Pengembangan Model Kesiapan Berubah Atribut Individu Pada Organisasi Bisnis Televisi Indonesia Yang Mengalami Transformasi Korporat
View/ Open
Date
2013Author
Saragih, Eva Hotnaidah
Hutagaol, M.Parulian
Pasaribu, Bomer
Djohar, Setiadi
Metadata
Show full item recordAbstract
Dalam menghadapi tantangan dan persaingan bisnis yang intens, setiap
organisasi bisnis dituntut untuk selalu siap berubah dan bahkan menjadi inisiator
dari perubahan pada lingkungan, yang diharapkan akan memampukan perusahaan
beradaptasi, bertahan atau bahkan memenangkan persaingan. Dalam kurun waktu
sekitar lima tahun terakhir, ada tiga perusahaan televisi swasta di Indonesia yang
melakukan perubahan transformasional di tingkat korporat. Pada organisasi yang
seperti ini seharusnya resistensi tidak sama dengan nol dan bahkan tinggi,
sehingga insiatif perubahan menjadi tidak mudah untuk diimplementasikan. Akan
tetapi pengalaman perubahan transformasional korporat pada tiga televisi swasta
nasional menunjukkan hasil yang berbeda. Perubahan di ketiga perusahaan
televisi swasta nasional tersebut berhasil diimplementasikan dan memberi hasil
berupa peningkatan kinerja perusahaan yang sangat positif.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan: 1) Menemukan atribut individu
yang signifikan dan dominan berpengaruh positif terhadap Kesiapan Berubah
pada organisasi bisnis televisi di Indonesia yang berhasil mengimplementasikan
perubahan transformasional korporat, 2) Menghasilkan rancangan model
hubungan nature of industry dengan atribut individu dan Kesiapan Berubah, 3)
Menghasilkan rancangan model hubungan antara atribut individu pemimpin dan
pelaksana dalam pembentukan kesiapan berubah dan pengembangan model
Model Kesiapan Berubah pada perspektif atribut individu untuk organisasi bisnis
televisi di Indonesia yang mengalami perubahan transformasional korporat, dan 4)
Menghasilkan alternatif bentuk intervensi yang sesuai untuk pengembangan
atribut individu dari kesiapan berubah organisasi bisnis televisi di Indonesia yang
mengalami perubahan transformasional korporat.
Berdasarkan hasil studi kualitatif menggunakan metode sensemaking
melalui kegiatan wawancara mendalam dengan pelaku perubahan pada tiga
organisasi bisnis televisi di Indonesia yang berhasil mengimplementasikan
perubahan transformasional korporat, diperoleh enam atribut individu dari
pemimpin dan sembilan atribut individu dari pelaksana, yang diperkirakan
mempengaruhi kesiapan individu di tiga organisasi bisnis tersebut untuk
berpartisipasi atau bahkan mempromosikan perubahan sehingga tercapai
keberhasilan. Berdasarkan hasil studi kuantitatif menggunakan structural equation
modeling, atribut individu yang ditemukan signifikan berpengaruh positif secara
langsung terhadap kesiapan berubah secara berurutan berdasarkan tingkat
dominansi pengaruh adalah: atribut individu Rational Thinking dari kategori Way
of Thinking, atribut individu Hope dari kategori Psychological Capital, dan enam
atribut individu dari kategori Transformational Leadership Behavior dengan
Modeling the Way sebagai atribut individu yang paling dominan dari keenam
atribut individu pemimpin.
Berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya, penelitian ini tidak
menemukan efficacy sebagai atribut individu yang signifikan berpengaruh positif
terhadap Change Readiness. Perbedaan temuan ini diduga karena adanya
perbedaan nature of industry dari obyek penelitian. Sebagian besar penelitian
sebelumnya dilakukan pada industri manufaktur dengan tingkat volatilitas yang
relatif rendah (stabil), keragaman dan kecanggihan preferensi pasar rendah,
organisasi berbasiskan kerja tangan atau manufacturing, teknologi informasi dan
komunikasi yang bersifat tradisional, keunggulan dinamik pada faktor non sumber
daya manusia, mobilitas dan daya tawar sumber daya manusia rendah, dan
perubahan organisasi yang bersifat fine-tuning. Sedangkan penelitian ini
dilakukan pada organisasi bisnis televisi dengan tingkat volatilitas yang relatif
tinggi, keragaman dan kecanggihan preferensi pasar tinggi, organisasi berbasiskan
kerja pikiran atau mentofacturing, teknologi informasi dan komunikasi yang
bersifat modern, keunggulan dinamik pada faktor sumber daya manusia, mobilitas
dan daya tawar sumber daya manusia tinggi, dan perubahan organisasi bersifat
transformasional korporat.
Penelitian ini menemukan bahwa komitmen organisasi yang dominan dari
karyawan di ketiga organisasi bisnis televisi adalah Continuance Commitment.
Secara teori, pada kondisi semacam ini lebih diperlukan pemimpin yang
berperilaku transaksional, yaitu pemimpin yang mampu memberikan apa yang
menjadi kebutuhan karyawan sebagai imbalan atas kesediaan mereka mendukung
perubahan. Pada perilaku kepemimpinan transformasional, karakteristik
pemimpin transaksional ini ditemukan kesamaannya dengan atribut individu
Modeling the Way. Hal ini menjelaskan mengapa inisiatif perubahan di tiga
organisasi bisnis televisi dapat mencapai hasil yang diharapkan, yaitu dikarenakan
pemimpin di tiga organisasi bisnis berperilaku transformasional tetapi dominan
pada atribut individu Modeling the Way. Dengan demikian gaya kepemimpinan
yang digunakan sesuai dengan komitmen terhadap organisasi yang dimiliki
karyawan.
Dengan menggunakan temuan dan hasil pengujian hipotesis dari penelitian
ini serta teori yang terkait, telah dihasilkan rancangan model hubungan atribut
individu leader dan follower dengan kesiapan berubah, yang diberi nama The
Continuum of Leader-Follower (Individual) Attributes of Change Readiness.
Model ini kemudian digabungkan dengan model Kesiapan Berubah menurut Holt
et al dengan pengembangan pada perspektif atribut individu. Untuk mempertinggi
keberhasilan manajemen perubahan, perlu dilakukan serangkaian tindakan
intervensi yang bertujuan membentuk dan mengembangkan atribut individu
Rational Thinking, Hope, Modeling the Way dan Organizational Commitment.
Tiga bentuk intervensi yang disarankan untuk dilakukan adalah: (1) melibatkan
pelaksana dalam proses penetapan sasaran yang menantang, (2) menyusun sistem
penghargaan dan dukungan yang sesuai, dan (3) membangun kontrak kerja
psikologis.
Collections
- DT - Business [372]
