Rancang Bangun Sistem Peningkatan Kinerja Rantai Pasok Industri Kimia Aromatik
Abstract
Daya saing industri minyak atsiri Indonesia masih rendah karena
ketidakefisienan didalam produksi dan ketidakpastian pasokan. Sistem produksi
lean dilaporkan memiliki kemampuan untuk meningkatkan efisiensi melalui
penurunan biaya, mengurangi lead time (mempercepat pengiriman) dan kualitas
yang lebih tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merancang bangun
sistem peningkatan kinerja rantai pasok industri kimia aromatik, menggunakan
model value stream mapping (VSM) Rother dan Shook yang dimodifikasi untuk
industri kimia aromatik. Kimia aromatik turunan minyak daun cengkeh digunakan
dalam penelitian ini.
VSM – current state rantai pasok minyak daun cengkeh menunjukkan
bahwa total lead time mulai dari daun cengkeh dikumpulkan hingga minyak daun
cengkeh diterima oleh perusahaan kimia aromatik adalah 34 hari, dan processing
time adalah hanya 3 hari. VSM – future state rantai pasok minyak daun cengkeh
menunjukkan bahwa total lead time dapat dikurangi menjadi hanya 16 hari. Ada
peningkatan sebesar 53 % dari kinerja rantai pasok minyak daun cengkeh.
Peningkatan kinerja ini membutuhkan rekayasa kelembagaan berupa
pembentukan Koperasi minyak daun cengkeh.
VSM – current state produksi Eugenol menunjukkan bahwa total
production lead time Eugenol adalah 33.9 hari, sedangkan total processing time
adalah hanya 5.2 hari. Production lead time adalah total waktu yang dibutuhkan
untuk merubah bahan baku menjadi produk, sedangkan processing time adalah
waktu yang diperlukan didalam proses produksi. VSM – future state Eugenol
menunjukkan bahwa total production lead time dapat dikurangi menjadi 12.2 hari,
dengan total processing time yang sama. Ada peningkatan 64 % dari total
production lead time Eugenol. Peningkatan ini dicapai melalui penerapan
produksi sistem tarik dan produksi ukuran lot kecil. VSM bisa digunakan dengan
baik untuk mengidentifikasi susut produksi di dalam proses produksi Eugenol.
VSM – current state produksi Isoeugenol menunjukkan bahwa total
production lead time Isoeugenol adalah 31.9 hari, sedangkan total processing time
adalah hanya 5 hari. VSM – future state produksi Isoeugenol menunjukkan bahwa
total production lead time dapat dikurangi menjadi 9 hari, dengan total processing
time yang sama. Ada peningkatan seebsar 72 % dari total production lead time
Isoeugenol. Peningkatan ini dicapai melalui penerapan produksi sistem tarik,
sistem kontinyu dan produksi ukuran lot kecil. VSM juga bisa digunakan dengan
baik untuk identifikasi susut produksi pada proses produksi Isoeugenol.
Berdasarkan penelitian pada sistem peningkatan kinerja rantai pasok
minyak daun cengkeh dan sistem peningkatan kinerja produksi industri kimia
aromatik yang dalam penelitian ini digunakan turunan minyak daun cengkeh,
dapat dilakukan rancang bangun sistem peningkatan kinerja rantai pasok industri
kimia aromatik. Sistem peningkatan kinerja rantai pasok industri kimia aromatik
terdiri dari dua sistem yang saling terkait, yaitu sistem peningkatan kinerja produksi industri kimia aromatik dan sistem peningkatan kinerja minyak atsiri,
yang merupakan bahan baku untuk industri kimia aromatik.
Peningkatan kinerja produksi industri kimia aromatik, yang dalam
penelitian ini digunakan kimia aromatik turunan minyak daun cengkeh dicapai
melalui penerapan produksi lean yang dimodifikasi sesuai dengan karakteristik
dari industri kimia aromatik, yaitu penerapan produksi sistem tarik, sistem
kontinyu dan ukuran lot kecil. Produksi sistem tarik dan sistem kontinyu dapat
diterapkan dengan mengkombinasikan dengan persediaan produk. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan, perusahaan kimia aromatik turunan minyak daun
cengkeh perlu membangun persediaan produk sebanyak 4 – 6 minggu penjualan.
Pada sisi pasokan, yaitu minyak daun cengkeh yang digunakan untuk
industri kimia aromatik, produksi sistem tarik hanya dapat diterapkan jika industri
kimia aromatik memiliki persediaan minyak daun cengkeh yang mencukupi.
Industri kimia aromatik membutuhkan persediaan minyak daun cengkeh sebanyak
minimal 3.6 bulan penjualan pada setiap akhir tahun. Berdasarkan perhitungan
biaya persediaan minyak daun cengkeh, biaya tambahan dari adanya persediaan
minyak daun cengkeh ini adalah sebesar Rp. 1 467 / kg minyak daun cengkeh.
Biaya persediaan minyak daun cengkeh ini relatif kecil jika dibandingkan dengan
resiko jika tidak memiliki persediaan minyak daun cengkeh, yaitu kehilangan
penjualan dan kenaikan harga minyak daun cengkeh. Jika pasokan minyak daun
cengkeh pada periode tertentu melimpah, industri kimia aromatik disarankan
untuk tetap membeli minyak daun cengkeh, meskipun rasio persediaan minyak
daun cengkeh melebihi 3.6 bulan penjualan, dengan pertimbangan biaya
persediaan yang relatif kecil.
Implikasi dari rancang bangun sistem peningkatan kinerja rantai pasok
industri kimia aromatik ini adalah (1) rekayasa kelembagaan berupa pembentukan
Koperasi minyak daun cengkeh, (2) persediaan produk sebanyak 4 – 6 minggu
penjualan pada industri kimia aromatik turunan minyak daun cengkeh, dan (3)
persediaan minyak daun cengkeh pada industri kimia aromatik sebanyak minimal
3.6 bulan penjualan pada setiap akhir tahun.
Collections
- DT - Business [372]
