Kajian Faktor-Faktor Motivasi Untuk Peningkatan Pegawai Pada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Sabang
Abstract
Sumberdaya manusia dalam berbagai organisasi termasuk lembaga pemerintah, khususnya Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Sabang yang sebagian besar pegawainya berlatar belakang pendidikan non pertanian, perlu mendapat perhatian agar terwujud kinerja pegawai yang prima. Salah satu alternatif dalam upaya meningkatkan kinerja aparatur adalah dengan meningkatkan motivasi kerjanya. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian perihal analisis motivasi dalam upaya peningkatan kinerja aparatur pada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Sabang. Adapun perumusan masalah adalah faktor-faktor motivasi apa saja yang berkorelasi dan adakah pengaruh faktor-faktor motivasi yang berkorelasi serta bagaimana program pengembangan kinerja bagi aparatur Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota sabang.
Tujuan penelitian adalah: (1) mengidentifikasi faktor-faktor motivasi yang berkorelasi pada aparatur, (2) mengetahui pengaruh faktor-faktor motivasi yang berkorelasi tersebut terhadap kinerja aparatur dan (3) merumuskan program pengembangan kinerja bagi aparatur pada Distanhut Kota Sabang.
Penelitian menggunakan metode survei dengan maksud menjelaskan fenomena melalui “explanatory/confirmatory research” untuk menerangkan hubungan antar variabel. Data primer diperoleh melalui penyebaran kuesioner dan wawancara dengan Kepala/Wakil Kepala Dinas, sedangkan data sekunder berasal dari dokumen tertulis. Penentuan jumlah aparatur contoh menggunakan rumus Slovin dan diperoleh 38 orang. Pengambilan aparatur contoh secara acak berstrata (stratified random sampling).
Teknik pengolahan data meliputi uji validitas dan realibilitas terhadap butir pertanyaan, memakai Rank Spearman dan Alpha Cronbach. Teknik Rentang Kriteria dipakai untuk menilai persepsi responden terhadap butir pertanyaan, sedangkan korelasi Rank Spearman untuk melihat hubungan faktor-faktor motivasi tersebut terhadap kinerja. Analisis varian menggunakan uji Mann-Whitney dan uji Kruskal-Wallis untuk mengetahui apakah ada perbedaan penilaian faktor-faktor motivasi yang berkorelasi terhadap kinerja berdasarkan karakteristik responden mencakup kelompok jenis kelamin, usia, pendidikan, golongan, jabatan dan masa kerja.
Hasil uji validitas terhadap 27 butir pertanyaan tentang variabel motivasi terdapat 19 butir valid (70,37 %) dan 8 butir tidak valid (29,63 %), sedangkan dari 21 butir pertanyaan tentang variabel kinerja diperoleh 20 butir valid (95,24 %) dan 1 butir tidak valid (4,76 %). Butir pertanyaan yang tidak valid diabaikan sedangkan yang valid digunakan pada proses selanjutnya.
Penilaian responden terhadap 19 butir pertanyaan yang berkaitan dengan motivasi termasuk dalam kriteria berpengaruh (14 butir), diikuti kriteria agak berpengaruh (3 butir), sangat berpengaruh (1 butir), agak tidak berpengaruh (1 butir), sedangkan kriteria tidak berpengaruh dan sangat tidak berpengaruh tidak diperoleh. Pertanyaan dengan kriteria sangat berpengaruh dan berpengaruh menjadi faktor-faktor motivasi yang berpengaruh pada aparatur, terdiri dari: (a) dapat menyelesaikan masalah, (b) pendapat diterima, (c) pekerjaan yang sesuai, (d) kebutuhan SDM/pelatihan (e) pelatihan membantu kinerja lebih baik, (f) Posisi dengan acuan disiplin pendidkan, (g) hak-hak kepegawaian, (h) jabatan mengutamakan SDM internal, (i) konsultasi tugas pekerjaan, (j) dukungan atasan, (k) meluangkan waktu menyelesaikan pekerjaan, (l) ruangan yang rapi, (m) kebersihan ruang kerja selama ini, (n) keamanan dan jaminan dokumentasi di ruang kerja (o) tunjangan khusus dan honor kegiatan.
Penilaian responden terhadap 20 butir pertanyaan tentang kinerja terdapat kriteria baik (13 butir), agak baik (5 butir), agak tidak baik (2 butir), sedangkan sangat baik (SB), tidak baik (TB) dan sangat tidak baik (STB) tidak diperoleh. Penilaian agak baik dan agak tidak baik terdiri dari : (a) hasil pekerjaan tidak mendapat koreksi atau teguran, (b) memberi saran atau pendapat tanpa diminta, (c) memintan bantuan orang berkaitan dengan pekerjaan saya, (d) pengetahuan mengenai jenis pekerjaan, (e) mengutamakan tugas kantor dan (f) memanfaatkan waktu senggang dengan membaca serta (g) menyelesaikan pekerjaan.
Faktor-faktor motivasi yang berpengaruh pada aparatur dan berkorelasi terhadap kinerja dengan signifikansi pada = 0,05 untuk faktor motivator terdiri dari: (a) dapat menyelesaikan pekerjaan ( = 0,388/ kategori hubungan rendah), (b) pekerjaan yang sesuai (0,437/sedang). Untuk faktor hygiene terdiri dari: (a) posisi sesuai dengan acuan disiplin pendidikan 0,383/rendah), (b) hak-hak kepegawaian terselenggara dengan baik (0,352/rendah), (c) ruangan yang rapi (0,397/rendah), (d) keamanan dan jaminan dokumentasi di ruang kerja (0,398/rendah).
Faktor-faktor motivasi yang berkorelasi terhadap kinerja berdasarkan kelompok jenis kelamin terdapat perbedaan pada pekerjaan yang sesuai. Berdasarkan kelompok pendidikan terdapat perbedaan pada pekerjaan yang sesuai, sedangkan berdasarkan kelompok usia, golongan, jabatan dan masa kerja tidak terdapat perbedaan.
Rekomendasi yang diberikan dalam kaitannya dengan faktor-faktor motivasi untuk pengelolaan kinerja pegawai sebagai berikut: (1) dapat menyelesaikan pekerjaan tanpa memandang perbedaan karakteristik pegawai, (2) memberi kesempatan dan mendorong pegawai untuk dapat menunjukkan kemampuannya dalam menyelesaikan pekerjaan tanpa harus memperhatikan perbedaan karakteristik pegawai, (3) memberi posisi dengan acuan disiplin pendidkan tanpa membedakan karakteristik pegawai, (4) memenuhi hak-hak tanpa membedakan karakteristik pegawai, (5) menjaga ruangan agar tetap rapi tanpa membedakan karakteristik pegawai, (6) jaminan keamanan dokumen-dokumen diruangan kerja tanpa membedakan karakteristik pegawai.
Kinerja pegawai yang perlu mendapat perhatian sehingga menjadi baik atau sangat baik, yaitu: (1) mutu pekerjaan, berupa hasil pekerjaan yang seharusnya tidak mendapat koreksi atau teguran dari atasan langsung ternyata belum sesuai dengan yang diharapkan. Untuk ini perlu ditingkatkan kemampuan eselon IV dan III dalam mengoreksi atau mengontrol hasil pekerjaan baik yang bersifat fisik maupun administrasi secara berjenjang sehingga hasil pekerjaan dapat diterima atau tidak ditolak oleh pimpinan, (2) Inisiatif dalam bentuk: (a) memberi saran atau pendapat tanpa diminta atasan langsung, dengan cara mendorong pegawai untuk lebih berani dan mampu memberi saran serta menyatakan kepada pegawai tersebut bahwa saran yang diberikan dapat diterima dan (b) meminta bantuan orang lain mengerjakan pekerjaan yang menjadi tugasnya dengan cara konsultasi terhadap pimpinan atau diskusi sesama pegawai, (3) pengetahuan tentang pekerjaan, dalam bentuk pengetahuan mengenai jenis pekerjaan dengan cara melakukan sosialisasi berupa pembagian dokumen renstra pada seluruh pegawai terutama untuk eselon III dan IV dan mengintensifkan pembinaan oleh masing-masing atasan langsung secara berjenjang, (4) tanggung jawab, dalam bentuk mengutamakan tugas kantor di atas tugas keluarga atau tugas di luar kantor sehingga diperlukan aturan yang tegas, (5) pemanfaatan waktu, dalam bentuk memanfaatkan waktu yuntuk membaca pada waktu senggang, memanfaatkan waktu untuk belajar kepada teman sekantor dan menyelesaikan tugas. Untuk ini perlu disediakan ruangan khusus sebagai ruang perpustakaan yang dilengkapi dengan jenis bacaan yang berkaitan dengan pekerjan.
Collections
- MT - Business [4063]
