Respon Morfo-Anatomi Tumbuhan Mata Lele (Lemnaceae) terhadap Perlakuan Tailing Tambang Emas untuk Tujuan Fitomining Emas
Abstract
Tailing tambang emas perupakan limbah hasil pertambahan emas yang meskipun masih mengandung logam berat seperti Pb, Ag, dan Cd, juga masih mengandung emas meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah. Fitomining merupakan salah satu metode yang ramah lingkungan dan dapat dilakukan untuk mengekstrak kembali logam mulia termasuk dari tailing tambang emas. Tumbuhan mata lele (Lemnaceae) merupakan tumbuhan yang berpotensi sebagai kandidat untuk fitomining karena memiliki kemampuan untuk mengakumulasi emas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui respon morfo-anatomi tumbuhan mata lele yang ditumbuhkan pada media tailing tambang emas untuk tujuan fitomining emas. Tumbuhan mata lele (Landoltia punctata dan Lemna aequinoctialis) yang telah diadaptasi pada media Hoagland full strength selama 2 minggu kemudian ditumbuhkan pada media yang mengandung tailing 0, 100, 250, dan 500 gram serta media yang mengandung emas murni 138 parts-per million (ppm) sebagai kontrol positif. Respon morfologi dan anatomi tumbuhan selanjutnya diamati untuk mengetahui respon tumbuhan tersebut untuk tujuan fitomining. Hasil yang diperoleh yaitu tumbuhan mata lele (L. punctata dan L. aequinoctialis) yang diberi perlakuan tailing tambang emas dan emas murni yang ditambahkan dalam larutan Hoagland selama 7 hari penanaman mengalami cekaman yang menyebabkan perubahan pada morfologi dan struktur anatominya dan mengalami klorosis pada frond sehingga tumbuhan mati pada hari ke-7. Pada perlakuan dengan emas murni selama 7 hari, tumbuhan mata lele mengalami perubahan warna frond menjadi ungu yang merupakan fenomena Localized Surface Plasmon Resonance (LSPR), yang menunjukkan terjadinya pembentukan partikel nano dari emas. Pada perlakuan tailing, perubahan morfologi pada kedua spesies dengan masing-masing perlakuan menunjukkan hasil yang bervariasi, sedangkan perubahan anatomi yang mencakup ketebalan frond, mesofil, serta epidermis atas dan bawah menujukkan nilai paling tinggi pada perlakuan tailing 250 gram pada spesies L. punctata. Gold mine tailings are wastes from gold mining that contain heavy metals such as Pb, Ag and Cd, even though they also still contain gold, albeit in very low concentrations. Phytomining is an environmentally friendly method that can be used to recover precious metals from gold mine tailings. The duckweed plant (Lemnaceae) is a potential candidate for phytomining due to its ability to accumulate gold. The purpose of this study was to determine the morpho-anatomical response of the duckweed plant grown on gold mine tailings media for the purpose of gold phytomining. Duckweed plants (Landoltia punctata and Lemna aequinoctialis) acclimated to Hoagland full strength media for 2 weeks were then grown on media containing 0, 100, 250, and 500 grams of tailings and media containing 138 parts-per million (ppm) of pure gold as a positive control. The morphological and anatomical responses of the plants were then observed to determine the response of the plants to phytomining. The results showed that duckweed plants (L. punctata and L. aequinoctialis) treated with gold mine tailings and pure gold added to Hoagland's solution for 7 days experienced stress that caused changes in their morphology and anatomical structure and chlorosis in the frond, and finally the plants died on the 7th day. In the treatment with pure gold for 7 days, the duckweed plant experienced a change in frond color to purple due to the effect of Localized Surface Plasmon Resonance (LSPR), which indicates the formation of nano particles from gold. In the tailing treatment, morphological changes in both species with each treatment showed different results, while anatomical changes such as frond, mesophyll, also upper and lower thickness showed the highest value in the 250 grams tailings treatment in the L. punctata species.
Collections
- UT - Biology [2401]
