Cash Holding Perusahaan Non Keuangan Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2003-2010 Determinan Dan Pengaruh Krisis Ekonomi
View/ Open
Date
2012Author
Subekti
Nuryartono, Nunung
Hakim, Dedi Budiman
Sembel, Roy
Metadata
Show full item recordAbstract
Pada beberapa tahun terakhir ini, manajemen cash holding menjadi
perhatian beberapa peneliti khususnya terkait dengan fenomena menghadapi krisis
dan determinannya. Penelitian yang dilakukan Dittmar (2008) pada perusahaan di
Amerika Serikat dalam 25 tahun terakhir cash holding meningkat dari 10% di
tahun 1980 menjadi 23% di tahun 2005. Hal yang sama dilakukan oleh Bates et
al. (2010), dari hasil penelitiannya terjadi kenaikan dari 10,5% di tahun 1980
menjadi 23,2% di tahun 2006. Kenaikan yang tinggi juga terjadi di Inggris,
dimana cash holding perusahaan meningkat dari 10% di tahun 1994 menjadi 19%
di tahun 2005 (Daher 2010). Perusahaan di Asia juga mengalami peningkatan
yang cukup tajam, dimana cash holding di tahun 1996 sebesar 6,6% meningkat
12,1 % di tahun 2006 (Lee dan Song 2010).
Penelitian ini di fokuskan kepada fenomena cash holding yang terjadi pada
perusahaan non keuangan di Bursa efek Indonesia pada periode 2003-2010.
Analisis yang digunakan adalah dengan analisis deskriptif dan analisa kuantitatif.
Analisa deskriptif digunakan untuk melakukan mapping terkait dengan fenomena
cash holding sebelum krisis dan sesudah krisis per sektor usaha maupun
perbedaan antar BUMN dan Non BUMN. Model yang digunakan untuk
mengetahui determinan cash holding dengan mengunakan variabel ukuran
perusahaan, risiko usaha, profitabilitas, peluang pertumbuhan, leverage, dividen,
risiko usaha dan modal kerja bersih dengan menggunakan persamaan regresi
dengan periode pengamatan secara keseluruhan (2003-2010). Untuk mengetahui
apakah ada pengaruh krisis global, maka ditambahkan varibel di tambahkan
dengan variabel dummy krisis. Selanjutnya untuk pengukuran pengaruh makro
ekonomi terhadap cash holding, maka menggunakan variabel makro ekonomi
yaitu inflasi, pertumbuhan PDB, suku bunga SBI, posisi kredit per sektor dan
spread kredit.
Mapping cash holding pada perusahaan non keuangan menunjukkan bahwa
terjadi kecenderungan yang meningkat terhadap cash holding sebelum dan
sesudah krisis ekonomi 2008. Cash holding perusahaan BUMN menunjukkan dua
kali lipat lebih besar dibandingkan dengan perusahaan non BUMN. Hal ini
disebabkan oleh kewajiban untuk membayar dividen dan rasio likuiditas
merupakan salah satu rasio untuk mengukur kesehatan BUMN, sehingga posisi
kas dipertahankan yang besar pada akhir periode. Jika dilihat dari sektor usaha,
maka sektor usaha consumer goods memiliki cash yang tertinggi dan yang
terendah adalah sektor agribisnis. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa
perputaran usaha mempengaruhi tinkat cash holding perusahaan. Pada periode
sebelum krisis ekonomi (2003-2007) dan periode setelah krisis (2008-2010) menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada cash holding dan
profitabilitas. Peningkatan cash holding setelah krisis global menunjukkan bahwa
manajemen perusahaan akan meningkatkan kas jika risiko usaha meningkat dan
ada motivasi manajemen untuk berjaga-jaga.
Analisa regresi menunjukkan bahwa determinan cash holding adalah
produktifitas aset (asset), profitabilitas (profit), leverage, modal kerja bersih,
Market to book asset (MTBA), inflasi, pertumbuhan PDB, posisi kredit dan
spread kredit. Produktivitas aset menunjukkan perputaran usaha, semakin tinggi
perputaran usaha maka semakin besar cash holding yang harus disiapkan,
demikian juga untuk tingkat keuntungan. Leverage memiliki hubungan negatif
terhadap cash holding menunjukkan bahwa perusahaan dalam menggunakan
pendanaan investasi memprioritaskan dana internal dulu sampai batas maksimal,
baru kemudian menggunakan dana ekternal atau hutang. Kondisi ini menunjukkan
bahwa pecking order theory dapat dibuktikan dalam penelitian ini. Modal kerja
bersih memiliki hubungan negatif dengan cash holding menunjukkan kinerja
manajemen likuiditas perusahaan. Semakin sedikit modal kerja bersih akan
mengakibatkan semakin besar cash holding, menunjukkan semakin banyak yang
dikonversi menjadi kas. MTBA merupakan ukuran persepsi pasar terhadap nilai
perusahaan. Semakin besar berarti semakin baik pasar menilai suatu perusahaan,
sehingga semakin mudah perusahaan untuk mendapatkan askes pendanaan.
Semakin muda mendapatkan akses pendanaan, maka posisi cash holding
dipertahankan ke level minimal.
Sementara itu indikator inflasi menunjukkan hubungan negatif dengan cash
holding, menunjukkan bahwa perusahaan dalam kondisi inflasi yang tinggi akan
menahan kas yang minimal dan lebih mengutamakan kepada aset non kas.
Indikator pertumbuhan PDB menunjukkan tingginya peluang usaha, semakin
tinggi peluang usaha semakin tinggi cash holding yang disiapkan. Demikian juga
untuk posisi kredit, semakin besar posisi kredit menunjukkan semakin mudah
perusahaan mendapatkan akses pendanaan sehingga semakin kecil posisi kas yang
disiapkan. Sementara spread kredit menunjukkan risiko usaha. Semakin besar
risiko usaha, maka semakin besar pula cash holding yang harus di siapkan.
Namun demikian risiko usaha yang diproksikan oleh beta saham tidak signifikan,
dalam penelitian ini menunjukkan bahwa risiko usaha yang disebabkan oleh
faktor eksternal lebih dominan mempengaruhi cash holding.
Dari analisa regresi juga menunjukkan bahwa krisis global dan kinerja
makro ekonomi berpengaruh secara signifikan terhadap cash holding. Hal ini
merupakan bukti terdapat kaitan antara kebijakan makro dengan kebijakan mikro
perusahaan. Hasil penelitian ini sangat penting bagi manajemen perusahaan dalam
pengelolaan cash holding, semakin besar risiko usaha dan semakin besar peluang
usaha dan pertumbuhan, maka semakin besar cash holding yang harus disiapkan.
Demikian juga semakin mudah perusahaan mendapatkan akses kepada pasar dan
perbankan, maka semakin sedikit cash holding yang harus disiapkan. Penelitian
ini mendukung penelitian terdahulu Opler et al (1999), Daher (2010), Saddour
(2006), Ferrera & Vilela (2004), Afza & Adnan (2011), dan Powel & Baker
(2010).
Collections
- DT - Business [372]
