Strategi Pengembangan Bisnis Mikro Bank Edo
View/ Open
Date
2004Author
Awaludin, Edy
Gumbira-Said, E
Saptono, Imam Teguh
Metadata
Show full item recordAbstract
Krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak tahun 1997 menyebabkan hampir seluruh sektor perekonomian di Indonesia lumpuh, khususnya usaha-usaha konglomerasi yang selama ini mampu menjadi penyangga dan menguasai sebagian besar perekonomian Indonesia. Namun demikian diantara sekian banyak sektor ekonomi yang lumpuh, masih terdapat usaha yang mampu eksis tanpa banyak dipengaruhi oleh krisis ekonomi yang terjadi, yaitu sektor bisnis mikro dan kecil atau lebih disebut UMK. Meski ada juga diantara pengusaha mikro dan kecil yang terkena dampak krisis ekonomi namun dalam waktu cepat mampu bangkit kembali untuk berusaha sehingga tetap eksis sampai saat ini.
Bank Swasta Asing yang fokus bisnisnya selama ini bergerak di sektor korporasi terlihat mulai ikut serta berkiprah di bisnis mikro, antara lain Citibank, ABN Amro, dan Standar Chartered. Demikian pula dengan beberapa Bank Swasta Nasional seperti BCA, Danamon, dan lainnya yang mulai memperluas pasarnya, disamping beberapa Bank BUMN yang selama ini mengedepankan bisnis korporasi, pada akhirnya mulai mengembangkan dan fokus kembali pada bisnis mikro.
Faktor lain yang juga berperan adalah kebijakan pemerintah yang mulai menjadikan bisnis mikro, kecil dan menengah sebagai salah satu usaha yang perlu dikembangkan dan didukung dengan berbagai kebijakan. Kondisi keberpihakan pemerintah terhadap bisnis mikro, kecil dan menengah juga tidak terlepas dari potensi bisnis UMKM yang sangat besar dari sisi jumlah serta dampaknya yang positif bagi perkembangan sektor riil.
Bank EDO sebagai salah satu Bank BUMN yang selama ini lebih memfokuskan diri pada skala usaha korporasi, dengan terjadinya krisis mengalami kerugian yang relatif besar karena kredit yang diberikan menjadi bermasalah dan macet. Hal ini mengharuskan Pemerintah sebagai pemilik modal terbesar atas bank ini, menyuntikkan tambahan modal dalam bentuk dana rekapitalisasi dengan disertai berbagai persyaratan dan ketentuan yang harus dipatuhi oleh manajemen Bank EDO.
Atas dasar hal-hal tersebut di atas dan dengan berbagai pertimbangan antara lain untuk meraih pendapatan yang lebih besar, menciptakan keseimbangan bisnis antara yang kecil dengan yang besar, menghindari terjadinya kerugian lebih jauh apabila kembali terjadi krisis ekonomi yang berkepanjangan maka dikembangkanlah suatu konsep bisnis yang dikenal dengan nama Bisnis Mikro Banking.
Sehingga untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif terhadap Bisnis Mikro Bank EDO maka dilakukan Penelitian ini dengan tujuan: (1) Mengidentifikasi faktor-faktor yang merupakan peluang dan ancaman yang dihadapi oleh Bank EDO secara eksternal dalam mengembangkan bisnis mikro. (2) Mengidentifikasi faktor-faktor yang merupakan kekuatan dan kelemahan yang ada pada Bank EDO secara internal dalam mengembangkan bisnis mikro. (3) Mengetahui strategi usaha mikro banking Bank EDO yang paling tepat di masa datang.
Setelah dilakukan penelitian dengan menggunakan metode deskriptif dan analisis data dengan matrik EFE dan EFI, matrik IE serta analisis SWOT, hasilnya memberikan gambaran sebagai berikut:
1. Berdasarkan analisis eksternal diperoleh beberapa peluang pada bisnis mikro yakni: UKM mulai tumbuh, Komitmen pemerintah terhadap UKM, UU Pemda No. 22/1999 tentang otonomi daerah, indikator pertumbuhan ekonomi positif, Perkembangan teknologi, Pertumbuhan angkatan kerja yang positif, dan penurunan suku bunga SBI, sedangkan ancaman yang dihadapi adalah pengenaan pajak daerah untuk menambah PAD, kebijakan pemerintah tentang tarif listrik, Kebijakan tentang BBM, kebijakan pemerintah mengenai impor kebutuhan pokok, faktor supremasi hukum, iklim demokrasi yang terkesan mengedepankan kekuatan sosial masyarakat, faktor keamanan yang belum stabil, masih rendahnya informasi tentang bisnis mikro dan pasar belum terdidik dalam pemanfaatan jasa bank. Faktor eksternal tersebut selanjutnya dianalisis dengan menggunakan matrik EFE, dan didapatkan nilai totalnya adalah 2,85. Ini berarti bahwa total nilai yang dihasilkan Bank EDO relatif baik dalam menghadapi perkembangan lingkungan eksternalnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa Bank EDO dapat memanfaatkan peluang dan mampu menghindari ancaman yang ada.
2. Analisis internal melalui pendekatan fungsional dihasilkan kekuatan Bank EDO yakni jaringan kerja yang tersebar luas, promosi yang gencar yang berkaitan dengan bisnis mikro, kemampuan memberikan kredit mikro dalam jumlah besar dibanding target yang ditetapkan, komitmen pada pengembangan SDM, Kemampuan SDM dalam mengelola bisnis mikro, dan kemampuan keuangan perusahaan dan modal kerja, sedangkan kelemahannya adalah penerapan manajemenen resiko belum optimal, perubahan budaya kerja agak lambat, system dan prosedur belum seluruhnya berorientasi pada konsumen, pemanfaatan teknologi masih terbatas, system teknologi belum terdesentralisasi dan kewenangan petugas mikro belum terdesentralisasi secara optimal. Faktor internal tersebut dianalisis dengan menggunakan maktrik EFI dan secara keseluruhan hasilnya sebesar 2.77 yang berarti bahwa secara internal posisi Bank EDO cukup kuat.
3. Dengan menggunakan alat analisis berupa matrik Eksternal Internal posisi Bank EDO berada pada sel V, yang masuk dalam kategori strategi pertahankan dan pelihara artinya bahwa hasil analisis ini menyebabkan Bank EDO harus mengacu pada strategi umum yang harus dilakukan apabila berada pada strategi pertahankan dan pelihara adalah melakukan penetrasi pasar dan mengembangkan produk.
4. Dari matrik SWOT didapatkan tiga alternatif strategi yaitu penetrasi pasar, pengembangan pasar, dan pengembangan produk.
Analisis data tersebut menghasilkan beberapa alternatif strategi yang dapat dilaksanakan oleh Bank EDO dalam mengembangkan bisnis mikro sehingga untuk menghasilkan keputusan strategi dapat menggunakan matrik QSPM dengan urutan strategi dan implementasinya di unit operasional sebagai berikut.
1. Strategi Penetrasi Pasar dilakukan dengan cara melakukan kerjasama dengan departemen dan instansi-instansi lain yang peduli dalam pengembangan bisnis mikro.
2. Strategi Pengembangan Produk dilakukan melalui (a) Menciptakan dan mengembangkan system kebijakan bisnis Mikro yang mencakup produk, SDM, pemasaran dan lainnya yang disesuaikan dengan karakter bisnis mikro dan (b) Memperluas jangkauan pasar yang potensial dengan bentuk penciptaan skim yang dapat mendorong bisnis mikro melalui “organic growth” maupun “unorganic growth”.
3. Strategi Pengembangan Pasar dilakukan melalui (a) Memperluas wilayah operasional dengan penambahan jumlah outlet ULM pada sejumlah wilayah/daerah yang mempunyai potensi bisnis untuk pengembangan bisnis mikro. (b) Sosialisasi dan evaluasi yang berkesinambungan terhadap perkembangan bisnis mikro dan (c) menciptakan segmen pasar baru, terutama ditujukan bagi konsumen yang cukup concern dengan masalah pricing / bunga dan (d) membuka peluang bisnis mikro melalui aliansi strategis dengan lembaga-lembaga keuangan dan lembaga non keuangan.
Collections
- MT - Business [4063]
