Optimasi Proses Pembuatan Mi Pati Sagu dan Kajian Pengaruh Hidrokoloid Alami pada Mi Pati Sagu
View/ Open
Date
2024Author
Sari, Erika Meiliana
Kusnandar, Feri
Muhandri, Tjahja
Metadata
Show full item recordAbstract
Pati sagu adalah salah satu sumber bahan baku lokal yang dapat dimanfaatkan
untuk pembuatan mi pati. Mi pati (starch noodle) adalah jenis mi non terigu yang
terbuat dari pati bebas gluten dan melibatkan proses gelatinisasi dan retrogradasi
untuk membentuk struktur mi yang kokoh. Pembuatan mi sagu dapat dilakukan
dengan menggunakan teknologi yang lebih modern yaitu ekstrusi. Suhu ekstrusi
dan jumlah air yang ditambahkan pada adonan mi menjadi faktor proses yang
penting untuk dilakukan optimasi agar tercapai proses gelatinisasi pati yang
sempurna sehingga dapat menghasilkan mi sagu dengan karakteristik yang baik.
Penambahan bahan hidrokoloid dapat memengaruhi profil pasting pati sehingga
dapat memodifikasi tekstur dan meningkatkan kualitas mi. Adanya penambahan
bahan hidrokoloid diharapkan dapat menghasilkan mi sagu dengan karakteristik
yang mirip mi terigu yaitu kenyal, elastis, tidak lengket dan cooking loss rendah.
Pemanfaatan bahan hidrokoloid alami dari bahan pangan lokal, seperti kolang
kaling dan porang dapat mengurangi penggunaan hidrokoloid komersial dalam
pembuatan mi.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) melakukan optimasi proses pembuatan mi
sagu dengan metode ekstrusi pemasak-pencetak; (2) mengevaluasi pengaruh
penambahan hidrokoloid dari kolang-kaling dan porang terhadap profil pasting pati
sagu sebagai bahan baku dan karakteristik mi sagu yang dihasilkan. Optimasi
proses dilakukan untuk mendapatkan kondisi proses optimum pembuatan mi sagu
dilakukan menggunakan Response Surface Methodology (RSM) dengan rancangan
Central Composite Design (CCD). Variabel proses yang digunakan adalah suhu
ekstrusi (80–90oC) dan persen penambahan air (40–50%), sedangkan variabel
respon yang diukur adalah cooking loss dan elongasi. Bahan hidrokoloid alami yang
ditambahkan adalah kolang-kaling dan tepung porang, dengan masing-masing
konsentrasi 0,5%, 1,0%, 1,5% dan 2,0% pada tahapan analisis profil pasting,
sedangkan untuk yang ditambahkan pada pembuatan mi sagu adalah 0,5 dan 1,0%.
Komposisi kimia yang terkandung pada pati sagu diantaranya kadar air
14,06%, kadar abu 0,08%, kadar protein 1,77%, kadar lemak 0,56%, kadar
karbohidrat by difference 97,59%, serat kasar 0,01%, pati 87,15%, amilosa 40,20%
dan amilopektin 46,95%. Profil pasting pati sagu alami adalah tipe A yaitu
viskositas puncak dan breakdown yang tinggi. Kondisi proses optimum untuk
pembuatan mi sagu yang terpilih pada optimasi proses menggunakan RSM dengan
program Design Expert 13.0 (DX 13) adalah suhu ekstrusi 89oC dan jumlah
penambahan air 48% dari berat pati sagu dengan nilai desirability tertinggi yaitu
0,897. Karakteristik mi sagu yang dihasilkan berdasarakan hasil verifikasi adalah
cooking loss 13,76% dan elongasi 224,50% yang masuk dalam rentang nilai
prediksi dari program DX 13. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi proses optimum
yang direkomendasikan oleh program DX 13 dapat memprediksi nilai cooking loss
dan elongasi mi sagu.
Jenis dan konsentrasi hidrokoloid berpengaruh terhadap profil pasting pati
sagu, yaitu mengubah dari tipe A menjadi tipe B, dimana terjadi penurunan nilai
viskositas peak, through, breakdown, final dan setback yang lebih rendah dari pati
sagu alaminya. Pati sagu dengan penambahan hidrokoloid dari tepung porang
memiliki profil pasting yang lebih baik dibandingkan penambahan solid kolang
kaling. Konsentrasi 0,5% dan 1%, baik solid kolang-kaling ataupun tepung porang
dipilih sebagai konsentrasi hidrokoloid yang ditambahkan dalam pembuatan mi
sagu berdasarkan viskositas setback. Penambahan hidrokoloid dari solid kolang
kaling atau tepung porang (0,5% dan 1,0%) menghasilkan mi sagu dengan
karakteristik cooking loss, kekerasan dan kelengketan lebih rendah, serta elongasi
dan daya serap air yang lebih tinggi dibandingkan mi sagu tanpa hidrokoloid.
Penambahan solid kolang kaling atau tepung porang juga meningkatkan kecerahan
mi sagu, baik dalam keadaan kering ataupun setelah dimasak. Penambahan tepung
porang 0,5% menghasilkan mi sagu dengan karakteristik yang paling baik
dibandingkan perlakuan lainnya, diantaranya cooking loss terendah 6,18%, elongasi
307,50%, daya serap air 242,30%, kekerasan 5729,43 gf, kelengketan 38,49 gf, dan
kecerahan warna mi (lebih putih dan kekuningan). Sago starch is a local raw material that can be used to produce starch noodles.
These noodles are gluten-free and rely on the gelatinization and retrogradation of
starch to form a strong structure. Sago noodles can be produced using modern
technology such as extrusion. Optimizing the extrusion temperature and water
content in the dough is critical for achieving proper starch gelatinization, which is
necessary to produce sago noodles with desirable characteristics. Adding
hydrocolloids can influence the starch pasting profile, modifying the texture and
improving noodle quality. Hydrocolloids are specifically expected to produce
noodles with characteristics that mimic wheat noodles, such as chewiness, elasticity,
non-stickiness, and low cooking loss. Using natural hydrocolloids from local
sources, such as palm fruit and porang, can reduce the need for commercial
hydrocolloids in noodle production.
This study aimed to: (1) optimize the process of making sago noodles using
the extrusion cooking-molding method, and (2) evaluate the effect of hydrocolloids
from palm fruit and porang on the pasting profile of sago starch and the characte
ristics of the resulting noodles. Process optimization was conducted using Response
Surface Methodology (RSM) with a Central Composite Design (CCD). The process
variables included extrusion temperature (80–90°C) and the percentage of added
water (40–50%), while the response variables measured were cooking loss and
elongation. Palm fruit and porang flours were added as hydrocolloids in concen
trations of 0.5%, 1.0%, 1.5%, and 2.0% for pasting profile analysis. For noodle
production, concentrations of 0.5% and 1.0% were used.
The chemical composition of sago starch includes 14.06% water, 0.08% ash,
1.77% protein, 0.56% fat, 97.59% carbohydrates, 0.01% crude fiber, 87.15% starch,
40.20% amylose, and 46.95% amylopectin. Natural sago starch exhibits a type A
pasting profile, characterized by high peak and breakdown viscosities. The
optimum process conditions, determined using RSM with Design Expert 13.0 (DX
13) software, were an extrusion temperature of 89°C and 48% water based on the
starch weight, with a desirability value of 0.897. Verification results showed that
the produced noodles had a cooking loss of 13.76% and elongation of 224.50%,
both of which fell within the predicted range from the DX 13 program. These results
confirm that the recommended process conditions accurately predicted cooking loss
and elongation.
The type and concentration of hydrocolloids significantly affected the pasting
profile of sago starch, shifting it from type A to type B, with decreases in peak,
trough, breakdown, final, and setback viscosities compared to native starch. Sago
starch with porang flour as a hydrocolloid exhibited a better pasting profile than
with palm fruit solid. Based on setback viscosity, 0.5% and 1% concentrations of
both palm fruit solid and porang flour were selected for noodle production. The
addition of these hydrocolloids resulted in noodles with reduced cooking loss,
hardness, and adhesiveness, while improving elongation and water absorption
compared to noodles without hydrocolloids. Furthermore, the addition of palm fruit
solid or porang flour enhanced the brightness of the noodles, both in their dry form
and after cooking. Among all treatments, the addition of 0.5% porang flour yielded
the best noodle characteristics, including the lowest cooking loss (6.18%),
elongation (307.50%), water absorption (242.30%), hardness (5729.43 gf),
adhesiveness (38.49 gf), and improved noodle color (whiter with a yellowish hue).
Collections
- MT - Agriculture Technology [2430]
