Pendugaan sebaran ikan tunggal dengan metode trace tracking di perairan utara belitung pada bulan April 2002
View/ Open
Date
2003Author
Nery, Rozen
Hestirianoto, Totok
Pujiyati, Sri
Metadata
Show full item recordAbstract
Informasi tentang keberadaan ikan semakin dirasa penting, terutama untuk usaha peningkatan kesejahteraan nelayan. Penelitian akustik dengan menggunakan metode trace tracking ini dilakukan di Perairan Utara Belitung. guna mengkaji dugaan sebaran ikan pelagis yang terdapat di perairan tersebut. Tujuan penelitian yaitu menduga pola sebaran ikan tunggal yang terjadi di Perairan Utara Belitung pada bulan April 2002 secara tiga dimensi menurut garis lintang dan bujur serta kedalamannya
Penelitian dilakukan dengan menggunakan kapal Baracuda II milik Dinas
Perikanan dan Kelautan Kabupaten Belitung. pada bulan April 2002. Peralatan yang
digunakan yaitu scientific echosounder SIMRAD EY-500, GPS (Global Positioning
System), Split Beam transducer frekuensi 38 kHz dan dilengkapi zip drive,
Echoprocessor EP-500, serta software postprocessing Microsoft office, Mapping surfer
dan statistic 0.6. Desain survei yang dilakukan berbentuk zigzag.
Pada penelitian ini, perairan diklasifikasikan menjadi tiga bagian yaitu: bagian
barat laut, bagian utara dan bagian timur laut Perairan Utara Belitung. Secara umum ikan
yang terdeteksi paling banyak terdapat pada daerah bagian barat laut kemudian bagian
utara lalu paling sedikit pada bagian timur laut. Hal ini diduga disebabkan oleh dua hal,
yaitu: perairan bagian timur laut lebih dangkal dibandingkan wilayah pengamatan yang
lain dan dasar perairannya merupakan ekosistem terumbu karang, dimana banyak
terdapat ikan-ikan yang tidak bergerak secara aktif karena kecendrungan ikan karang
mempertahankan daerah teritorialnya. Apalagi waktu pendeteksian dilakukan pada
malam hari dimana ikan karang sebagian besar tidak aktif mencari makan sedangkan
penelitian ini parameter algoritma trace tracking F2-nya dibatasi minimal pada 2 jejak
yang berarti bahwa jejak yang berurutan dari ikan yang terdeteksi harus minimal sama
dengan 2. TS ikan yang terdeteksi paling banyak ditemukan pada kisaran -80 dB sampai
dengan -70 dB.
Secara umum hubungan target strength ikan terhadap kedalaman menunjukan bahwa nilai target strength meningkat dengan bertambahnya kedalaman. Hal ini menunjukkan bahwa ikan yang lebih besar menempati kolom perairan yang lebih dalam.
Namun disisi lain juga didapatkan kenyataan bahwa semakin dangkal perairan maka grafik hubungan TS ikan terhadap kedalaman semakin berfluktuasi dan semakin tinggi nilai standar error yang berarti pencampuran antara ikan yang memiliki TS besar dengan ikan yang memiliki TS rendah makin tinggi. Hal ini diduga karena ikan-ikan besar (TS besar) tidak dapat menyembunyikan diri (migrasi vertikal menjauhi cahaya) ke kolom air yang lebih dalam karena dangkalnya perairan, sehingga ikan akan bergerak secara merata pada kolom perairan. Ikan-ikan kecil (TS kecil) dapat dengan leluasa bergerak tanpa menjalani adaptasi yang berat karena pada perairan dangkal faktor-faktor oseanografi seperti suhu, cahaya dan salinitas cendrung homogen pada setiap kolom perairan dan tekanan akibat bertambahnya kedalaman tidak terlalu besar.
Diduga juga terdapat ikan-ikan tunggal atau populasi ikan yang berbeda dengan yang lainnya dan membuat kelompok sendiri serta memisahkan diri dengan kelompok yang lainnya, ini terlihat dari adanya garis-garis yang terputus pada grafik hubungan TS ikan terhadap kedalaman.
