Rantai Nilai Kopi Arabika di Dataran Tinggi Gayo
Abstract
Kopi arabika Indonesia memiliki potensi yang sangat signifikan di pasar internasional. Hal ini didukung oleh reputasi sebagai produk kopi spesial dengan karakteristik cita rasa yang bervariasi, yang ditentukan oleh faktor agroklimat di setiap daerah penghasil. Provinsi Aceh menempati posisi penting dalam produksi kopi arabika nasional, menyumbang 32.02% dari total ekspor kopi arabika Indonesia pada tahun 2022. Kopi arabika Gayo merupakan varietas unggulan yang tumbuh di wilayah Dataran Tinggi Gayo provinsi Aceh. Sejak tahun 1992, petani kopi arabika Gayo telah mengadopsi sertifikasi berbasis prinsip berkelanjutan. Sertifikasi yang diraih mencakup Organic Certified, Fairtrade, Rainforest, dan Indikasi Geografis (IG). Produksi kopi arabika Gayo melibatkan berbagai aktor yang memainkan peran kunci dalam rantai nilai mulai dari petani, pedagang pengumpul, pengolah, koperasi, hingga eksportir. Setiap tahapan dalam rantai nilai tersebut berperan penting dalam menjaga kualitas dan daya saing produk di pasar global. Selain menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 38.000 rumah tangga petani, kopi arabika Gayo juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan ekspor nasional dan pembangunan ekonomi daerah. Namun, rantai nilai kopi menghadapi berbagai tantangan di sepanjang rantai.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis struktur rantai nilai, (2) mengidentifikasi tata kelola (governance) yang terbentuk dalam rantai nilai, (3) mengidentifikasi distribusi margin di sepanjang rantai nilai, dan (4) mengidentifikasi strategi peningkatan (upgrading) rantai nilai kopi arabika di Dataran Tinggi Gayo. Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dari hasil survey pada 83 aktor rantai nilai termasuk petani, pedagang pengumpul tingkat desa, pedagang pengumpul tingkat kecamatan, koperasi, perusahaan eksportir, dan roastery. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Pegasing dan Silih Nara Kabupaten Aceh Tengah Provinsi Aceh pada bulan Agustus-September 2024. Petani dipilih menggunakan metode purposive sampling. Untuk aktor rantai nilai dibagian hilir pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik snowball sampling agar alur dan aktor rantai nilai yang terlibat dapat ditentukan secara akurat.
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis struktur input-output dilakukan dengan mengadopsi konsep pemetaan rantai nilai yang dikemukakan oleh Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR). Tata kelola rantai nilai kopi diidentifikasi menggunakan pendekatan kerangka tata kelola yang dikemukakan oleh Gereffi. Menurut Gereffi terdapat lima tipe tata kelola rantai nilai yaitu Market, Modular, Relational, Captive, dan Hierarchy. Perhitungan margin menggunakan pendekatan margin rantai nilai Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR). Analisis peningkatan (upgrading) rantai nilai menggunakan pendekatan Humprey yang membagi peningkatan rantai nilai menjadi empat tipe peningkatan yaitu Process upgrading (peningkatan proses), product upgrading (peningkatan produk), functional upgrading (peningkatan fungsi), dan Chain or inter-sectoral upgrading (peningkatan rantai atau antar sektor). Untuk mengetahui upaya upgrading yang dilakukan pada rantai nilai maka terlebih dahulu diidentifikasi permasalahan dan tantangan dalam rantai nilai yang diamati dengan melakukan pendekatan Diagram Fishbone (tulang ikan).
Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga proses pada dimensi struktur input-output kopi arabika di Dataran Tinggi Gayo (1) produksi, (2) pengolahan, serta (3) distribusi dan pemasaran. Aktor rantai nilai kopi organik (ekspor) terdiri dari petani, pedagang pengumpul, koperasi, eksportir. Pada rantai nilai kopi non-organik (domestik) aktor yang terlibat adalah petani, pedagang pengumpul, dan roastery. Produk kopi yang dihasilkan di sepanjang rantai nilai kopi organik adalah kopi ceri, kopi gabah, dan green bean. Sedangkan produk kopi yang dihasilkan rantai nilai kopi non-organik yaitu kopi ceri, kopi gabah, green bean, dan roasted bean. Nilai tambah produk olahan kopi yang memiliki nilai terbesar adalah roasted bean. Tata kelola (governance) rantai nilai kopi Arabika Gayo memiliki tipe tata kelola modular. Hal ini ditandai oleh tingkat kompleksitas transaksi yang tinggi, kemampuan untuk mengkodifikasi informasi tinggi, serta kapabilitas yang tinggi dari para pemasok dalam memenuhi kebutuhan pembeli. Salah satu karakteristik utama dari tata kelola modular ini adalah lemahnya asimetri kekuasaan di antara para aktor yang terlibat dalam rantai nilai, yang mencerminkan adanya distribusi kekuasaan yang relatif seimbang.
Analisis margin rantai nilai menunjukkan perbedaan antara saluran rantai nilai kopi organik (ekspor) dan non-organik (domestik). Pada saluran kopi organik petani memperoleh bagian nilai yang sangat besar, baik dari sisi laba maupun margin. Hal ini dapat disebabkan oleh harga jual kopi ceri yang relatif tinggi. Pada saluran kopi non-organik roastery memperoleh margin dan laba tertinggi melalui pemanggangan kopi. Upaya peningkatan (upgrading) dalam rantai nilai kopi arabika Gayo dapat diklasifikasikan ke dalam empat kategori. Pertama, peningkatan proses dapat dicapai melalui penerapan praktik pertanian yang baik (Good Agricultural Practices/GAP) serta meningkatkan kapasitas mesin roasting. Kedua, peningkatan produk dilakukan dengan diversifikasi produk ekspor dalam bentuk kopi roasted, dan peningkatan kualitas kopi roasted yang dipasarkan secara domestik. Ketiga, peningkatan fungsi dapat diwujudkan melalui peningkatan kapasitas dan keterampilan aktor yang terlibat dalam proses produksi dan pengolahan kopi. Keempat, peningkatan rantai dilakukan dengan memasarkan kopi organik di pasar lokal.
Collections
- MT - Economic and Management [3203]
