Nilai Tambah Industri Pengolahan Ayam Berbumbu (Studi Kasus di Kota Jakarta Timur)
Abstract
Kebijakan pembangunan ekonomi nasional diarahkan dalam upaya pemerataan, pemantapan, pemberdayaan pendalaman struktur, peningkatan nilai tambah, perluasan tenaga kerja serta penyebaran lokasi, didukung sistem distribusi nasional yang tangguh. Khusus sektor industri, kebijakan diarahkan melalui pengembangan pemanfaatan dan pemberdayaan usaha kecil dan menengah, dalam upaya mendorong terjadinya unit usaha baru. Kondisi tersebut menuntut 11lanusia lebih kreatif menciptakan unit usaha baru, salah satunya adalah Industri Rumah Tangga (IRT) pengolahan ayam berbumbu. Usaha ini memanfaatkan fenomena perubahan gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat Indonesia terutama masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan yaitu Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Berdasarkan Statistik Indonesia 2002 mengenai nilai tambah industri rumah tangga yang diciptakan dari berbagai sektor usaha total nilai tambah yang dihasilkan industri rumah tangga sebesar 32,61% dari total nilai tambah berasal dari industri makanan, minuman dan tembakau. Besamya nilai tambah tersebut diharapkan usaha pengolahan ayam berbumbu memberikan peningkatan nilai tambah dari pengolahan ayam pedaging, sehingga meningkatkan ekonomi masyarakat. Usaha ini termzsuk usaha yang mengolah hasil temak berupa ayam pedaging sebagai bahan baku dan bahan penolong berupa bumbu. Kendala yang sering dialami oleh unit usaha kecil dan menengah di sektor agribisnis adalah pengadaan bahan baku, permodalan, produksi dan pemasaran. Penelitian ini akan menelaah lebih lanjut bagaimana gambaran usaha dari segi bahan baku, permodalan, produksi dan pemasaran? dan seberapa besar nilai tambah dari produk olahan daging ayam berbumbu?. Penelitian bertujuan ~~ntumke ngetahui gambaran dari usaha industri rumah tangga pengolahan ayam berbumbu dari segi bahan baku, permodalan, produksi dan pemasaran. Mengetahui berapa besar nilai tambah dari produk olahan ayam berbumbu.
Collections
- UT - Agribusiness [4776]

