Persentase penurunan volume pada tegakan pinus akibat sadap mati di BKPH Banjaran KPH Bandung Selatan PT Perhutani Unit III Jawa Barat
Abstract
Indonesia memiliki potensi kayu yang besar dan salah satunya adalah jenis kayu pinus. Tegakan pinus mengasilkan 2 hasil utama (Major Yield), yaitu kayu yang dihasilkan dari kegiatan pemanenan dan getah yang dihasilkan dari kegiatan penyadapan. Salah satu jenis penyadapan yang dilakukan adalah kegiatan sadap mati yang menyebabkan kehilangan volume pada tegakan pinus akibat pembuatan koakan.
Penelitian ini bertujuan untuk menghitung berapa besar volume yang hilang akibat kegiatan sadap mati, mempelajari proses pemanenan di lokasi sadap mati dan mengetahui biaya pemanenan dan menghitung nilai ekonomis kayu bekas sadapan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan untuk menentukan target produksi pada lokasi penebangan yang disadap mati.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan membandingkan volume sebelum dan setelah penebangan dengan jumlah contoh 30 pohon yang berlokasi di petak 3e seluas 16,40 Ha di BKPH Banjaran KPH Bandung Selatan dengan waktu penelitian mulai 1 Oktober 30 November 2001. Penetapan volume pohon berdiri menggunakan tarip volume lokal kayu perkakas pinus KPH Bandung Selatan yang didasarkan dari hasil pengukuran keliling. Penetapan volume setelah penebangan dihitung dengan menggunakan Standar Nasional Indonesia pengukuran dan tabel isi kayu bundar rimba sedangkan untuk perhitungan volume koakan dengan mengasumsikan bentuk koakan mendekati bentuk perpaduan dari 12 silinder dan 14 bola.
Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah bahwa kegiatan pemanenan berlangsung pada tegakan pinus yang belum pernah mengalami sadapan awal. Hasil produksi dari kegiatan sadap mati adalah sebesar 0,45 ton/ha dan 5,9kg/pohon. Biaya pemanenan kayu normal dan bekas sadapan pada petak 3e adalah sebesar 53.000/m³...
Collections
- UT - Forestry Products [2469]
