Pemodelan Pengaruh Kepemimpinan Kolaboratif Dan Budaya Perusahaan Terhadap Kinerja Tim: Studi Kasus Pada Pt.Jasa Marga
View/ Open
Date
2012Author
Gustomo, Aurik
Hutagaol, M.Parulian
Mangkuprawira, Sjafri
Putro, Utomo Sarjono
Metadata
Show full item recordAbstract
Kinerja suatu tim kerja memiliki peran yang sangat besar di dalam
kemajuan setiap perusahaan. Kinerja tim (team performance) merupakan faktor
penentu utama dan seringkali digunakan sebagai indikator keberhasilan suatu
perusahaan (Stashevsky dan Koslowsky 2006). Terdapat banyak faktor yang dapat
mempengaruhi kinerja tim, diantaranya budaya organisasi (Senior dan Swailes
2004) dan kepemimpinan (Miles dan Mangold 2002, Stashevsky dan Koslowsky
2006). Hersey dan Blanchard (1999) mengatakan bahwa tidak ada kepemimpinan
yang sesuai bagi semua kondisi dalam suatu organisasi tetapi kepemimpinan akan
sangat efektif apabila dapat mengakomodasi lingkungannya. Salah satu
kepemimpinan yang mengakomodasikan lingkungan tersebut adalah
kepemimpinan kolaboratif. Budaya organisasi memberikan pengaruh terhadap
kinerja tim melalui proses pembentukan kepuasan kerja dan komitmen terhadap
organisasi.
Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan suatu model pengaruh
kepemimpinan dan budaya perusahaan terhadap kinerja tim. Pemodelan ini
selanjutnya akan diujikan dengan suatu studi kasus pada perusahaan, yaitu PT.
Jasa Marga, Tbk. Hal ini sejalan dengan program perusahaan yang memiliki
program mengembangkan kepemimpinan dan budaya perusahaan ini dalam
pemetaan rencana jangka panjangnya. Indikator pengaruh kedua faktor ini
terhadap kinerja tim menjadi acuan dalam memberikan rekomendasi sub faktor
kepemimpinan kolaboratif dan tipe budaya perusahaan yang seharusnya
dikembangkan oleh perusahaan.
Tujuan penelitian dipilah atas dua hal, pertama terkait dengan upaya
mengetahui apakah terdapat hubungan antara nilai-nilai personal dengan kinerja
tim. Dan tujuan kedua untuk mengetahui pengaruh masing-masing sub faktor
dalam kepemimpinan kolaboratif dan tipe budaya perusahaan terhadap kinerja tim
sebagai hasil interaksi dari masing-masing anggota dalam tim kerja yang juga
membawa nilai-nilai personal masing-masing. Pemecahan masalah dari tujuan
pertama penelitian ini menggunakan pendekatan pemodelan analitik, yaitu Model
Persamaan Regresi Linier Berganda. Sedangkan tujuan kedua menggunakan
pendekatan sistem, yaitu Pemodelan Berbasis Agen. Kedua pendekatan ini
merupakan satu alur penelitian untuk mencapai tujuan pemodelan secara
keseluruhan. Berdasarkan nilai personal sebagai hasil penelitian tahap pertama,
para responden dikelompokkan dengan Metoda Analisis komponen utama
menjadi kelompok agen-agen dan interaksi antaragen dalam suatu lingkungan
disusun dalam bentuk algoritma pemrograman. Pada akhirnya dibuat
pemrograman komputer dengan perangkat lunak NETLOGO, dilakukan uji
sensitivitas dan menjalankan skenario simulasi.
Total kuesioner yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian tahap
pertama sebanyak 170 buah, dan yang kembali 114 kuesioner. Perumusan model
regresi linier menunjukkan bahwa dalam konteks di PT Jasa Marga, hanya empat dari duabelas variabel nilai personal yang berpengaruh signifikan meningkatkan
kinerja tim. Keempat variabel tersebut adalah rentang kekuasaaan (power
distance), kendali internal-eksternal (internal-external control), menghindari
ketidakpastian (uncertainty avoidance), dan netral-afektif (neutral-affective).
Hal ini berarti penggunaan rentang kekuasaan masih diperlukan secara
dominan. Dalam hal ini membawa pengertian dalam tim kerja perusahaan
diperlukan suatu kepemimpinan yang mampu mengatur dan memberikan
perintah-perintah secara jelas kepada para anggota timnya. Sedangkan pengaruh
signifikan dalam variabel kendali eksternal memberikan arti bahwa harmonisasi
dalam tim kerja juga penting. Kinerja tim juga dipengaruhi oleh formalitas dalam
menjalankan fungsi dalam tim kerja dengan bentuk keberadaan peraturanperaturan
yang jelas dan fokus pada pekerjaan (variabel menghindari
ketidakpastian). Kebebasan dalam mengemukakan ide atau pendapat, dan
kemampuan untuk menyatakan sikap secara jelas juga memberikan dampak
signifikan terhadap kinerja tim (variabel afektif).
Keempat nilai personal ini kemudian digunakan sebagai dasar
pembentukan karakteristik agen dalam perumusan model berbasis agen. Dua
faktor yang mempengaruhi kinerja tim, yaitu kepemimpinan dan budaya
organisasi dapat dipersepsikan berbeda oleh setiap pegawai karena karakteristik
dari masing-masing nilai personal. Interaksi antaragen akan menyebabkan
pertukaran informasi dan memungkinkan merubah persepsi masing-masing
terhadap tingkat kepentingan sub faktor kepemimpinan kolaboratif dan tipe
budaya perusahaan. Perubahan tingkat kepentingan ini akan merubah pula utilitas
setiap agen. Utilitas merupakan total jumlah dari tingkat kepentingan dan tingkat
kepuasan terhadap sub faktor kepemimpinan kolaboratif dan tipe budaya
perusahaan. Perubahan nilai utilitas akan membawa pengaruh terhadap keputusan
posisi dan tingkat komitmen peran kerja dari agen.
Penelitian tahap kedua ini mempertimbangkan empat variabel, yaitu nilainilai
personal, kepemimpinan kolaboratif, tipe budaya perusahaan, dan kinerja tim.
Variabel nilai personal mencakup rentang kekuasaaan, kendali internal – eksternal,
menghindari ketidakpastian, dan netral – afektif. Variabel budaya perusahaan
mengambil tipe-tipe budaya perusahaan berdasarkan Cameron dan Quinn (1999)
yang membagi menjadi empat tipe, yaitu kekeluargaan (clan), hirarki (hierarchy),
kompetisi (market), dan inovatif (adhocracy). Sedangkan variabel kepemimpinan
kolaboratif mencakup enam tahapan proses yaitu penilaian lingkungan bisnis
(assessing the environment), kejelasan visi dan misi (creating clarity),
membangun kepercayaan (building trust), berbagi kekuasaan dan pengaruh
(sharing power and influence), mengembangkan orang (developing people), dan
refleksi diri (self reflection).
Pengumpulan data dilakukan antara Bulan Juli 2010 sampai dengan
Februari 2011. Dari 500 kuesioner yang digunakan, diterima kembali sejumlah
257 kuesioner. Dengan menggunakan Metoda Analisis Komponen Utama
(Principal Component Analysis) pada nilai-nilai personal, pegawai PT Jasa Marga
dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok agen.
Persepsi dari semua pegawai terhadap tingkat kepentingan untuk setiap
faktor dalam kepemimpinan kolaboratif untuk menunjukkan dua bobot terbesar
dalam tingkat kepentingan faktor kepemimpinan, yaitu kejelasan visi dan misi dan
membangun kepercayaan sejalan dengan tipe dominan karakter personal para dari duabelas variabel nilai personal yang berpengaruh signifikan meningkatkan
kinerja tim. Keempat variabel tersebut adalah rentang kekuasaaan (power
distance), kendali internal-eksternal (internal-external control), menghindari
ketidakpastian (uncertainty avoidance), dan netral-afektif (neutral-affective).
Hal ini berarti penggunaan rentang kekuasaan masih diperlukan secara
dominan. Dalam hal ini membawa pengertian dalam tim kerja perusahaan
diperlukan suatu kepemimpinan yang mampu mengatur dan memberikan
perintah-perintah secara jelas kepada para anggota timnya. Sedangkan pengaruh
signifikan dalam variabel kendali eksternal memberikan arti bahwa harmonisasi
dalam tim kerja juga penting. Kinerja tim juga dipengaruhi oleh formalitas dalam
menjalankan fungsi dalam tim kerja dengan bentuk keberadaan peraturanperaturan
yang jelas dan fokus pada pekerjaan (variabel menghindari
ketidakpastian). Kebebasan dalam mengemukakan ide atau pendapat, dan
kemampuan untuk menyatakan sikap secara jelas juga memberikan dampak
signifikan terhadap kinerja tim (variabel afektif).
Keempat nilai personal ini kemudian digunakan sebagai dasar
pembentukan karakteristik agen dalam perumusan model berbasis agen. Dua
faktor yang mempengaruhi kinerja tim, yaitu kepemimpinan dan budaya
organisasi dapat dipersepsikan berbeda oleh setiap pegawai karena karakteristik
dari masing-masing nilai personal. Interaksi antaragen akan menyebabkan
pertukaran informasi dan memungkinkan merubah persepsi masing-masing
terhadap tingkat kepentingan sub faktor kepemimpinan kolaboratif dan tipe
budaya perusahaan. Perubahan tingkat kepentingan ini akan merubah pula utilitas
setiap agen. Utilitas merupakan total jumlah dari tingkat kepentingan dan tingkat
kepuasan terhadap sub faktor kepemimpinan kolaboratif dan tipe budaya
perusahaan. Perubahan nilai utilitas akan membawa pengaruh terhadap keputusan
posisi dan tingkat komitmen peran kerja dari agen.
Penelitian tahap kedua ini mempertimbangkan empat variabel, yaitu nilainilai
personal, kepemimpinan kolaboratif, tipe budaya perusahaan, dan kinerja tim.
Variabel nilai personal mencakup rentang kekuasaaan, kendali internal – eksternal,
menghindari ketidakpastian, dan netral – afektif. Variabel budaya perusahaan
mengambil tipe-tipe budaya perusahaan berdasarkan Cameron dan Quinn (1999)
yang membagi menjadi empat tipe, yaitu kekeluargaan (clan), hirarki (hierarchy),
kompetisi (market), dan inovatif (adhocracy). Sedangkan variabel kepemimpinan
kolaboratif mencakup enam tahapan proses yaitu penilaian lingkungan bisnis
(assessing the environment), kejelasan visi dan misi (creating clarity),
membangun kepercayaan (building trust), berbagi kekuasaan dan pengaruh
(sharing power and influence), mengembangkan orang (developing people), dan
refleksi diri (self reflection).
Pengumpulan data dilakukan antara Bulan Juli 2010 sampai dengan
Februari 2011. Dari 500 kuesioner yang digunakan, diterima kembali sejumlah
257 kuesioner. Dengan menggunakan Metoda Analisis Komponen Utama
(Principal Component Analysis) pada nilai-nilai personal, pegawai PT Jasa Marga
dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok agen.
Persepsi dari semua pegawai terhadap tingkat kepentingan untuk setiap
faktor dalam kepemimpinan kolaboratif untuk menunjukkan dua bobot terbesar
dalam tingkat kepentingan faktor kepemimpinan, yaitu kejelasan visi dan misi dan
membangun kepercayaan sejalan dengan tipe dominan karakter personal para pegawai, yaitu rentang kekuasaan dan menghindari ketidakpastian yang tinggi.
Hal ini berarti menggantungkan harapan yang tinggi kepada para pemimpin
perusahaan untuk menjelaskan setiap program secara detil secara operasionalnya
dan tidak berani untuk melakukan perubahan-perubahan dramatis dalam program
kerja atau bisnis perusahaan. Karakteristik ini ditunjang oleh pola kerja terutama
di kantor cabang yang lebih bersifat mengoperasionalkan kegiatan manajemen
pengumpulan tol dan manajemen lalu lintas jalan tol sehari-hari. Sedangkan
penilaian tingkat kepuasan masing-masing faktor kepemimpinan kolaboratif oleh
para agen memperlihatkan secara keseluruhan baru berada pada tingkatan cukup
puas dan tidak berbeda signifikan untuk semua faktor kepemimpinan kolaboratif.
Berdasarkan persepsi para agen untuk tingkat kepentingan tipe-tipe budaya
perusahaan menunjukkan bahwa tingkat kepentingan terbesar yang harus
dikembangkan di perusahaan dalam konteks tipe budaya perusahaan adalah tipe
kompetisi, dengan bobot 28,9%. Hal ini berarti manajemen perusahaan harus
mampu mengembangkan suatu program kerja yang bersifat kompetitif dengan
target yang tinggi dan setiap pegawai dan unit kerja dituntut untuk mencapai
target tersebut dengan hasil sempurna.
Selanjutnya simulasi berbasis agen dijalankan untuk analisis lebih lanjut
apakah akibat dari adanya interaksi dan pertukaran informasi antar agen juga
memberikan gambaran kesimpulan yang sama. Skenario simulasi disusun dengan
tujuan untuk melihat sejauh mana perubahan tingkat kepuasan terhadap atribut
kepemimpinan kolaboratif dan budaya perusahaan memberikan pengaruh kepada
kinerja tim. Untuk setiap skenario disusun sehingga terdapat kombinasi jumlah
anggota dalam unit kerja dari berbagai alternatif agen.
Hasil-hasil simulasi pemrograman menunjukkan bahwa semua skenario
simulasi memberikan hasil peningkatan persepsi kepuasan pada setiap atribut
kepemimpinan kolaboratif dan atau tipe budaya perusahaan memberikan hasil
yang merata. Pengujian hipotesis dengan Analysis of Variance membuktikan
bahwa pengaruh masing-masing atribut kepemimpinan kolaboratif terhadap
kinerja tim tidak berbeda signifikan. Demikian pula halnya pengaruh masingmasing
tipe budaya perusahaan juga tidak memberikan pengaruh signifikan
terhadap kinerja tim.
Implikasi manajerial dari analisis ini berarti bahwa perusahaan harus
memberikan prioritas yang sama dalam pengembangan masing-masing sub-faktor
kepemimpinan kolaboratif untuk mencapai hasil yang optimal dalam peningkatan
kinerja tim. Manajemen harus secara seimbang mengembangkan kemampuan
dalam penilaian lingkungan bisnis, kejelasan visi dan misi, membangun
kepercayaan, berbagi kekuasaan dan pengaruh, mengembangkan orang, dan
refleksi diri dalam kepemimpinan perusahaan. Implikasi manajerial dari analisis
ini berarti bahwa perusahaan harus memberikan keseimbangan dalam
pengembangan masing-masing tipe budaya perusahaan untuk mencapai hasil yang
optimal dalam peningkatan kinerja tim.
Collections
- DT - Business [372]
