Rancang Bangun Model Kelembagaan Integrasi Perencanaan Pembangunan Peternakan (Studi Kasus Swasembada Daging Sapi)
View/ Open
Date
2012Author
Ananto, Nugroho
Eriyatno
Marimin
Daryanto, Arief
Metadata
Show full item recordAbstract
Swasembada daging sapi merupakan bagian dari prioritas ketahanan pangan nasional
yang dinyatakan pada Peraturan Presiden No.5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional 2010-2014, sedangkan untuk periode pembangunan jangka
panjang telah ditetapkan pula Peraturan Presiden No. 32 Tahun 2011, tentang Master Plan
Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025. Kementerian
Pertanian telah menerbitkan Pedoman Umum Swasembada Daging Sapi Tahun 2010 yang
menetapkan sasaran swasembada dengan pemenuhan 90% kebutuhan nasional berasal dari
sumber sapi lokal Indonesia.
Secara teknis permasalahan yang dihadapi dalam pencapaian swasembada adalah
kesenjangan produksi daging domestik dengan konsumsi, pasar sapi lokal rentan pengaruh
pasar global, dan produktivitas sapi lokal yang masih rendah. Kesenjangan ini dapat dilihat
dari peningkatan jumlah impor daging sapi sebesar 11,8 ribu ton pada tahun 2004 bertahap
naik menjadi 64,1 ribu ton pada tahun 2009. Selain hal tersebut tantangan lainnya adalah
pelaksanaan swasembada yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan dengan peran
dan fungsi, terkait dalam sistem yang saling berinteraksi sebagai komponen sebuah proses,
interrelasi dalam menjalankan proses, dan interkoneksi dalam kerangka sistem yang berjalan
dinamis sesuai perubahan waktu dan kondisi lingkungannya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model kebijakan kelembagaan
integratif dan dapat memfasilitasi hubungan lintas pelaku pembangunan dalam pencapaian
tujuan swasembada. Sintesis dalam pengembangan model kebijakan ini diperlukan keahlian
multi disiplin, sehingga digunakan pendekatan system thinking dengan basis pengetahuan
dari para pakar sebagai thinking respondents. Pengolahan hasil menggunakan metoda
analysis network process (ANP), strategic assumption surfacing and testing (SAST), dan
interpretative structural modeling (ISM) yang merupakan perangkat soft system
methodology (SSM).
Dengan menggunakan teknik ANP disimpulkan bahwa keberhasilan swasembada
daging sapi nasional memerlukan prasyarat utama, yaitu integrasi perencanaan pembangunan
sektor pertanian dalam swasembada daging sapi, penataan peran kelembagaan dan
koordinasi pelaksanaan program, serta pengembangan kapasitas dan peningkatan sarana
prasarana yang menjadi fokus utama pemerintah. Melalui teknik SAST, ditemukenali asumsi
pencapaian swasembada daging sapi nasional memerlukan kebijakan tataniaga yang
kondusif, keseimbangan supply -demand, dan koordinasi tingkat kebijakan juga merupakan
hal yang penting dan besar pengaruhnya.
Penggunaan teknik ISM untuk sembilan elemen sistem, disimpulkan pada tahap
perencanaan program swasembada daging sapi nasional, Kementerian PPN/Bappenas
bersama Kementerian Keuangan memiliki daya dorong paling tinggi, sedangkan pelaku
usaha dan masyarakat peternak adalah pemangku kepentingan yang paling terpengaruh.
Kondisi yang menjadi prasyarat dicapainya perencanaan swasembada daging sapi secara
terintegrasi, yaitu tataniaga yang kondusif bagi penciptaan nilai tambah industri peternakan,
kejelasan kebijakan program sektoral peternakan rakyat, dan ketersediaan anggaran bagi penyelenggaraan pembibitan, pemulia-biakan serta pengembangan wilayah peternakan
rakyat. Sedangkan pada tahap pelaksanaan, lembaga yang paling besar peran dan
pengaruhnya adalah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, bersama Kementerian
Pertanian dan Kementerian Perdagangan.
Penelitian menghasilkan model dengan pendekatan viable system, menekankan
pentingnya peran relational capital dalam hubungan kelembagaan, serta monitoring dan
evaluasi. Selain hal tersebut juga menyarankan agar kebijakan dan pelaksanaan program
swasembada dilaksanakan dengan memperhatikan keberpihakan pada peternakan skala kecil
dan menengah, khususnya kegiatan yang diusahakan oleh peternak perorangan maupun
koperasi produksi pada tingkat desa difokuskan pada Koridor Bali dan Nusatenggara
sebagaimana ditetapkan dalam Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan
Ekonomi Indonesia Tahun 2011 - 2025.
Collections
- DT - Business [372]
