Pengaruh Curah Hujan terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Karet di Perkebunan Panglejar PTP XII, Cikalong Kabupaten Bandung
Abstract
Didalam Pelita IV (1984-1988), pemerintah masih mengandalkan pertanian termasuk perkebunan sebagai prioritas utama, oleh sebab itu pembangunan pertanian (perkebunan) yang tangguh diharapkan dapat dilaksanakan. Pertanian yang tangguh adalah pertanian yang dinamis, ulet dan tidak tergoyahkan oleh fluktuasi ekonomi. Untuk mencapai pertanian yang tangguh ini, cara yang mungkin dilakukan adalah dengan memanfaatkan sumber daya alam, tenaga, modal dan tehnologi secara tepat guna. Secara kuantitatip sasaran yang ingin dicapai oleh sektor perkebunan adalah menghasilkan devisa sebesar US5.5milyar. Khusus untuk komoditi karet, jika nilai US $ 2.30 milyar hendak dicapai maka luas perkebunan karet sebaiknya ditambah sebesar 647 602 ha dari 2592 000 ha yang sudah ada sekarang (Harahap, 1984). Perluasan sebaiknya dilakukan diluar daerah tradisional, karena daerah tradisional sekarang seperti di Sumatera Utara dan Pulau Jawa yang tersedia sudah sangat terbatas. Dengan demikian perluasan daerah perkebunan karet hendaklah diarahkan ke wilayah lain dengan syarat lahannya cocok untuk pertumbuhan, lahan bebas atau secara agraris mudah diselesaikan dan penduduknya masih jarang.
