Perencanaan Jangka Panjang Pengusahaan Hutan Pt.Mandau Abadi
View/ Open
Date
2000Author
Hidayat, R. Rakhmat
Djohar, Setiadi
Saptono, Iman Teguh
Metadata
Show full item recordAbstract
Perusahaan pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dalam sistem agribisnis kehutanan berada dalam subsistem I, yang berperan sebagai penyuplai bahan baku kayu bulat (log) untuk industri pengolahan kayu. Sejalan dengan waktu dan arah kebijakan pemerintah, produksi kayu bulat secara nasional mengalami masa yang sangat fluktuatif. Hal ini tentu saja banyak mempengaruhi industri kehutanan secara keseluruhan.
PT. Mandau Abadi merupakan sebuah perusahaan pemegang HPH yang merupakan sebuah perusahaan patungan antara PT. Inhutani IV dan PT. Arjuna Perdana Mahkota Plywood (Sumalindo Group) yang baru terbentuk pada tanggal 3 Mei 1999. Sebagai sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kehutanan, terlebih dengan terbentuknya susunan para pemegang saham yang baru, maka PT. Mandau Abadi membutuhkan suatu perencanaan strategik jangka panjang yang baru untuk memperbaiki kinerja perusahaan ke arah yang lebih baik.
Berdasarkan permasalahan tersebut, geladikarya ini bertujuan untuk: (1) mengkaji lingkungan eksternal dan internal PT. Mandau Abadi, dan (2) merumuskan strategi, sasaran jangka panjang dan alternatif program kegiatan jangka panjang PT. Mandau Abadi. Analisis difokuskan pada kegiatan pengusahaan hutan perusahaan, sedangkan implementasi dari rumusan strategi bisnis akan menjadi kewenangan sepenuhnya manajemen perusahaan.
Dari berbagai alternatif alat analisis yang ada, alat analisis yang selanjutnya digunakan berdasarkan berbagai pertimbangan adalah Evaluasi Faktor-faktor Internal (Matrik IFE), Evaluasi Faktor-faktor Eksternal (Matrik EFE) dan Matrik Internal-Eksternal (Matrik IE).
Geladikarya ini menggunakan metode studi kasus dengan pertimbangan adanya ketersediaan data dan kesediaan manajemen perusahaan menjadikan PT. Mandau Abadi sebagai lokasi geladikarya. Data penelitian primer diperoleh antara lain melalui pengamatan langsung, dokumen perusahaan dan pengisian kuesioner kepada tujuh orang pakar untuk analisis internal dan eksternal perusahaan melalui matrik IFE dan EFE. Data penelitian sekunder lain yang mendukung analisis diperoleh melalui berbagai lembaga dan institusi yang relevan.
Hasil analisis internal perusahaan didapatkan tujuh faktor-faktor kekuatan dan kelemahan. Faktor-faktor kekuatan perusahaan tersebut adalah: (1) struktur permodalan, (2) kualitas produk, (3) perencanaan pengelolaan hutan, (4) lokasi areal hutan, (5) kondisi jalan, (6) sarana komunikasi, dan (7) sarana dan prasarana base-camp. Sedangkan faktor-faktor kelemahan perusahaan tersebut adalah: (1) banyaknya tanah ulayat, (2) banyak piutang, (3) luas areal konsesi kecil, (4) produksi belum memenuhi target, (5) produksi memiliki resiko tinggi, (6) sulit mendapatkan tenaga buruh/ongkak, dan (7) job description belum jelas.
Sementara itu berdasarkan hasil analisis eksternal perusahaan juga diadapatkan tujuh faktor-faktor peluang dan ancaman bagi perusahaan. Faktor- faktor peluang bagi perusahaan adalah: (1) ekolabeling, (2) ketersediaan SDM berkualitas, (3) berkembangnya teknologi pembalakan kayu, (4) terdapatnya beberapa Pusat Pendidikan dan Pelatihan (PUSDIKLAT), (5) pasar yang potensial, (6) terdapatnya beberapa Litbang Kehutanan, dan (7) stabilitas cuaca. Sedangkan faktor-faktor ancaman adalah: (1) jaminan masa konsesi, (2) perubahan peraturan perundang-undangan, (3) alih fungsi lahan, (4) ketidakstabilan ekonomi, (5) ketidakstabilan politik, (6) tumpang tindih lahan, dan (7) kondisi sosial masyarakat.
Berdasarkan hasil pembobotan kedua matrik tersebut, didapatkan nilai matrik internal (IFE) sebesar 2,442 dan matrik eksternal (EFE) sebesar 2,174. Dengan demikian diperoleh penggabungan antara nilai kedua matrik tersebut ke dalam matrik internal eksternal (Matrik IE) yang menempatkan posisi perusahaan di dalam kuadran V. Dengan posisi tersebut strategi tingkat perusahaan yang dapat dikembangkan adalah strategi mempertahankan (hold and maintain) posisi saat ini. Strategi tersebut dijalankan untuk menjaga kelestarian hutan, sehingga terjamin proses produksi kayu bulat secara berkesinambungan.
Setelah mengetahui posisi perusahaan saat ini, maka disusun beberapa alternatif formulasi strategi yang kiranya perlu diterapkan oleh perusahaan dalam menghadapi perubahan yang terjadi antara lain: (1) strategi bisnis perusahaan, (2)
strategi pengembangan sumberdaya manusia, (3) strategi pengembangan
teknologi, (4) strategi pengembangan produk, (5) strategi pemasaran, (6)strategi pembinaan hutan dan (7) strategi pembinaan masyarakat desa hutan. Dalam strategi bisnis perusahaan disarankan untuk menerapkan strategi Keunggulan Biaya (Cost Leadership), hal ini ditujukan untuk mempertahankan keberlangsungan pengusahaan hutan yang dilakukan oleh perusahaan. Sedangkan untuk strategi pengembangan sumberdaya manusia sekiranya diperlukan beberapa strategi yaitu: (1) peningkatan ketrampilan karyawan di semua lini manajemen, (2) pemenuhan kebutuhan man power sesuai dengan output pekerjaan yang dihasilkan, (3) pengembangan sistem perencanaan karir (career path) yang tepat untuk para karyawan, (4) restrukturisasi sistem penggajian yang sesuai dengan UMR, yang kemudian diikuti dengan pemberlakuan sistem penghargaan (insentif) dan hukuman bagi karyawan, (6) Pengembangan wawasan karyawan tentang aspek kelestarian hutan dan kelestarian hasil sebagai komitmen terhadap sistem manajemen mutu lingkungan sebagai syarat menerapkan ekolabeling. Untuk strategi pengembangan teknologi diturunkan menjadi beberapa strategi lagi yaitu: (1) pengembangan teknologi pembalakan kayu yang efisien dan ramah lingkungan, (2) kerjasama dengan instansi terkait seperti Litbang Departemen Kehutanan dan Perkebunan atau Litbang Perguruan Tinggi, (3) melakukan benchmarking kepada perusahaan lain yang telah berhasil mengembangkan teknologi yang ramah lingkungan, dan (4) investasi sarana dan prasarana untuk pengembangan teknologi yang ramah lingkungan dan memiliki resiko yang rendah. Untuk strategi pengembangan produk juga diturunkan beberapa strategi lagi antara lain: (1) pengenalan terhadap potensi hutan yang ada di areal hutan konsesi, (2) kerjasama dengan berbagai lembaga penelitian, dan (3) menjalin kemitraan dengan masyarakat desa sekitar hutan. Sedangkan untuk strategi pemasaran dibuat beberapa strategi lagi antara lain (1) melakukan market research terhadap kecenderungan (trend) bahan baku yang diperlukan oleh industri pengolahan kayu di masa datang, (2) penetrasi pasar terhadap celah pasar (niche) yang belum tergarap oleh perusahaan lainnya sebagai penyuplai bahan baku terutama produk non-kayu. Untuk strategi pembinaan hutan diterapkan melalui beberapa strategi lagi diantaranya yaitu: (1) pengenalan terhadap species- species unggul yang dapat ditanam untuk kegiatan pengayaan tanaman (enrichment planting), (2) kerja sama dengan berbagai instansi baik pemerintah maupun swasta yang memiliki kompetensi di bidang perbenihan, (3) penelitian dan pengembangan cara penanaman yang efektif dan efisien, dan (4) pelatihan teknik penanggulangan bencana kebakaran hutan. Sementara itu untuk strategi pembinaan masyarakat desa hutan dijabarkan melalui beberapa strategi juga yaitu : (1) peningkatan taraf pendidikan masyarakat desa hutan, (2) peningkatan taraf pendapatan masyarakat desa hutan, dan (3) penyediaan lapangan pekerjaan di perusahaan.
Pembuatan program kegiatan jangka panjang untuk lima tahun mendatang (2000 2005) pengusahaan hutan PT. Mandau Abadi, disusun berdasarkan sasaran-sasaran dan formulasi yang telah dirumuskan sebelumnya dan difokuskan pada program-program kegiatan fungsional, diantaranya perencanaan hutan, produksi, pengembangan sumberdaya manusia, pengembangan teknologi, pemasaran, pembinaan hutan dan pembinaan masyarakat desa hutan. Perencanaan strategik program kegiatan jangka panjang untuk lima tahun mendatang disusun dalam rencana program-program kegiatan yang dibagi tiga. yaitu program jangka pendek (2000), jangka menengah (2000-2005) dan jangka panjang (>2005).
Collections
- MT - Business [4063]
