Toksisitas Chromium Heksavalen (Cr6+) terhadap kelangsungan hidup juvenil Bandeng (Chanos chanos Forskal) dan Udang Windu (Penaeus monodon Fabricius)
View/ Open
Date
1995Author
Wilujeng, Lestari
Sanusi, Harpasis S.
Sulistijo
Metadata
Show full item recordAbstract
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui batas konsentrasi chromium heksavalen yang menyebabkan kematian sebanyak 50% populasi Udang Windu (Penaeus monodon) dan Bandeng (Chanos chanos) dengan menggunakan bioassay LC50 96 Jam. Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Juni 1994, di laboratorium basah Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi (P₂O - LIPI) Ancol, Jakarta Utara. Bahan yang digunakan adalah juvenil bandeng berumur 56 hari dengan panjang rerata 1.73 cm, berat rerata 0.03153 gram dan kepadatan 0.03153 gram/liter. Untuk biota uji udang windu berukuran PL23, panjang rerata 1.69 cm, berat rerata 0.03601 gram dan kepadatan 0.03601 gram/liter, Potasium dikromat (K2Cr2O77), aceton, nitrit acid, Artemia salina. Peralatan yang digunakan adalah akuarium, botol sampel, bak aklimatisasi, DO meter, pH meter, termometer.
Penelitian toksisitas chromium heksavalen pada bandeng dan udang windu menggunakan Short Term Bioassay LC50, dengan waktu pemaparan 96 jam. Tipe yang digunakan adalah statik. Penelitian ini menggunakan beberapa tahapan yaitu aklimatisasi, uji nilai kisaran (Range Finding Test), uji definitif (Definitive Test) dan analisis aktual konsentrasi.
Uji nilai kisaran dilakukan untuk mendapatkan batas minimum maksimum konsentrasi toksikan yang akan digunakan dalam uji definitif. Uji nilai kisaran menggunakan deret logaritmik dengan konsentrasi toksikan untuk bandeng sebesar 0 (kontrol), 0.01 ppm, 0.1 ppm, 1.0 ppm dan 10 ppm, sedangkan untuk udang windu adalah sebesar 0 (kontrol), 0.1 ppm, 1.0 ppm, 10.0 ppm dan 100 ppm. Uji definnitif menggunakan 6 konsentrasi dengan menggunakan deret geometrik. Pada bandeng konsentrasi toksikan yang digunakan adalah 0(kontrol), 5 ppm, 10 ppm, 20 ppm, 40 ppm dan 80 ppm dan udang windu 0(kontrol) ppm, 2.5 ppm, 5 ppm, 10 ppm, 20 ppm dan 40 ppm. Pengambilan sampel untuk konsentrasi aktual dilakukan dari konsentrasi toksikan terkecil untuk menghindari kontaminasi antar perlakuan. Selanjutnya sampel air dianalisis dengan menggunakan AAS (Atomic Absorbstion Spek- trometric). Analisis AAS dilakukan di laboratorium kimia P₂O - LIPI. ...
