Strategi Pengembangan Industri Hilir Minyak Laka (Chasewnut Shell Liquid) Dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Jepara
View/ Open
Date
2006Author
Sihkadarmanti, Hulda Widi
Marimin
Harjanto, Nazir
Metadata
Show full item recordAbstract
Perekonomian Indonesia masih menampilkan sisi yang kurang menggembirakan dan kondisi yang perlu menjadi pertimbangan utama dalam memilih strategi industrialisasi, peningkatan kesempatan kerja, peningkatan pendapatan, serta peningkatan devisa negara, selain itu bersamaan pula dengan upaya menekan impor yang menguras devisa dapat diwujudkan, maka pilihan industrialisasi yang dianggap tepat adalah industri yang berbasis pertanian (agroindustri). Alasan yang kuat untuk mengangkat agroindustri sebagai sektor utama dalam industrialisasi di Indonesia adalah untuk membantu komoditas pertanian dimana sebagai barang primer, yang apabila produksi tinggi maka harga menjadi rendah atau sebaliknya. Salah satu sub sektor pada sektor pertanian adalah sub sektor perkebunan. Sub sektor ini semakin penting dalam meningkatkan pertumbuhan perekonomian nasional, mengingat makin terbatasnya peranan minyak bumi yang selama ini. merupakan sumber utama devisa negara. Salah satu komoditas perkebunan yang cukup penting dalam menyumbang perolehan devisa negara adalah jambu mete (Anacardiun occidentale Linn). Pengembangan agroindustri jambu mete yang memberikan nilai tambah lebih besar disamping berupa hasil olahan gelondong mete menjadi kacang mete sangat diperlukan untuk menghilangkan kelesuan petani jambu mete. Salah satu industri yang dapat dibangun adalah industri hilir minyak laka (CNSL) mengingat saat ini kulit mete masih dianggap limbah, demikian juga di Kabupaten Jepara. Hasil pengkajian menunjukkan adanya peluang pasar untuk pengembangan industri hilir minyak laka, maka pengembangan industri ini memerlukan analisis yang baik. Berdasarkan hal ini maka diperlukan suatu desain prototipe yang dapat membantu dan menjadi acuan dalam pembuatan/implementasi Sistem Penunjang Keputusan (SPK). Sistem Penunjang Keputusan ini dapat membantu dalam pengambilan keputusan rencana pengembangan industri hilir minyak laka, dengan pertimbangan tetap terjadinya harmonisasi antara unsur-unsur yang terkait. Sistem penunjang keputusan membantu pengambil keputusan memilih berbagai alternatif keputusan yang merupakan hasil pengolahan informasi informasi yang diperoleh atau tersedia dengan mer ggunakan model-model pengambilan keputusan tersebut. Dari hasil identifikasi masalah, jaka hal penting yang harus diketahui dan dikaji dalam perencanaan industri hilir minyak laka (CNSL) di Kabupaten Jepara adalah bagaimana perencanaan penyediaan minyak laka sebagai bahan baku untuk industri hilir minyak laka, bagaimana analisis kelayakan dar potensi usaha pengembangan industri hilir minyak laka, bagaimana strategi pengembangan industri tersebut serta desain Sistem Penunjang Keputusannya. Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka ditetapkan tujuan penelitian yaitu membuat perencanaan penyediaan minyak laka sebagai bahan baku untuk industri hilir minyak laka, menganalisis kelayakan dan potensi usaha pengembangan industri tersebut, merumuskan strategi pengembangan dan membuat desain Sistem Penunjang Keputusan industri tersebut di Kabupaten Jepara. Penelitian ini difokuskan pada pemilihan produk hilir minyak faka yang paling potensial untuk dikembangkan di Kabupaten Jepara, pemilihan metode ekstraksi minyak laka untuk memenuhi industri hilir minyak laka dan lokasi paling potensial untuk mendirikan industri tersebut. Pemilihan produk, metode ekstraksi dan lokasi didasarkan pada penilaian orang-orang yang kompeten dalam pengembangan industri hilir minyak laka di Kabupaten Jepara. Penelitian ini juga menganalisa kelayakan usaha berdasarkan aspek pasar/permintaan, aspek teknis dan teknologi, aspek sumber daya manusia dan aspek kelayakan finansial. Selain itu, hasil penelitian ini adalah berupa desain prototipe Decision Support System (DSS) berupa Diagram Aliran Data yang bisa menjadi acuan dalam membuat prototipe DSS. Analisis data yang digunakan adalah MPE, Analinis SWOT, AHP, analisis kelayakan finansial, analisis sensitivitas. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Jepara, Propins, Jawa Tengah. Penelitian dilaksanakan selama empat bolan yaitu dari bulan Maret 2006 sampai dengan Juli 2006 dengan menggunakan metode deskriptif, kuantitatif, kualitatif dan pengembangan sistem (desain prototipe). Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan pihak-pihak yang alili dalam bidang minyak atsiri/minyak laka. Data sekunder diperoleh dari studi pastaka, data dari Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten Jepara, data dari tepartemen Perindustrian dan Perdagangan serta Kantor Pusat Statistik Kabupaten Jepara. Perencanaan kebutuhan dana dilakukan secara kuantita terhadap kebutuhan dana modal tetap dan dana modal operasional. Metode prakiraan produksi dan permintaan pemasaran dihitung dengan mengganasan metode peramalan kualitatif yaitu berupa pendapat dan penilaian dari para pengusaha mebel di Kabupaten Jepara. Data hasil wawancara atau pengisian kuisioner oleh ahli diolah dengan menggunakan metode MPE untuk penyaring alternatif produk akhir minyak laka, lokasi potensial untuk industri tersebut dan juga metode ekstraksi yang paling potensial untuk dikembangkan. Selanjutnya hasil analisis SWOT digunakan untuk merumuskan strategi alternatif dalam pengembangan industri hilir minyak laka dan AHP berguna untuk menentukan strategi prioritas Berdasarkan hasil analisis kelayakan baik itu dari segi pasar, teknologi. sumber daya manusia, dan analisis finansial dapat disimpulkan bahwa industri plitur berbahan dasar minyak laka cukup potensial untuk dikembangkan di Kabupaten Jepara. Dari segi pasar, plitur sangat dibutuhkan khususnya di Kabupaten Jepara sebagai bahan untuk memperindah mebel maupun kerajinan rotan. Dari segi teknologi, maka Pemerintah dan masyarakat Kabupaten Jepara mampu mendirikan industri plitur ini dengan membeli alat ekstraksi minyak laka. Sumber daya manusia yang ada pun cukup mengingat tingginya jingkat angkatan kerja dan pengangguran yang dapat direkrut dalam industri ini. Hasil analisis finansial juga mengisyaratkan adanya keuntungan dari investasi terhadap industri plitur yaitu NPV sebesar Rp. 716.503.052,-, IRR sebesar 76% per tahun dengan discount rase 18% per tahun, PBP 1,2 tahun, dan B/C Ratio sebesar 2,98. Dari hasil analisis SWOT diperoleh tujuh alternatif strategi yaitu pola kemitraan, pembangunan sentra produk akhir CNSL, pembentukan lembaga permodalan, pembangunan pusat informasi jambu mete, perluasan areal kebun, peningkatan kualitas SDM dan teknologi, serta perbaikan kebijakan dan kelembagaan. Berdasarkan hasil pengolahan AHP didapatkan hasil bahwa strategi yang tepat untuk dikembangkan dalam rangka memberdayakan masyarakat Kabupaten Jepara melalui pengembangan industri hilir minyak aka adalah pola kemitraan. Dalam pola kemitraan ini terlibat petani jambu mete sebagai aktor
utama, Pemerintah Daerah sebagai pihak yang mengarahkan dan membimbing. pelaku industri sebagai roda penggerak industri dan lembaga penelitian sebagai penyokong dan pendukung dalam membantu masyarakat mengelola potensi daerah, peningkatan pengetahuan dan ketrampilan, pengembangan teknologi, maupun pengembangan produk baru.
Desain Sistem Penunjang Keputusan industri hilir minyak laka terdiri dari Sistem Manajemen Basis Data, Sistem Manajemen Model, Sistem Pengolahan Terpusat, dan Sistem Manajemen Dialog. Sistem Manajemen Basis Data terdiri dari delapan kelompok data yang terdiri dari Data Primer, Data Metode Ekstraksi Minyak Laka, Data Produk Akhir Agroindustri, Data Lokasi Potensial Agroindustri, Data Produksi, Data Harga, Data Finansial Agroindustri dan Data Strategi Pengembangan Industri Hilir Minyak Laka. Sedangkan Sistem Manajemen Model terdiri dari tujuh model yaitu Sub Model Pemilihan Industri Hilir Minyak Laka, Sub Model Pemilihan Lokasi Industri Hilir Minyak Laka, Sub Model Pemilihan Metode Ekstraksi Minyak Laka, Sub Model Perkiraan Kapasitas Produksi, Sub Model Penentuan Harga Produk Akhir Minyak Laka, Sub Model Kelayakan Finansial, dan Sub Model Pemilihan Strategi Pengembangan Industri Hilir Minyok Laka. Sistem Manajemen Pengolahan mengatur timbal balik antar sistem dan interaksinya sehingga akan menghasilkan aliran tata laksana sistem yang teratur sedangkan Sistem Manajemen Dialog menyediakan antar muka sehingga SPK dapat digunakan oleh pemakai/pembuat keputusan untuk melakukan simulasi sesuai dengan keadaan nyata. Beberapa saran yang dapat dilakukan dalam rangka pengembangan industri hilir minyak laka di Kabupaten Jepara adalah dengan menjalin kemitraan antara petani jambu mete, Pemerintah Daerah Kabupaten Jepara, pelaku industri, dan lembaga penelitian. Dalam pola kemitraan tersebut Pemerintah Daerah bertindak dalam membimbing dan memberi pengarahan kepacia petani jambu mete tentang teknik bercocok tanam, peningkatan mutu jambu mete, peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan-pelatihan, Pelaku industri sebagai motor penggerak industri sedangkan lembaga penelitian sebagai penyokong dan
pendukung dalam membantu masyarakat mengelola potensi daerah, peningkatan pengetahuan dan ketrampilan, pengembangan teknologi, maupun pengembangan produk hart.
Collections
- MT - Business [4062]
