Analisis Pengaruh Aliran Kas Bebas Terhadap Nilai Pemegang Saham
View/ Open
Date
2012Author
Sasongko, Hendro
Achsani, Noer Azam
Sembel, Roy
Kusumastanto, Tridoyo
Metadata
Show full item recordAbstract
Penilaian saham menjadi topik menarik banyak penelitian keuangan karena
menjadi parameter efektivitas investasi dan melibatkan berbagai pendekatan dan
metode penilaian. Pada hakekatnya pencarian difokuskan pada nilai wajar yang
menunjukkan nilai intrinsik saham sehingga memudahkan pengambilan keputusan
bagi investor. Pembentukan nilai saham tidak lepas dari informasi yang tersedia di
pasar modal. Pertanyaan yang muncul adalah, informasi apa yang dibutuhkan oleh
pelaku pasar modal. Mengacu pada Fama (1970), kandungan informasi terkait
dengan bentuk pasar efisien yang dikelompokkan menjadi bentuk lemah, bentuk
setengah kuat, dan bentuk kuat. Berbagai penelitian menunjukkan belum dicapai
kesepakatan mengenai informasi yang dapat dijadikan determinan terhadap nilai
return saham dan pasar yang efisien. Investor membutuhkan sinyal informasi
yang mampu mendukung keputusan investasi. Pertanyaan berikutnya adalah
apakah masih terdapat informasi lain yang lebih diandalkan dalam keputusan
investasi. Mengacu pada skandal perekayasaan akuntansi awal tahun 2000-an,
kebutuhan pengukuran nilai nilai pemegang saham telah bergeser dari parameter
tradisional kepada parameter yang berbasis aliran kas bebas (free cash flow)
karena parameter ini dipandang lebih transparan dan relatif sulit untuk direkayasa.
Disamping keunggulan tersebut, ternyata penggunaan parameter aliran kas bebas
juga menimbulkan masalah mengenai kebijakan dan mekanisme distribusinya
kepada para pemegang saham yang dikaitkan dengan masalah keagenan. Masalah
ini sepertinya diwakili pertanyaan yang diajukan Zingales (2000) yaitu bagaimana
membagi surplus yang dihasilkan perusahaan kepada anggotanya. Pertanyaan
selanjutnya, apakah aliran kas bebas mengandung informasi dan terdapat faktorfaktor
yang mempengaruhi kandungan informasi dari aliran kas bebas tersebut.
Tujuan penelitian ini adalah, (1) mengidentifikasi aliran kas bebas, nilai
pemegang saham beserta faktor-faktor kontekstualnya selama periode analisis, (2)
menganalisis pengaruh aliran kas bebas terhadap nilai pemegang saham tanpa
mempertimbangkan faktor kontekstual, (3) menganalisis pengaruh aliran kas
bebas terhadap nilai pemegang saham yang dimoderasi oleh set kesempatan
investasi tinggi dan rendah, (4) menganalisis pengaruh aliran kas bebas (positif
dan negatif) terhadap nilai pemegang saham yang dimoderasi leverage dan set
kesempatan investasi yang tinggi dan rendah, (5) menganalisis pengaruh aliran
kas bebas (positif dan negatif) terhadap nilai pemegang saham yang dimoderasi
oleh set kesempatan investasi dan konsentrasi kepemilikan yang tinggi dan
rendah, dan (6) menganalisis pengaruh aliran kas bebas positif tinggi terhadap
nilai pemegang saham dengan membedakan kelompok sampel yang membagikan
dividen dan kelompok sampel yang tidak membagikan dividen dividen yang
dimoderasi oleh set kesempatan investasi dan konsentrasi kepemilikan, dan (7)
melakukan sintesis hasil penelitian pengaruh aliran kas bebas terhadap nilai
pemegang saham dengan set kesempatan investasi, leverage, konsentrasi
kepemilikan dan kebijakan dividen sebagai faktor-faktor kontekstual.
Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif dengan metode analisis data
sekunder untuk memberikan gambaran kondisi arus kas bebas, nilai pemegang
saham, set kesempatan investasi, dividen, leverage dan konsentrasi kepemilikan
perusahaan dan untuk mengetahui pengaruh aliran kas bebas terhadap nilai
pemegang saham dengan faktor-faktor kontekstual set kesempatan investasi,
leverage, dividen dan konsentrasi kepemilikan pada perusahaan. Populasi dalam
penelitian ini adalah emiten saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia pada
periode 2003-2010 dan secara purposive dipilih perusahaan yang tergolong
sebagai sektor non keuangan yang secara konsisten menyampaikan laporan
keuangan audited dalam periode 2003-2010. Sampel berjumlah 184 perusahaan
yang dikelompokkan menjadi beberapa sektor.
Penelitian ini menghasilkan kesimpulan sebagai berikut, pertama, mayoritas
aliran kas bebas selama periode 2003-2010 adalah negatif, yaitu sekitar 67.9%
dari sampel penelitian. Walaupun demikian, nilai pemegang saham dan set
kesempatan investasi dalam periode yang sama, cenderung meningkat meski
sempat terjadi penurunan pada tahun 2005 dan 2008. Terdapat perbedaan aliran
kas bebas, set kesempatan investasi dan nilai pemegang saham antara periode
sebelum krisis (2003-2007) dengan periode krisis dan pasca krisis (2008-2010),
namun leverage tidak signifikan. Leverage, aliran kas bebas, set kesempatan
investasi dan nilai pemegang saham perusahaan non-BUMN lebih tinggi
dibandingkan dengan BUMN. Pengelompokan sektor berpengaruh signifikan
terhadap aliran kas bebas, leverage, set kesempatan investasi dan nilai pemegang
saham karena perbedaan karakter setiap sektor.
Kesimpulan kedua, aliran kas bebas (total) dan aliran kas bebas negatif
dapat menjadi determinan dalam penciptaan nilai pemegang saham, sedangkan
aliran kas bebas positif tidak memiliki kandungan informasi dalam penciptaan
nilai pemegang saham. Kesimpulan ketiga, tidak terbukti bahwa aliran kas bebas
berpengaruh positif terhadap nilai pemegang saham pada saat set kesempatan
investasi yang tinggi, namun terbukti adanya pengaruh set kesempatan investasi
yang tinggi sebagai pemoderasi aliran kas bebas negatif sehingga berpengaruh
positif terhadap nilai pemegang saham. Kesimpulan keempat, aliran kas bebas dan
leverage berpengaruh negatif dan sebaliknya nilai pemegang saham tahun
sebelumnya berpengaruh positif terhadap nilai pemegang saham. Pada saat set
kesempatan investasi rendah, aliran kas bebas positif memberikan pengaruh
negatif terhadap nilai pemegang saham dan leverage sebagai pemoderasi
memberikan pengaruh positif terhadap nilai pemegang saham. Sinyal yang
disampaikan melalui set kesempatan investasi yang rendah ini akan berbeda
dengan sinyal yang disampaikan bila set kesempatan investasi tinggi walaupun
pada kondisi leverage yang tinggi. Kesimpulan kelima, aliran kas bebas tidak
berpengaruh terhadap nilai pemegang saham pada saat konsentrasi kepemilikan
tinggi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa konsentrasi kepemilikan memiliki
pengaruh positif terhadap nilai pemegang saham saat set kesempatan investasi
tinggi. Kesimpulan keenam, kebijakan dividen tidak berpengaruh terhadap nilai
pemegang saham Temuan ini didukung fakta, hanya 34,9% sampel penelitian
yang membagikan dividennya, namun banyak perusahaan yang tidak membagikan
dividen yang memiliki nilai saham bagus. Hasil pengujian membuktikan
kebijakan dividen belum memberikan sinyal kuat bagi investor dalam penciptaan
nilai pemegang saham.
Kesimpulan ketujuh, penelitian ini mengkonfirmasi signaling theory dalam
penciptaan nilai pemegang saham, hanya bila sedikitnya set kesempatan investasi
menjadi faktor kontekstual yang disertakan bersama aliran kas bebas. Sinyal yang
diberikan melalui kombinasi informasi dari set kesempatan investasi, leverage,
konsentrasi kepemilikan dan kebijakan dividen, mampu menambah kualitas
informasi aliran kas bebas dalam hal pengaruhnya terhadap nilai pemegang
saham. Penelitian ini juga mengkonfirmasi keberadaan agency theory berkaitan
dengan adanya masalah keagenan pada kebijakan leverage yang memiliki
pengaruh negatif terhadap nilai pemegang saham. Set kesempatan investasi yang
tinggi hanya memberikan makna pada pengaruh aliran kas bebas negatif terhadap
nilai pemegang saham. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kebijakan dividen
tidak berdampak pada penciptaan nilai pemegang saham, yang berarti mendukung
dividend irrelevance theory dari Modigliani and Miller (1961). Keterlibatan set
kesempatan investasi yang rendah sebagai faktor kontekstual, ternyata membuat
kebijakan dividen memiliki makna yaitu memberi sinyal negatif penciptaan nilai
pemegang saham. Keterlibatan konsentrasi kepemilikan rendah pada aliran kas
bebas dalam kondisi pendistribusian dividen ternyata mampu memberikan sinyal
negatif penciptaan nilai pemegang saham, yang berarti teori dividend relevance
Gordon (1963) dan Lintner (1962) berlaku dalam pola hubungan yang negatif.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa nilai pemegang saham periode
sebelumnya merupakan salah satu faktor kontekstual yang terbukti berpengaruh
terhadap nilai pemegang saham periode sekarang, sehingga dapat disimpulkan
bahwa pasar modal di Indonesia masih tergolong pada bentuk pasar yang lemah
namun juga dapat dikategorikan sebagai bentuk pasar setengah kuat karena nilai
pemegang saham juga dibentuk oleh informasi keuangan. Hasil penelitian ini
memperkuat penelitian Penman (2001) yang menyatakan bahwa aliran kas bebas
tidak dapat dijadikan determinan bagi nilai pemegang saham karena terdapat
faktor-faktor lain yang mempengaruhi, diantaranya adalah nilai pemegang saham
periode sebelumnya. Pemilahan aliran kas bebas positif dan negatif serta set
kesempatan investasi sebagai faktor kontekstual, mampu membuat aliran kas
bebas menjelaskan lebih baik nilai pemegang saham.
Saran penelitian ini, investor harus mampu menginterpretasikan informasi
set kesempatan investasi sebagai faktor yang signifikan dalam konteks pengaruh
aliran kas bebas terhadap nilai pemegang saham. Investor harus bisa memahami
ambang batas aliran kas bebas negatif yang mampu memberi sinyal positif, karena
di luar ambang batas itu, perusahaan berpotensi mengalami financial distress.
Bagi emiten, peranan signifikan dari set kesempatan investasi dalam penciptaan
nilai pemegang saham, dapat ditindaklanjuti melalui publikasi informasi yang
relevan dengan set kesempatan investasi, seperti pertumbuhan perusahaan,
investasi, merger dan akuisisi. Bagi regulator, pemetaan kandungan informasi
yang ada pada aliran kas bebas dan faktor kontekstualnya, dapat meningkatkan
kualitas regulasi berkaitan dengan kewajiban emiten untuk menyampaikan
informasi secara akurat, lengkap, transparan dan tepat waktu sehingga dapat
menjadi batu loncatan untuk meningkatkan bentuk pasar yang efisien.
Collections
- DT - Business [372]
