Karakteristik Biofisik Sarang dan Mata Rantai Perdagangan Ilegal Trenggiling (Manis javanica) : Studi Kasus di Provinsi Jawa Barat 
Abstract
Trenggiling (Manis javanica Desmarest, 1822) merupakan jenis mamalia bersisik
berstatus dilindungi yang populasinya semakin berkurang akibat perburuan dan
perdagangan liar. Saat ini, data dan informasi tentang karakteristik biofisik sarang
trenggiling di alam masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan
menganalisis karakteristik biofisik sarang M. javanica di habitat aslinya, dan
mengidentifikasi perdagangan ilegal M. javanica. Penelitian ini menggunakan metode
transek garis untuk pengamatan dan identifikasi sarang M. javanica dan analisis
komposisi vegetasi menggunakan Metode Point Centered Quarter, serta dilakukan uji
Chi-square untuk melihat hubungan antara komponen karakteristik biofisik sarang
dengan dimensi sarang. Penelitian tentang perdagangan ilegal M. javanica dilakukan
menggunakan metode snowball sampling melalui wawancara semi terstruktur. Hasil
penelitian menunjukkan jumlah lubang sarang teridentifikasi sebanyak 31 sarang pada
Resort Cikaniki dan 19 sarang di Resort Gunung Kendeng, sedangkan jumlah sarang
yang teridentifikasi pada resort Cibodas sebanyak 24 sarang dan pada resort bedogol
sebanyak 17 sarang. Sebagian besar sarang di Cikaniki dan Gunung Kendeng berada di
dalam tanah (54%) dengan vegetasi disekitarnya memiliki tajuk rapat dan sedang.
Sarang M. javanica yang dijumpai di Cibodas dan Bedogol sebagian besar (56,09%)
berada dalam lubang akar pohon besar yang sudah mulai lapuk dan bercabang. Kisaran
lebar sarang di Gunung Kendeng cenderung lebih besar (31,2-44,67 cm) dibandingkan
kisaran lebar sarang di Cikaniki (28,64-37,71 cm). Kisaran kedalaman di Gunung
Kendeng cenderung lebih dalam (58,00-88,00 cm) dibandingkan dengan di Cikaniki
(44,94-73,50 cm). Jika dibandingkan dengan kisaran kedalaman dan lebar sarang
dengan Cibodas (81,50-162,50 cm) dan Bedogol (67,88-104,66 cm), kedalaman sarang
di kedua resort ini lebih dalam daripada di Cikaniki dan Gunung Kendeng. Sarang M.
javanica di Cikaniki lebih banyak ditemukan di hutan sekunder tua, sedangkan di
Gunung Kendeng lebih banyak ditemukan di hutan sekunder dan dekat dengan
kebun/lahan pertanian. Pada ketinggian lebih dari 900 m dpl, masih dapat dijumpai
sarang trenggiling walaupun sangat jarang/sedikit di keempat lokasi penelitian. Kisaran
kelerengan Cikaniki (24,50-37,33º) dan Gunung Kendeng (16,00-20,00º) dapat
ditemukan sarang trenggiling. Komponen karakteristik biofisik dibagi menjadi kelas
kemiringan, kelas ketinggian, jumlah hewan mangsa dan jarak area kegiatan
masyarakat. Di antara keempat komponen tersebut, kelas ketinggian dan kelerengan di
TNGGP berpengaruh signifikan terhadap kedalaman sarang M. javanica (p-value 0,021
dan 0,038), sedangkan di TNGHS komponen biofisik yang berpengruh signifikan yaitu
jarak sarang ke sawah (p-value 0,043) dan jalan (p-value 0,011). Hasil penelitian mata
rantai perdagangan ilegal M. javanica menunjukkan terdapat enam jenis alur tata niaga
perdagangan ilegal M. javanica yaitu subsistence and local use (A), harvester directly
to consumer (B), restricted access (C), gatekeeper (D), market space restricted (E) dan
multiple barriers to market (F), dan didominasi oleh mata rantai A (46,15%). Dari 120
data responden untuk perdagangan trenggiling, transaksi offline merupakan bentuk
transaksi yang paling mendominasi dengan persentase 86,7%. Jenis kelamin pelaku perdagangan didominasi laki-laki (98%). Sebaran lokasi pelaku berdasarkan kategori
pemburu, perantara, hingga konsumen, di dominasi berada di Kabupaten Sukabumi
untuk lokasi asal pelaku dengan persentase 45%. Perlu dilakukan penelitian lanjutan
dengan rentang waktu yang lebih lama pada kelas ketinggian dan kelerengan yang
berbeda, dengan jumlah sampel penelitian yang lebih banyak. Selain itu, penelitian
tentang pendugaan populasi menggunakan parameter demografi juga perlu dilakukan
untuk mengetahui populasi aktual M. javanica di alam dan untuk mendukung hasil
penelitian tersebut maka perlu dipertimbangkan memasang camera trap pada lokasi
sekitar sarang M. javanica. Upaya konservasi M. javanica perlu ditingkatkan melalui
pengelolaan terhadap kawasan hutan yang teridentifikasi banyak ditemukan sarang M.
javanica, diantaranya mengidentifikasi area-area kunci yang menjadi habitat M.
javanica untuk selalu dilindungi dari aktivitas yang merusak seperti penebangan hutan
dan pertanian intensif, rutin melakukan survei untuk menentukan populasi aktual M.
javanica, meningkatkan pengawasan dan patroli di kawasan yang menjadi habitat M.
javanica untuk mencegah perburuan liar, dan melibatkan masyarakat lokal dalam upaya
konservasi dengan memberikan edukasi tentang pentingnya pelestarian M. javanica di
habitatnya.
Collections
- MT - Forestry [1513]
