Perubahan orientasi kelembagaan patronase dan pengaruhnya terhadap pola penghasialan masyarakat pedesaan : Studi kasus di Desa Purwasari, Kecamatab Dramaga, Kabupaten DT II Bogor
Abstract
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh dari proses perubahan agraris terhadap kelembagaan patronase, mengetahui adanya pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap pola penghasilan masyarakat pedesaan dan lebih lanjut mengetahui adanya hubungan antara kelembagaan patronase dengan pola penghasilan masyarakat.
Penelitian ini dilakukan di Desa Purwasari, Kecamatan Dramaga, Kabupaten DT II Bogor. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus, karena informasi diperoleh secara kualitatif dari informan dan responden serta didukung oleh pengamatan di lapangan yang hanya menggambarkan kelembagaan patronase di desa penelitian. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam informan dan menggunakan 30 responden yang ditarik secara acak dari populasi client. Data sekunder diperoleh dalam rangka melengkapi data primer yang relevan dengan tujuan penelitian.
Informan diperoleh dengan cara snowballing, yaitu mengalur dari mulai tokoh masyarakat yang terdiri dari sesepuh masyarakat, pamong desa dan patron untuk mengetahui kelembagaan patronase sebelum dan sesudah terjadinya proses perubahan agraris. Responden diperoleh untuk mengetahui keragaan kelembagaan patronase saat ini.
Berdasarkan wawancara diketahui bahwa di Desa Purwasari sebelum tahun 1950 terdapat kelembagaan patronase yang kuat dan jelas. Seorang patron memiliki minimal tiga orang client, yaitu bujang sawah, bujang dapur dan bujang kebo. Mereka terikat pada patronnya dengan orientasi kerja yang berdimensi jangka panjang.
Dengan terbukanya desa pada awal tahun 50-an menyebabkan banyaknya eksodus penduduk ke luar desa dan masuknya para pelaku ekonomi ke desa dengan membawa faham komersialisasi dan monetisasi. Meluasnya kegiatan ekonomi di desa terutama dengan adanya revolusi hijau mengakibatkan perubahan yang mendasar pada kelembagaan patronase tersebut. Pertama, komersialisasi pertanian membuat para patron berfikir lebih rasional untuk memasukkan tenaga kerja sebagai input produksi pertanian. Proses ini berakibat berubahnya sistem pembayaran client yang berdimensi jangka panjang menjadi berdimensi jangka pendek permasa panen dan menyebabkan client menjadi buruh tani lepas yang tidak terikat pada patron. Kedua, masa wajib belajar yang masuk melalui jalur formal dan informal menyebabkan hilangnya bujang kebo sebagai wadah regenerasi client sebelum menjadi bujang sawah…dst
