Pengaruh Orientasi dan Kompetensi Kewirausahaan Terhadap Kinerja Usahatani Sayuran di Kabupaten Bogor
Abstract
Sektor pertanian memainkan peran penting dalam perekonomian Indonesia, menyumbang 13,7% terhadap PDB pada tahun 2020 dan melibatkan 40% tenaga kerja. Hortikultura, termasuk sayuran, memiliki kontribusi signifikan, terutama di provinsi Jawa Barat. Kabupaten Bogor merupakan wilayah dengan rata-rata pertumbuhan produksi paling tinggi pada tahun 2018-2023. Pertumbuhan tersebut diduga terjadi berkat adopsi inovasi teknologi dalam usahatani sayuran. Namun, petani tidak hanya perlu meningkatkan produktivitas, tetapi juga harus memiliki orientasi kewirausahaan yang kuat dan didukung oleh kompetensi kewirausahaan yang memadai. Kombinasi keduanya menjadi kunci untuk meningkatkan kinerja usahatani secara berkelanjutan.
Petani dengan orientasi kewirausahaan cenderung inovatif, proaktif, dan berani mengambil risiko, sementara kompetensi mencakup pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mengelola usahatani secara efektif. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh orientasi kewirausahaan terhadap kompetensi dan kinerja petani sayuran di Kabupaten Bogor serta keterkaitan keduanya dalam mendukung produktivitas dan keberlanjutan usaha tani.
Penelitian dilakukan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive (sengaja). Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei sampai Juli 2024. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan kualitatif yang bersumber dari data primer. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode multistage sampling melalui metode survei dengan menggunakan kuesioner yang telah disiapkan sebelumnya. Data yang diperoleh dari hasil penelitian kemudian diolah menggunakan analisis deskriptif dan PLS-SEM (Partial Least Squares Structural Equation Modeling).
Hasil analisis outer model menunjukkan bahwa sebanyak 104 dari 125 indikator dinyatakan valid dan reliabel. Ini menunjukkan bahwa instrumen dalam penelitian ini secara valid dan konsisten mengukur variabel yang seharusnya diukur dan hasilnya dapat diandalkan untuk interpretasi lebih lanjut. Evaluasi inner model menunjukkan nilai R² tergolong pada kategori sedang untuk variabel orientasi kewirausahaan (36,9%), kompetensi kewirausahaan (49,0%), dan kinerja usahatani (32,7%). Kemudian, ketepatan prediktif (Q²) menunjukkan kekuatan prediktif kecil dan nilai RMSE PLS-SEM menunjukkan kekuatan prediktif model yang medium.
Analisis path coefficient melalui bootstrapping menunjukkan hubungan signifikan antara orientasi kewirausahaan dengan kompetensi kewirausahaan, orientasi kewirausahaan dengan kinerja usahatani, dan kompetensi kewirausahaan dan kinerja usahatani. Selain itu, kompetensi kewirausahaan juga memediasi hubungan orientasi kewirausahaan dengan kinerja usahatani, mendukung seluruh hipotesis penelitian. Model akhir memiliki nilai SRMR sebesar 0,069 yang menunjukkan model fit yang acceptable.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa orientasi kewirausahaan yang kuat dapat meningkatkan kompetensi kewirausahaan para petani sayuran di Kabupaten Bogor. Petani dengan orientasi yang tinggi untuk berinovasi, proaktif, mengambil risiko, dan autonomi dalam menghadapi perubahan. Orientasi petani pada inovasi melalui upaya perubahan pada teknik budidaya hingga kualitas produk usahataninya menjadikan petani memiliki kompetensi teknis dalam bercocok tanam, pemahaman mengenai kebutuhan pasar, pengelolaan risiko, serta kemampuan untuk beradaptasi dengan teknologi dan praktik pertanian terbaru. Orientasi petani untuk menjadi inovatif, proaktif, berani mengambil risiko, dan autonomi membuat petani dapat meningkatkan kinerja usahataninya secara signifikan. Dengan orientasi kewirausahaan yang tinggi, petani dapat mengidentifikasi peluang baru, mengadaptasi teknologi terbaru, serta mengoptimalkan proses produksi dan pemasaran. Kemudian, peningkatan kompetensi kewirausahaan cenderung akan meningkatkan kinerja usaha berskala kecil.
Petani yang memiliki kompetensi kewirausahaan yang baik mampu membuat keputusan yang tepat terkait dengan manajemen produksi, pemasaran, pengelolaan sumber daya, serta inovasi dalam proses budidaya. Hal ini kemudian berkontribusi pada peningkatan efisiensi operasional, pengurangan kerugian, dan peningkatan daya saing, yang pada akhirnya mendorong peningkatan kinerja usahatani secara keseluruhan. Terakhir, orientasi kewirausahaan terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja usahatani melalui peran kompetensi kewirausahaan sebagai mediator. Artinya, peningkatan orientasi kewirausahaan akan mendorong berkembangnya kompetensi kewirausahaan, yang pada gilirannya berdampak pada peningkatan kinerja usahatani. Hasil ini menunjukkan bahwa orientasi kewirausahaan yang kuat tidak hanya memberikan pengaruh langsung terhadap kinerja usaha, tetapi juga secara tidak langsung melalui peningkatan kemampuan pelaku usaha dalam mengelola usaha secara efektif.
Penguatan kapasitas petani perlu dilakukan secara menyeluruh, dimulai dari peningkatan aspek individu seperti kemandirian dalam pengambilan keputusan, sikap proaktif, dan keberanian mengambil risiko, yang dapat dicapai melalui pelatihan kewirausahaan, akses informasi, serta dukungan teknis dan perlindungan usaha. Kompetensi konseptual dan strategis petani juga harus diperkuat melalui pelatihan perencanaan usaha, analisis pasar, dan strategi adaptif, didukung oleh penyuluhan intensif. Di sisi lain, ketersediaan sarana produksi, akses terhadap modal, serta informasi pasar menjadi fondasi penting dalam peningkatan kapasitas produksi. Selain itu, perluasan jaringan sosial petani dan kelompok tani menjadi kunci untuk memperkuat akses terhadap sumber daya, informasi, dan pasar secara berkelanjutan.
Kata kunci: kinerja usahatani, kompetensi kewirausahaan, orientasi kewirausahaan,
usahatani sayuran
Collections
- MT - Economic and Management [3203]
