Model Rekayasa Ulang Proses Bisnis Industri Batik Menuju Rantai Pasok Berkelanjutan Di Surakarta
View/ Open
Date
2015Author
Immawan, Taufiq
Marimin
Arkeman, Yandra
Maulana, Agus
Metadata
Show full item recordAbstract
Industri batik di Indonesia mengalami peningkatan besar pasca UNESCO
mengukuhkan Batik Indonesia sebagai Masterpieces of the Oral and Intangible
Heritage of Humanity pada tanggal 2 Oktober 2009. Beberapa kota penghasil
batik seperti Solo, Yogyakarta dan Pekalongan volume penjualannya melonjak. Di
kota Solo, volume penjualan meningkat antara 30%-50% tahun 2010 dan 200%
pada tahun 2011 (Disperindag 2012), demikian juga di Yogyakarta dan
Pekalongan dengan kisaran volume sama. Pasar batik semakin luas setelah
pemerintah menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai hari batik.
Besarnya pangsa pasar di Indonesia sangat menarik bagi negara lain,
terutama China dan Malaysia. Bila merujuk pada definisi batik, maka batik yang
bukan chanting, cap dan kombinasi keduanya disebut tiruan batik. Salah satunya
adalah batik dari China yang menggunakan mesin yang disebut batik mekanik.
Batik mekanik adalah batik cap yang dikerjakan dengan mesin. Dengan berbekal
harga murah dan motif yang menarik, tiruan batik dari China sekarang
diperkirakan telah menguasai pangsa 25% hingga 30% di Indonesia. Tentu saja ini
menjadi ancaman bagi pengusaha batik di Pekalongan, Cirebon atau Solo. Selama
tiga bulan pertama tahun 2013 (Januari-Maret), ada 159 ton tiruan batik China
yang diimpor atau senilai US$ 4.6 juta atau setara Rp 43.7 miliar (BPS 2013).
Perkembangan ini sudah mengkhawatirkan, karena mengurangi pangsa pasar batik
nasional.
Permasalahan lain yang dihadapi industri batik selain masalah ekonomi di
atas, adalah permasalahan lingkungan. Meningkatnya aktifitas pada industri batik
ini juga berdampak pada meningkatnya pencemaran limbah terutama limbah cair.
Banyaknya limbah cair yang dibuang ke sungai kurang mendapat respon positif
dari para pelaku industri ini. Apabila masalah pencemaran limbah cair ini tidak
segera diatasi, dikhawatirkan protes masyarakat sekitar pabrik dan yang berada
didekat aliran sungai semakin menguat, yang pada akhirnya pemerintah bisa
menutup perusahaan.
Tuduhan eksploitasi tenaga kerja dengan upah di bawah UMR juga menjadi
permasalahan yang dihadapi industri batik. Hal ini bisa dilihat besarnya upah yang
masih rendah, terutama di daerah kota kabupaten. Jika permasalahan upah tidak
segera disesuaikan dengan UMR, dikhawatirkan tenaga batik yang sudah
berpengalaman mendapat tawaran kerja bidang lain dengan gaji UMR, mereka
akan meninggalkan pekerjaan membatik. Padahal tenaga pembatik semakin sulit
karena rendahnya angkatan kerja muda yang tertarik menjadi pembatik.
Penelitian ini bertujuan menganalisis perusahaan dari klaster yang telah
terbentuk, merancang model integrasi SCOR ( Supply Chain Operation
Reference) dengan sistem dinamik sebagai dasar untuk membangun model,
menggabungkan metode SCOR ( Supply Chain Operation Reference), analisis
limbah cair dan analisis kesejahteraan karyawan untuk mencapai rantai pasok
berkelanjutan dengan pembobotan AHP (Analytical Hirarcy Proses) , merancang model integrasi SCOR ( Supply Chain Operation Reference), limbah cair dan
kesejahteraan karyawan dengan simulasi sistem dinamik sehingga bisa diprediksi
nilai keberlanjutan rantai pasoknya dari hasil rekayasa ulang proses bisnisnya.
Untuk mencapai keberlanjutan, maka dilakukan analisis tiga aspek, yaitu aspek
ekonomi, aspek lingkungan, dan aspek sosial. Untuk aspek ekonomi
menggunakan metode SCOR (Supply Chain Operations Reference), aspek
lingkungan menganalisis limbah cair dan aspek sosial menganalisis tingkat
kesejahteraan karyawan.
Data dihimpun dari industri batik sebanyak 124 perusahaan yang tersebar di
wilayah karesidenan Surakarta. Dari hasil klastering menggunakan metode Kmeans
diperoleh 5 klaster, yaitu perusahaan dengan tipe produksi MTS (Make To
Stock) 13 perusahaan, MTO (Make To Order) 24 perusahaan, MTS-MTO
(kombinasi Make To Stock dan Make To Order) 40 perusahaan, MTO-ETO
(kombinasi Make To Order dan Engineer To Order) 15 perusahaan dan MTSMTO-
ETO (kombinasi ketiga tipe) 32 perusahaan.
Perhitungan tingkat keberlanjutan untuk masing-masing klaster diwakili
oleh 1 perusahaan dengan metode pengambilan sampel secara acak dan apabila
perusahaan tidak bersedia diambil datanya atau data yang ada diperusahaan tidak
lengkap maka dilakukan pengambilan ulang sampel, karena diperlukan data yang
relatif banyak dan keterbukaan perusahaan untuk diambil datanya.
Hasil perhitungan tingkat keberlanjutan industri batik untuk masing-masing
klaster yaitu MTS (Make to Stock) 67.98%, MTO (Make to Order) 66.77 %,
kombinasi MTS (Make to Stock) – MTO (Make to Order) 66.27%, kombinasi
MTO (Make to Order ) – ETO (Enginer To Oder) 66% dan kombinasi MTS
(Make to Stock) - MTO (Make to Order) – ETO (Enginer To Oder) 68.35%.
Proses rekayasa proses bisnis industri batik pada penelitian ini hanya
dilakukan terhadap 1 perusahaan dari klaster kombinasi MTS (Make to Stock) –
MTO (Make to Order) sebagai sampel, karena jumlah anggota klasternya
terbanyak. Proses rekayasa bisnis menggunakan pemanufakturan ramping dan
CODP (Customer Order Decoupling Point) yang diintegrasikan dengan simulasi
sistem dinamik.
Hasil akhir simulasi tanpa menggunakan IPAL (Instalasi Pengolahan Air
Limbah), menunjukkan peningkatan nilai keberlanjutan dari yang sebelumnya
66.27% menjadi 68.60%. Dengan peningkatan ini, maka terjadi kenaikan tapi
masih berada pada kategori cukup/ fair. Sedangkan hasil simulasi dengan
penambahan IPAL, maka nilai perusahaan meningkat menjadi 82.22% yang
menjadikan perusahaan masuk dalam kategori dengan tingkat keberlanjutan bagus
/ good sustainability (75.01% - 100 %).
Collections
- DT - Business [372]
