Analisis pendapatan usahatani dan pemasaran jagung : Kasus Desa Siderejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Tengah, Propinsi Lampung
View/ Open
Date
1999Author
Perangin-angin, Salsalina
Suryana, Ritaa Nurmalina
Metadata
Show full item recordAbstract
Sektor pertanian menempati posisi strategis dalam struktur perekonomian Indonesia, karena sektor pertanian dianggap mampu menyediakan pangan, menyediakan bahan baku industri, meningkatkan penerimaan devisa, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat tani. Jagung sebagai bahan pangan di Indonesia dapat dibagi menjadi dua kelompok utama, yakni jagung dikonsumsi oleh manusia baik langsung maupun olahannya dan jagung untuk bahan pakan unggas.
Dengan makin meningkatnya pendapatan masyarakat, maka konsumsi daging ayam dan telur makin meningkat, sehingga menimbulkan dampak ikutan yaitu meningkatnya permintaan akan jagung sebagai bahan baku utama pakan ternak atau unggas. Kebutuhan akan konsumsi jagung yang sangat besar dan terus meningkat tampaknya belum dapat dipenuhi oleh kemampuan produksi jagung dalam negeri. Rata-rata pertumbuhan produksi jagung per tahun adalah sebesar 6.11 persen. Rata- rata peningkatan kebutuhan konsumsi rumah tangga per tahun adalah 7.09 persen (BPS, 1995). Rata-rata peningkatan kebutuhan konsumsi pakan ternak per tahun diproyeksikan mencapai 11.52 persen (Departemen Pertanian, 1995). Pertumbuhan hasil jagung yang cukup tinggi dipengaruhi oleh akses pemasaran yang baik. Dengan adanya kondisi pasar yang efisien dan adil akan mampu memberikan insentif yang cukup, guna merangsang petani produsen untuk meningkatkan produksi melalui peningkatan produktivitas dan intensitas pertanaman jagung.
Tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah: mengkaji keragaan ekonomi jagung di Indonesia, menganalisis tingkat pendapatan petani dari usahatani jagung, menganalisis saluran pemasaran dan fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan tiap lembaga pemasaran yang terlibat dan mengukur besarnya margin pemasaran yang diterima oleh masing-masing lembaga pemasaran yang terlibat.
Secara umum produksi jagung di Indonesia mengalami peningkatan. Tetapi peningkatan tersebut belum dapat mengimbangi tingginya konsumsi masyarakat Indonesia. Hal ini terlihat dari masih besarnya jumlah impor jagung Indonesia. Pola- pola distribusi jagung antar tiap daerah berbeda-beda tergantung pada kondisi lokal, yaitu banyaknya pelaku yang terlibat dalam sistem pemasaran, kondisi usahatani (tradisional atau modern), kondisi topografi dan sosial, dan faktor-faktor lain.
Penelitian ini dilakukan di Desa Sidorejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Tengah, Propinsi Lampung. Cara pengambilan sampel adalah secara purposive (sengaja). Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan petani dan pedagang serta pengamatan lapang untuk masa tanam Juni-Agustus 1998. Data sekunder diperoleh dari berbagai instansi diantaranya Biro Pusat Statistik (BPS), Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura DT I dan DT II Lampung, Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Bogor, Badan Litbang Pertanian dan Kanwil Pertanian…dst
