Faktor-Faktor yang Memengaruhi Prevalensi Stunting di Indonesia Menggunakan Geographically Weighted Regression Lasso
Abstract
Stunting adalah masalah malnutrisi kronis yang timbul akibat asupan nutrisi
yang tidak memadai dalam jangka waktu yang lama, sering kali disebabkan oleh
penyediaan makanan yang tidak tepat. Biasanya, stunting muncul pada anak-anak
di usia dua tahun dan bahkan dapat terjadi selama kehamilan. Secara global,
Indonesia menempati peringkat ke-115 dari 151 negara, dengan prevalensi sebesar
21,6% pada tahun 2022, meskipun masih di bawah standar WHO sebesar 20%.
Penelitian sebelumnya tentang determinan stunting di Jawa Timur kurang
mempertimbangkan keragaman spasial, untuk itu perlu penelitian yang
menggunakan pendekatan analisis spasial. Salah satunya dengan menerapkan
model Geographically Weighted Regression Lasso (GWRL) pada kasus prevalensi
stunting di kabupaten/kota di Indonesia pada tahun 2022. GWRL, adaptasi dari
regresi terboboti geografi dengan menambahkan penalti Lasso, menangani
multikolinearitas dan heterogenitas spasial. Data yang digunakan pada penelitian
ini mencakup 510 kabupaten/kota tahun 2022 di Indonesia, mengungkapkan ratarata
stunting sebesar 24,6 persen. Pada penelitian digunakan 1 peubah respon dan 7
peubah penjelas. Hasil analisis menunjukkan pembobot Kernel Eksponensial,
menunjukkan kekuatan penjelas yang lebih unggul (68,8%) dan tingkat kesalahan
yang lebih rendah (0,048). Pemetaan koefisien GWRL mengidentifikasi faktorfaktor
berpengaruh yang secara identik faktor kemiskinan merupakan penyebab
terhadap kejadian stunting hampir di seluruh wilayah di Indonesia yang diikuti oleh
faktor jumlah puskesmas dan kondisi gizi ibu hamil. Faktor-faktor tersebut terjadi
di kejadian stunting yang lebih dari 14% dengan daerah yang meliputi pulau Jawa,
Papua dan Sumatera.
