Pengurangan Dampak Ghost Fishing Dengan Penerapan Biodegradable Material Pada Perikanan Bubu
Date
2024Author
Jhohan
Riyanto, Mochammad
Mawardi, Wazir
Komarudin, Didin
Metadata
Show full item recordAbstract
Ghost fishing merupakan peristiwa yang terjadi di perairan dimana alat tangkap yang hilang masih dapat menangkap ikan atau biota lainnya tanpa dapat dikontrol oleh nelayan. Salah satu alat tangkap yang paling sering berdampak menjadi ghost fishing yakni bubu lipat. Pada umumnya bubu lipat yang digunakan oleh nelayan memiliki bahan dasar polyethylene yang cenderung lebih tahan lama dan memiliki kekuatan putus yang tinggi sehingga memerlukan puluhan hingga ratusan tahun untuk dapat terurai di lautan. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mencegah ghost fishing dari alat tangkap bubu lipat bahan sintetis adalah dengan penggunaan bahan alami yang mudah terurai (biodegradable material) pada salah satu bagian konstruksi bubu. Bahan alami yang dapat digunakan diantaranya adalah tali katun. Tali katun memiliki kemuluran dan kekuatan yang baik setelah diuji tarik dan tali katun tidak mengalami perubahan struktur yang signifikan setelah diuji perendaman selama 6 bulan. Namun demikian, bahan alami ini belum diuji secara langsung pada pengoperasian alat tangkap bubu di laut. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini dilakukan. Penelitian ini bertujuan: 1) Menganalisis teknis penggunaan dan tingkat kerusakan bubu modifikasi (tali katun) dan bubu yang digunakan oleh nelayan sebagai kontrol berbahan polyethylene; 2) Membandingkan hasil tangkapan bubu modifikasi (tali katun) dan bubu kontrol; 3) Rekomendasi penerapan penggunaan bahan yang dapat terurai (biodegradable material) pada perikanan bubu rajungan.
Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode uji coba penangkapan (experimental fishing) dan literatur review. Pengumpulan data pada tujuan pertama dengan melakukan observasi langsung pada operasi penangkapan dengan melihat teknis pengoperasian, tingkat kerusakan dan tingkat kehilangan pada alat tangkap bubu. Analisis pada tujuan pertama menggunakan analisis deskriptif untuk mengidentifikasi konstruksi alat tangkap bubu, teknis pengoperasian, tingkat kerusakan dan tingkat kehilangan pada bubu kontrol dan bubu modifikasi. Pengumpulan data pada tujuan kedua menggunakan metode rancangan faktorial dengan rancangan dasar Rancangan Acak Lengkap (RAL). Uji coba penangkapan dilakukan sebanyak 30 kali trip menggunakan 500 unit bubu lipat modifikasi dan 500 unit bubu lipat kontrol. Analisis pada tujuan kedua menggunakan Uji-T dengan menggunakan aplikasi Statistical Program for Social Science (SPSS). Pengumpulan data pada tujuan ketiga yaitu dengan melihat tingkat keberhasilan penggunaan biodegradable material pada bubu saat proses pengoperasian. Analisis pada tujuan ketiga menggunakan analisis deskriptif yakni memberikan rekomendasi pada alat tangkap bubu dalam mengaplikasikan tali berbahan biodegradable.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan teknis pengoperasian kedua jenis bubu, karena bubu dipasang pada satu rangkaian tali ris utama, tingkat kerusakan pada bubu modifikasi dan bubu kontrol cenderung sama yakni kategori rusak ringan dan rusak sedang, kedua jenis bubu yang rusak masih dapat diperbaiki dan digunakan kembali. Hasil tangkapan bubu kontrol mendapatkan 10 jenis dengan jumlah total 6.165 ekor dan berat total 251,21 kg, sedangkan bubu modifikasi mendapatkan 9 jenis dengan jumlah total 6.545 ekor dan berat total 261,15 kg. Hasil tangkapan bubu lipat dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu hasil tangkapan utama (HTU) dan hasil tangkapan sampingan (HTS). Berdasarkan wawancara nelayan bahwa rajungan adalah hasil tangkapan utama dan memberikan kontribusi besar terhadap hasil pendapatan nelayan. Total jumlah rajungan yang tertangkap pada bubu kontrol sebanyak 1.110 ekor dengan berat total 129,75 kg, sedangkan total jumlah rajungan pada bubu modifikasi sebanyak 1.101 ekor dengan berat total 130,94 kg. Jumlah dan berat total rajungan pada bubu kontrol dan bubu modifikasi selama penelitian tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Hasil tangkapan sampingan yakni Gompel (Charybdis anisodon), Udang mantis (Harpiosquilla raphidea), Siput (Cypraea), Sotong (Sepia aculeata), Keong Macan (Babylonia spirata), Ikan Kerapu (Epinephelus sexfasciatus), Ikan Baronang (Siganus javus), Ikan Kerong-kerong (Terapon theraps) dan Ikan Tapi-tapi (Drepane punctata). Total berat hasil tangkapan sampingan pada bubu kontrol 121,5 kg dengan jumlah sebanyak 5.055 ekor sedangkan pada bubu modifikasi 130,3 kg dengan jumlah 5.444 ekor. Hasil tangkapan sampingan paling banyak baik secara jumlah maupun berat pada kedua jenis bubu adalah gompel. Berdasarkan hasil pengujian teknis penggunaan, tingkat kerusakan, lama perbaikan kerusakan dan kinerja teknis penangkapan bubu modifikasi memiliki kesamaan dengan bubu kontrol, hal ini berarti Bubu yang dimodifikasi pada tali panel dengan menggunakan tali katun dapat digunakan pada bubu lipat sebagai salah satu pencegah ghost fishing pada perikanan bubu rajungan setelah di uji secara langsung di lapangan.
Collections
- MT - Fisheries [3214]
