Studi penggunaan api dalam penyiapan ladang, di sekitar HPHTI PT.Musi Hutan Persada Sumatera Selatan
Abstract
Api merupakan piranti utama dalam penyiapan lahan, khususnya dalam proses pembersihan ladang karena mudah, murah dan efektif. Oleh karena itu para peladang sampai sekarang belum bisa meninggalkan tradisi penggunaan api yang sudah turun temurun tersebut. Api dari proses penyiapan ladang sering disebut-sebut sebagai salah satu sebab terjadinya kebakaran hutan
Suatu penelitian dilakukan di 20 kampung kecil (talang) yang berada di dalam dan di sekitar areal HPHTI PT. Musi Hutan Persada, Supporting I (Subanjeriji), Unit III (Gemawang), Sumatera Selatan, untuk mengetahui penggunaan api dalam penyiapan calon ladang dan termasuk pula mengetahui sistem perladangan yang dpakai oleh para peladang setempat.
Lokasi yang di buka sebagai calon ladang ada tiga yaitu hutan sekunder, kebun tua dan belukar. Untuk menunjang keberhasilan dalam kegiatan perladangan, pemilihan lokasi calon ladang perlu diperhatikan seperti mempertimbangkan kelerengan, dan jenis hutan yang akan dibukanya ( hutan primer, hutan sekunder, kebun tua, belukar serta alang-alang). Kegiatan selanjutnya yaitu pembukaan calon ladang tersebut melalui kegiatan penebasan dan penebangan.
Masyarakat di lokasi penelitian tidak memiliki kekhasan yang berhubungan dengan kepercayaan termasuk pantangan-pantangan dalam melakukan pembakaran seperti di daerah Kalimantan Barat, di mana dalam melakukan pembakaran tidak boleh mandi atau minum air (Dove, 1988). Dalam pembukaan calon ladang, masyarakat setempat mempunyai pantangan yaitu peladang setempat tidak terbiasa membuka calon ladang lebih dari satu lokasi pada tahun yang sama, apabila pantangan tersebut dilanggar peladang maka akan mendapatkan musibah (umumnya ada anggota keluarganya sakit atau meninggal dunia).
Bila penebasan dan penebangan telah dilakukan (termasuk penjemuran biomassa sekitar 30 sampai 40 hari), maka proses pembakaran calon ladang bisa dilaksanakan. Pembakaran dilakukan secara gotong royong, untuk mengurangi resiko terjadinya perembetan api ke kawasan hutan atau kebun karet di sekitar calon ladang yang dibakar. Pembakaran di daerah ini secara umum dilakukan pada sore hari sekitar pukul 15.00 sampai 17.00 WIB. Apabila proses pembakaran selesai maka para pekerja pulang ke rumah masing-masing dan pemilik ladang menjaga calon ladang yang baru dibakar tersebut sampai api bekas pembakaran dirasa aman.
Teknik yang dipergunakan dalam melakukan pembakaran calon ladang di daerah ini ada tiga macam, yaitu teknik pembakaran modifikasi Spot Fire, teknik Back Fire kombinasi dengan Ring Fire serta teknik pembakaran kombinasi antara Head Fire dengan Ring Fire.
Collections
- UT - Forest Management [3207]
