Struktur Kapital Perusahaan Perkebunan Di Indonesia, Kebijakan, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Dan Dampaknya Terhadap Kinerja Perusahaan
View/ Open
Date
2012Author
Munawar, Aang
Sanim, Bunasor
Achsani, Noer Azam
Manurung, Adler Haymans
Metadata
Show full item recordAbstract
Perusahaan perkebunan di Indonesia memiliki peran penting bagi
perekonomian nasional. Pada saat terjadi krisis ekonomi pada periode tahun 1997
yang mana banyak perusahaan mengalami kesulitan keuangan dan kebangkrutan,
pada saat itu hampir seluruh perusahaan perkebunan mencatat keuntungan yang
cukup besar akibat pelemahan rupiah. Pada tahun 2008 menurut Direktorat Jenderal
Perkebunan (2009) devisa yang dihasilkan sub sector perkebunan yang merupakan
bagian intergral dari sektor pertanian adalah sebesar US$ 22,8 milyar. Komoditi
kelapa sawit merupakan salah satu andalan komoditi pertanian Indonesia yang
pertumbuhannya sangat cepat dan mempunyai peran strategis dalam perekonomian
nasional. Salah satu hasil olahan kelapa sawit adalah minyak sawit mentah atau Crude
Palm Oil (CPO). Potensi CPO Indonesia sangat besar dan mengalami peningkatan
setiap tahunnya. Bahkan saat ini Indonesia telah menjadi produsen minyak sawit
terbesar di dunia, melebihi Malaysia. Pada tahun 2006, luas lahan sawit Indonesia
mencapai 6,1 juta ha dengan total produksi CPO sekitar 16 juta ton. Pada tahun 2007
terjadi peningkatan luas lahan menjadi 6,78 juta ha dengan produksi CPO mencapai
17,37 juta ton.
Sementara itu, pada tahun 2007 ekspor CPO mencapai 5,13 juta ton atau
sebesar 30,54% dari total produksi, sementara sisanya sekitar 11,37 juta ton atau
69,46% diolah di dalam negeri. Produk CPO sebanyak 4,50 juta ton diolah untuk
kebutuhan konsumsi minyak goreng sawit dalam negeri dan sebesar 6,87 juta ton
diekspor dalam bentuk produk olahan CPO. Pemanfaatan CPO untuk produk olahan
diantaranya yaitu oleh industri pangan (minyak goreng, margarin, shortening, cocoa
butter substitutes, vegetable ghee) dan industri non pangan seperti oleokimia (fatty
acid, fatty alcohol, gliserin) dan biodiesel.
Semenjak harga CPO dan produk perkebunan lainnya dikaitkan dengan harga
minyak bumi, maka investasi pada perusahaan perkebunan terus mengalami
peningkatan. Investasi pada perusahaan perkebunan membutuhkan dana yang besar
baik untuk tanaman (biological assets) maupun untuk aset non tanaman. Oleh karena
itu manajemen perusahaan perkebunan dituntut untuk melakukan keputusan
pendanaan yang ditunjukkan dalam struktur kapital.
Perumusan masalah dalam penelitian ini dieksplorasi dengan pertanyaan
manajemen bagaimana struktur kapital perusahaan perkebunan di Indonesia?
Perumusan masalah manajemen ini diinvestigasi secara empiris yaitu : (1) Bagaimana
keputusan kebijakan struktur kapital yang dipilih oleh manajemen pada perusahaan
perkebunan di Indonesia. (2) Faktor-faktor apa yang mempengaruhi struktur kapital perusahaan perkebunan di Indonesia. (4) Faktor-faktor apa yang mempengaruhi
kinerja perusahaan perkebunan di Indonesia.
Tujuan penelitian ini secara umum bertujuan untuk melakukan analisis
struktur kapital dan faktor-faktor yang mempengaruhi serta pengaruhnya terhadap
kinerja perusahaan perkebunan. Tujuan penelitian ini secara rinci adalah: (1)
Menganalisis keputusan kebijakan struktur kapital yang dipilih oleh manajemen pada
perusahaan perkebunan di Indonesia. (2) Menganalisis faktor-faktor yang
mempengaruhi struktur kapital perusahaan perkebunan di Indonesia. (3) Menganalisis
faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja perusahaan perkebunan di Indonesia.
Penelitian ini menggunakan data sekunder, bersumber dari ICMD dan laporan
keuangan perusahaan perkebunan BUMN dan perusahaan perkebunan swasta yang
tercatat di BEI (auditan), periode tahun 2002 – 2008. Jumlah perusahaan perkebunan
yang tergabung dalam kelompok BUMN adalah 15 perusahaan dan perusahaan
perkebunan swasta yang memenuhi kriteria adalah 7 perusahaan. Penelitian ini
menggunakan data panel untuk menguji penelitian secara empiris. Data panel
menggabungkan komponen cross-sectional dan time series, sehingga dapat
menangkap heterogenitas individu dan perubahan variabel antarwaktu.
Hasil penelitian pengujian kebijakan struktur kapital menunjukkan bahwa
pecking order teori telah terjadi pada keputusan pendanaan atas defisit baik di
perusahaan perkebunan listed dan unlisted serta pada perusahaan perkebunan berbasis
komoditas kelapa sawit dan non kelapa sawit. adalah variabel aset tetap, profitabilitas
dan status. Variabel asset tetap bertanda positif terhadap total hutang dan hutang
jangka panjang dan negatif terhadap hutang jangka pendek. Variabel profitabilitas
bertanda negatif terhadap hutang yang berarti bahwa peningkatan laba perusahaan
dapat digunakan untuk membayar hutangnya. Variabel status bertanda positif yang
berarti proporsi hutang perusahaan listed lebih tinggi dari unlisted dan terungkap
bahwa perusahaan unlisted proporsi hutang jangka pendek lebih besar dari hutang
jangka panjang.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan dengan proxy Net Profit
Margin (NPM) adalah hutang, ukuran, pertumbuhan, profitabilitas, resiko, dan
status.. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan dengan proxy Return on
Asset (ROA) adalah hutang, penjualan, profitabilitas, resiko, dan produk. Variabel
hutang dan ukuran perusahaan bertanda positif yang berarti bahwa struktur kapital
danukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan perusahaan.
Defisit kas, perubahan hutang jangka panjang, hutang, aset tetap,
pertumbuhan, profitabilitas, dan resiko berbeda nyata di status perusahaan. Perubahan
hutang jangka panjang, penjualan, aset tetap dan pertumbuhan berbeda nyata di
produk perusahaan. Struktur kapital dan net profit margin perusahaan perkebunan
listed lebih baik dari perusahaan perkebunan unlisted serta rate of return on asset
perusahaan perkebunan berbasis kelapa sawit lebih baik dari perusahaan perkebunan
berbasis non sawit.
Selanjutnya disarankan agar struktur kapital perusahaan perkebunan unlisted
perlu diperbaiki dengan cara fasilitasi pemberian kredit jangka panjang atau penerbitan obligasi melalui sinergi lembaga keuangan BUMN. Oleh karena ukuran
perusahaan berpengaruh positif terhadap struktur kapital dan kinerja, maka rencana
pembentukan holding BUMN perkebunan hendaknya segera dapat direalisasikan
untuk meningkatkan ukuran perusahaan sehingga skala ekonomis bisa dicapai.
Mengingat produk kelapa sawit diekspor dalam bentuk CPO atau produk primer,
maka fasilitasi kredit investasi industri hilir kelapa sawit mutlak diperlukan guna
meningkatkan nilai tambah dan kinerja perusahaan perkebunan di Indonesia.
Secara umum hasil penelitian empiris mengindikasikan bahwa analisis pada
berbagai industri di Indonesia yang berhubungan dengan struktur kapital
menggunakan teori trade-off, pecking order, dan signaling. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa perusahaan perkebunan di Indonesia baik BUMN maupun
perusahaan yang telah tercatat di BEI terbukti cenderung menggunakan model
pecking order. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa hanya variabel aset tetap
yang mempengaruhi secara nyata terhadap struktur kapital dan kinerja keuangan
dengan tanda koefisien positif. Selanjutnya struktur kapital berpengaruh positif
terhadap kinerja perusahaan perkebunan di Indonesia. Hasil penelitian ini memiliki
beberapa implikasi untuk pengembangan manajemen industri perkebunan di
Indonesia. Hasil penelitian ini mempunyai implikasi manajerial yaitu : (1) Motif
manajemen perusahaan perkebunan di Indonesia dalam menghadapi defisit kas lebih
mendahulukan dana internal, kemudian memilih hutang dibandingkan penambahan
modal disetor. (2) Status mempengaruhi positif secara nyata terhadap struktur kapital
dan struktur kapital berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan perusahaan
perkebunan. (3) Kementerian BUMN sebagai pengelola BUMN perkebunan
berkoordinasi dengan Kementerian terkait lebih proaktif untuk melakukan pembinaan
dan fasilitasi sinergi yang terintegrasi antara perusahaan lingkup BUMN untuk
meningkatkan daya saing BUMN perkebunan khususnya dan perusahaan lingkup
BUMN pada umumnya. (4) Kementerian BUMN lebih proaktif untuk melakukan
dukungan dan fasilitasi pemberian kredit jangka panjang atau penerbitan obligasi
dengan sinergi lembaga keuangan BUMN untuk memperbaiki struktur kapital
perusahaan perkebunan BUMN dan memacu tumbuhnya industri hilir komoditas
perkebunan sehingga menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi BUMN
perkebunan.(5) Kementerian BUMN berkoordinasi dengan Kementerian terkait untuk
melakukan regulasi peraturan dan kebijakan yang sama dengan perusahaan
perkebunan listed dalam rangka meningkatkan kinerja keuangan perusahaan yang
dimiliki negara.
Collections
- DT - Business [372]
