Penilaian Daur Hidup Pengelolaan Sampah Perkotaan dengan Biokonversi Lalat Tentara Hitam (Hermetia illucens) di Kota Depok
Date
2024Author
Sukabudhi, R. Muchamad Irchas
Indrasti, Nastiti Siswi
Ismayana, Andes
Metadata
Show full item recordAbstract
Penelitian ini membahas dampak lingkungan yang ditimbulkan dari sistem pengelolaan sampah perkotaan dengan metode biokonversi lalat tentara hitam (Hermetia illucens) atau yang lebih dikenal sebagai black soldier fly (BSF). Pada dasarnya biokonversi merupakan metode pengelolaan sampah secara biologis dengan memanfaatkan siklus hidup alami organisme yang melakukan konversi terhadap material organik menjadi biomassa. Kondisi tersebut mendasari pengembangan biokonversi BSF sebagai metode pengelolaan sampah perkotaan yang rendah emisi. Namun, implementasi metode tersebut tidak terlepas dari timbulnya emisi yang pada akhirnya berpotensi menyebabkan dampak lingkungan.
Tujuan dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi input dan output pada sistem pengelolaan sampah perkotaan dengan metode biokonversi BSF, menghitung nilai dampak lingkungan, serta menganalisis alternatif perbaikan yang dapat direkomendasikan untuk meminimalisir dampak lingkungan. Penelitian ini bersifat studi kasus yang dilaksanakan di PT. XYZ Kota Depok, Provinsi Jawa Barat. Tahapan penelitian ini merujuk pada standar pelaksanaan metode life cycle assessment (LCA), yang terdiri dari penentuan tujuan dan ruang lingkup, analisis inventori, analisis dampak, dan interpretasi hasil. Adapun dampak lingkungan yang menjadi fokus pada penelitian ini terdiri dari pemanasan global (GWP100a), asidifikasi, dan eutrofikasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampah perkotaan dengan metode biokonversi BSF di PT. XYZ, Kota Depok terdiri dari 5 (lima) unit proses yaitu transportasi, pembiakan massal telur BSF (breeding), pengelolaan sampah dengan larva BSF (treatment), produksi larva BSF kering, dan produksi pupuk organik padat. Proses pengelolaan 1 ton sampah perkotaan diketahui menimbulkan potensi dampak lingkungan GWP100a sebesar 3,76E+02 kg CO2 eq, eutrofikasi sebesar 2,73E+00 kg PO43- eq, dan asidifikasi sebesar 7,61E-01 kg SO2 eq. Hasil penghitungan nilai normalisasi menunjukkan bahwa eutrofikasi merupakan dampak yang paling signifikan timbul dari sistem. Emisi penyebab potensi dampak lingkungan tersebut berasal dari input meliputi penggunaan kemasan LDPE, listrik, kemasan aluminium foil, dedak, LCV, kompos, dan solar; serta output meliputi limbah padat, limbah cair, dan emisi dari proses.
Berdasarkan kondisi tersebut, maka skenario perbaikan yang dapat direkomendasikan adalah mengimplementasikan perlakukan awal terhadap sampah perkotaan, substitusi sumber energi listrik dengan fotovoltaik, memprioritaskan mitra dengan jarak terdekat, serta substitusi penggunaan kemasan LDPE dengan biokomposit film. Implementasi dari seluruh skenario tersebut diestimasikan dapat menurunkan dampak Eutrofikasi sebesar 52,26%; pemanasan global (GWP100a) sebesar 55,89%; dan Asidifikasi sebesar 28,82%.
Collections
- MT - Agriculture Technology [2430]
