memungkinkan petani menjual produknya langsung kepada konsumen atau distributor besar tanpa melalui perantara sehingga mengurangi ketidakpastian pendapatan petani.
Collections
- MT - Economic and Management [3203]
