Evaluasi kerusakan hutan dan lahan akibat kebakaran tahun 1997 melalui analisis dijital Citra Satelit Landsat - TM : Studi kasus di Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Kampar (Propinsi Riau) serta di Kabupaten Labuan Batu dan Kabupaten Tapanuli Selatan (Propinsi Sumatera Utara)
View/ Open
Date
1999Author
Rovani, Riva
Jaya, I Nengah Surati
Husaeni, Endang A.
Metadata
Show full item recordAbstract
Teknik perolehan data tentang luas kebakaran hutan dan lahan selama ini dilakukan dengan cara pengamatan dan pengukuran langsung di lapangan (terestris). Hal ini akan menjadi suatu masalah, apabila daerah yang diukur relatif luas dan sulit dijangkau sehingga akan memerlukan tenaga, waktu dan biaya yang
cukup banyak. Salah satu alternatif yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan tersebut ialah melalui
teknik penginderaan jauh. Penginderaan jauh merupakan suatu teknologi yang mampu memberikan data
dan informasi mengenai perubahan lahan (seperti kebakaran) secara cepat, dalam cakupan wilayah yang
luas, dan dengan hasil yang relatif akurat.
Data citra yang sering digunakan untuk kebakaran hutan pada saat ini adalah data Satelit NOAA- AVHRR. Resolusi temporal satelit NOAA-AVHRR (2 kali dalam 1 hari) dan cakupan wilayahnya yang luas (2799 km x 2700 km) mampu memberikan informasi lokasi kebakaran dan intensitas kebakaran secara cepat melalui lokasi sebaran titik-titik panas (Hot-Spots). Namun keterbatasan resolusi spasial yang rendah (1,1 x 1,1 km²) tidak mampu mengukur luas areal kebakaran secara tepat dan akurat. Satelit Landsat TM merupakan salah satu satelit sumberdaya yang paling banyak digunakan untuk inventarisasi, monitoring dan evaluasi lahan. Resolusi spasial yang cukup tinggi (30 x 30 m²) dari satelit ini dipandang mampu memberikan informasi dengan tingkat keakuratan yang tinggi. Dengan menggunakan data citra Satelit Landsat-TM, diharapkan permasalahan mengenai luasan kebakaran hutan dan lahan dapat diketahui secara lebih baik.
Collections
- UT - Forest Management [3207]
