Inseminasi buatan pada kelinci persilangan dengan beberapa tingkat konsentrasi sperma dan dosis hormon chorinic gonadotrophin
View/ Open
Date
1983Author
Nasution, Refrizal
Natasasmita, Asikin
Taurin, M.Buyung
Metadata
Show full item recordAbstract
Sasaran pembangunan sektor peternakan di Indonesia antara lain adalah untuk mencukupi kebutuhan protein hewani bagi masyarakat Indonesia. Menurut Rismunandar (1981), di seluruh Indonesia pada umumnya rakyat masih kekurangan protein dalam menu makanannya sehari-hari.
Dalam usaha mengatasi masalah pemenuhan kebutuhan protein hewani maka langkah-langkah kebijaksanaan yang telah diambil oleh pemerintah antara lain melalui pengembangan budidaya ternak kelinci. Budidaya ini cocok dilakukan oleh sebagian masyarakat, karena relatif tidak memerlukan tanah yang luas, modal dan resiko kecil, cepat berproduksi dan berkembang biak.
Untuk lebih mempercepat perkembangbiakan ternak kelinci, maka perlu beberapa cara yang efisien, antara lain adalah inseminasi buatan (IB). Cara ini dapat meningkatkan angka konsepsi atau kebuntingan hingga 90 persen pada usaha komersial (Calvert, 1973 dan Adams, 1981), jumlah anak yang dilahirkan lebih banyak dibandingkan dengan kawin alam (Calvert, 1973) dan efisien dalam penggunaan pejantan (Adams, 1981).
