Arsitektur Strategik Pt. Joro
Abstract
Kendala-kendala dalam pertanian hidroponik berupa biaya investasi yang besar, BEP yang relatif lama bagi petani karena pengaruh dari biaya-biaya infrastuktur yang meningkat, kebiasaan petani yang akrab dengan pola pertanian tradisional dan adanya isu mengenai pertanian organik mempengaruhi perkembangan bisnis pertanian hidroponik yang menggunakan pupuk kimiawi.
Kendala-kendala di atas mempengaruhi jalannya bisnis pada perusahaan-perusahaan yang bergerak dibidang pertanian hidroponik. PT. Joro adalah salah satu dari perusahaan-perusahaan yang bergerak di bisnis tersebut. Perusahaan ini berbisnis sebagai penyedia dan penjual saprotan hidroponik. Upaya yang dapat dilakukan perusahaan untuk dapat mengantisipasi kendala-kendala tersebut adalah dengan mengetahui kemampuan internal dan eksternal perusahaan untuk dan mengetahui bagaimana bentuk persaingan pertanian hidroponik ini dimasa datang. Dengan demikian perusahaan dapat membuat kebijakan-kebijakan dalam menghadapi persaingan nanti yang disusun dalam arsitektur strategik.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan yaitu 1). Mengidentifikasi kinerja PT. Joro, 2). Merumuskan kompetensi inti PT. Joro, 3). Memetakan intensitas persaingan industri pertanian hidroponik, 4). Menetapkan posisi perusahaan dan strategi korporat yang bisa dipakai melalui EFE (External Factors Evaluation) dan IFE (Internal Factors Evaluation) dan 5). Menyusun arsitektur strategik PT. Joro.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif-kuantitatif. Data berasal dari internal perusahaan dan eksternal perusahaan yaitu dari instansi-instansi terkait (Badan Pusat Statistik, Departemen Pertanian dan Departemen Perindustrian dan Perdagangan), literatur, internet dan lain-lain. Data yang digunakan untuk penelitian ini meliputi data primer dan sekunder. Pengumpulan data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan menggunakan kuesioner kepada manajemen perusahaan sedangkan pengumpulan data sekunder diperoleh melalui data yang sudah ada baik dari perusahaan, instansi-instansi terkait, literatur, internet dan lain-lain. Sampel ditentukan secara sengaja (purposive sampling dengan judgment sampling) yang terdiri dari pimpinan manajemen perusahaan. Dipilih sebanyak empat manajer dari perusahaan yaitu manajer operasional yang merangkap manajer impor, manajer konsultasi, manajer finansial - administrasi, dan manajer penjualan. Data diolah dan dianalisis dengan tahapan yaitu 1). Mendiskripsikan visi-misi-tujuan PT. Joro, 2) Melakukan analisis lingkungan internal dengan a. Melakukan analisis Balanced Scorecard (mengkaji kinerja perusahaan dan mengkaji faktor kekuatan dan kelemahan (matriks IFE/Internal Factors Evaluation) perusahaan dari variabel-variabel Balanced Scorecard. b. Mengetahui kompetensi inti perusahaan dengan analisis kompetensi inti, 3). Melakukan analisis lingkungan eksternal makro/PEST (Politik Ekonomi Sosial Teknologi) untuk mengkaji faktor peluang dan ancaman (matriks EFE/External Factors Evaluation) perusahaan, 4). Melakukan analisis eksternal mikro (five forces’ porter) untuk menentukan intensitas persaingan dalam lingkungan industri hidroponik dimana perusahaan berada, 5). Melakukan analisis matriks IE untuk memperoleh formulasi strategi bisnis di tingkat korporat yang lebih rinci, 6). Mengetahui industry foresight (tinjauan masa depan industri) PT. Joro yang dikaitkan dengan visi, misi, tujuan dan kompetensi inti perusahaan, 7). Mengetahui kesenjangan antara kondisi masa depan perusahaan dengan analisis kesenjangan (gap analysis), 8). Menyusun sasaran PT. Joro hasil dari analisis industry foresight dan gap analysis, 9). Menyusun arsitektur strategik dari hasil sasaran PT. Joro dan 10). Menyusun program kerja PT. Joro. Penelitian ini dilakukan dari November 2002 sampai Juni 2003.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja PT. Joro secara menyeluruh dari hasil analisis Balanced Scorecard adalah sedang. Urutan kinerja mulai dari yang terbaik dari keempat perspektif Balanced Scorecard adalah perspektif pertumbuhan dan pembelajaran, perspektif keuangan, perspektif proses bisnis internal dan perspektif pelanggan.
Kompetensi inti PT. Joro adalah “sebagai penyedia dan penjual saprotan hidroponik”. Aktivitas bisnis yang dilakukan PT. Joro dalam menjalankan kompetensi intinya sesuai dengan visi dan misi yang ada yaitu kemudahan administrasi keuangan kepada pelanggan, saprotan hidroponik, technical advisor, grower meeting, jaringan pemasaran dan saluran distribusi.
Intensitas persaingan industri pertanian hidroponik dalam lima tahun mendatang adalah sedang. Urutan faktor-faktor strategis dari analisis industri dari yang paling berpengaruh yaitu ancaman barang subtitusi, kekuatan tawar menawar pembeli, kekuatan tawar menawar pemasok, persaingan antar kompetitor dan ancaman pendatang baru.
PT. Joro memiliki total skor EFE (External Factors Evaluation) sebesar 2,889. Angka ini menunjukkan bahwa perusahaan mampu dalam merespon perubahaan yang terjadi di lingkungan eksternal perusahaan. Total skor IFE (Internal Factors Evaluation) PT. Joro adalah 3,061. Angka ini memiliki arti bahwa perusahaan mampu untuk memanfaatkan kekuatan yang dimilikinya dan mampu untuk meminimalkan kelemahan yang ada. Dari hasil analisis matrik internal eksternal (matriks IE) perusahaan berada pada posisi tumbuh dan bina (grow and build). Pada posisi ini strategi yang dapat diterapkan dalam strategi perusahaan adalah strategi intesif maupun strategi integratif.
Untuk menghadapi masa depan industri (industry foresight), PT. Joro menentukan sasaran untuk lima tahun ke depan (2004-2008) yang disesuaikan dengan visi dan misinya. Sasaran ini dipetakan menjadi arsitektur strategik yang kemudian dijabarkan menjadi program kerja yang dibagi menjadi caturwulan per tahunnya. Untuk lima tahun ke depan (2004-2008) PT. Joro memfokuskan pada delapan aktivitas yaitu 1). Menambah item penjualan saprotan hidroponik dengan menambah penjualan peralatan pendirian greenhouse sebanyak 10 unit / @ 5000 m2, 2). Melanjutkan upaya-upaya untuk memproduksi biology system, 3). melanjutkan upaya-upaya untuk mendirikan JAS (Joro Agro Swalayan) di Bogor, Bandung, Pasuruan dan Bodowoso, 4). Menarik konsumen hobbies, agen pertanian, sekolah dan pesantren, 5). Menambah saluran distribusi di Menado, Medan dan Palembang, 6). Memproduksi timun, melon, selada dan mawar, 7). Menambah greenhouse percontohan dan 8). Menambah training On farm dan Off farm. Strategi yang digunakan pada arsitektur strategik ini adalah strategi intensif dan integratif mengikuti hasil dari strategi korporat hasil pencocokan EFE dan IFE pada matriks internal eksternal (IE).
Hasil penelitian ini menyarankan : 1). PT. Joro perlu melakukan riset lebih lanjut terhadap kepuasan pelanggan. Mengingat hasil dari analisis Balanced Scorecard, perspektif pelanggan memiliki bobot yang paling penting namun masih memiliki nilai indeks yang menunjukkan bahwa PT. Joro belum mampu memuaskan harapan-harapan pelanggan. Cara ini dapat dilakukan mulai dengan melakukan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh bagi pelanggan terhadap produk dan pelayanan jasa dari PT. Joro. Kemudian pelanggan diminta memberikan nilai harapan terhadap faktor-faktor tersebut. Pelanggan juga diminta memberikan nilai terhadap kenyataan yang telah dipenuhi PT. Joro dari faktor-faktor tersebut. Hasil nilai harapan dan kenyataan ini kemudian dibandingkan. Dari penelitian ini akan diketahui tingkat kesenjangan antara harapan pelanggan terhadap pelayanan PT. Joro dengan kenyataan pelaksanaan pelayan tersebut di lapangan, 2). Perusahaan perlu mempertimbangkan solvabilitas, ROI, ROE dan likuiditas. Mengingat dari hasil penelitian angka solvabilitas mencapai 81% tetapi ROI hanya 8% (dibawah suku bunga saat itu yang sebesar 16,64%) dan angka likuiditas PT. Joro yang mencerminkan kemampuan perusahaan melunasi hutang yang telah jatuh tempo juga di bawah angka yang disarankan. Maka sebaiknya PT. Joro perlu hati-hati dalam manajemen keuangannya dan 3). Dari hasil analisis persaingan industri, sebaiknya PT. Joro mulai dengan serius memikirkan produk-produk subtitusi yang berkualitas dan berkuantitas bagus. Mengingat dalam analisis industri, faktor ancaman barang subtitusi memiliki rangking tertinggi. Dalam hal ini PT. Joro dapat melakukan penelitian-penelitian yang bertujuan untuk menyaingi produk subtitusi tersebut. Dengan hasil penelitian ini, diharapkan PT. Joro tetap dapat bersaing pada masa yang akan datang. 4). Dalam pengimplementasian program kerja dari hasil penelitian ini, perusahaan perlu melakukan analisis yang lebih mendalam menyangkut kebutuhan dana, alokasi sumber daya, penanggung jawab dan pengendalian program kerja.
Collections
- MT - Business [4063]
