Niat Pembelian Daging Olahan pada Ibu Rumah Tangga di Kota Bogor
Abstract
Saat ini, masyarakat bukan hanya mengonsumsi daging dalam keadaan segar, melainkan juga dalam keaadan sudah diolah. Beberapa penelitian terdahulu menyatakan bahwa perubahan tersebut diakibatkan oleh perubahan gaya hidup yang meningkatkan daya beli dan produktivitas yang tinggi sehingga membuat konsumen memilih makanan yang praktis dan cepat dalam proses pembuatannya. Saat ini produk olahan daging ayam maupun sapi merupakan pasar yang memiliki prospek di Indonesia. Peningkatan permintaan konsumen sejalan dengan peningkatan produsen daging olahan. Saat ini sudah ada 64 industri daging olahan di Indonesia. Banyaknya industri tersebut membuat variasi merek daging olahan di Indonesia semakin beragam dan persaingan perusahaan semakin ketat. Oleh sebab itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh sikap terhadap perilaku, norma subjektif, persepsi kontrol perilaku, ketersediaan produk, kekhawatiran keamanan pangan, dan sensitivitas harga terhadap niat pembelian karena perusahaan perlu mengetahui apa yang sebenarnya memicu keinginan konsumen untuk membeli daging olahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh sikap, persepsi kontrol perilaku, dan norma subjektif terhadap niat pembelian daging olahan serta menganalisis pengaruh kekhawatiran keamanan pangan, ketersediaan produk, dan sensitivitas harga terhadap niat pembelian daging olahan. Penelitian dilakukan sejak bulan November 2024 - Maret 2025 di Kota Bogor. Penelitian menggunakan data primer yang didapatkan dari hasil survei menggunakan kuesioner yang disebarkan secara luring dan daring menggunakan Google Form. Total data yang digunakan berasal dari 152 responden yang merupakan ibu rumah tangga. Metode pengambilan sampel adalah voluntary sampling dan analisis data menggunakan partial least square with structural equation modeling (PLS-SEM) dan importance performance map analysis (IPMA) dengan menggunakan software SmartPLS 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki pendidikan terakhir setara sarjana, merupakan kelompok kelas menengah, dan memiliki jumlah anggota keluarga sebanyak 3-4. Kemudian, mayoritas responden paling sering membeli daging olahan jenis nugget, membeli daging olahan karena alasan kepraktisan, ragu untuk membeli daging olahan karena alasan khawatir dengan bahan pengawet, mendapatkan informasi mengenai daging olahan dari promosi langsung di tempat belanja, dan melakukan pembelian daging olahan hanya pada kondisi tertentu saja. Variabel sikap dan persepsi kontrol perilaku memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap niat pembelian, sedangkan norma subjektif tidak berpengaruh secara signifikan terhadap niat pembelian. Namun, norma subjektif berpengaruh positif dan signifikan terhadap sikap serta berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat pembelian melalui sikap. Selanjutnya, kekhawatiran keamanan pangan memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap niat pembelian, sedangkan ketersediaan produk dan sensitivitas harga tidak berpengaruh secara signifikan. Berdasarkan hasil importance-performance map analysis (IPMA), dapat disimpulkan bahwa sikap dan norma subjektif merupakan variabel laten dengan nilai kepentingan tertinggi, namun nilai kinerja keduanya masih di bawah rata-rata. Hal tersebut membuat kedua variabel laten tersebut merupakan variabel yang paling penting untuk dilakukan perbaikan. Perbaikan yang dapat dilakukan oleh produsen atau pemasar untuk meningkatkan kinerja sikap adalah dengan menerapkan interaksi secara langsung di tempat belanja, sedangkan untuk meningkatkan kinerja norma subjektif adalah dengan memanfaatkan platform digital dan peran komunitas.
Collections
- MT - Economic and Management [3203]
