Sifat keasaman beberapa jenis kayu dan pengaruhnya terhadap waktu pengerasan perekat urea formaldehida
Abstract
Seiring dengan perkembangan jaman yang semakin maju, pemanfaatan produk kavu di berbagai bidang semakin luas. Di lain pihak ketersediaan kayu di alam semakin berkurang. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan penggunaan teknologi yang dapat memanfaatkan kayu seefisien mungkin dengan menghasilkan produk yang berdaya guna tinggi. Salah satu teknologi yang berkembang luas adalah pembuatan produk panil-panil kayu, dimana dalam pembuatan produk ini banyak melibatkan penggunaan perekat. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses perekatan. Ditinjau dari aspek kayu sebagai sirekat, diantara sifatnya yang dapat berperan penting terhadap keberhasilan proses perekatan adalah sifat keasaman kayu. Hal ini terutama untuk produk- produk kayu yang dalam pengolahan atau penggunaannya melibatkan perekat yang sensitif terhadap nilai pH, seperti halnya perekat Urea Formaldehida. Akan tetapi penelitian-penelitian yang menyangkut hal tersebut belum banyak dilakukan khususnya untuk jenis kayu di Indonesia Atas dasar itulah penelitian ini dilakukan dalam rangka lebih memahami fenomena proses perekatan kayu yang dikaitkan dengan waktu pengerasan perekat.
Penelitian ini menggunakan jenis kayu kayu akasia (Acacia mangium dan Acacia auriculiformis), kayu gmelina (Gmelina arborea), kayu leda (Eucalyptus deglupta), Eucalyptus florentiana, dan kayu maesopsis (Alaesopsis eminii). Masing-masing jenis kayu ini dipisahkan antara bagian gubal dengan teras, kecuali untuk jenis Eucalyptus floremiana. Perekat yang digunakan adalah jenis perekat termosetting, yaitu resin urea formaldehida (UF) dalam bentuk cair. Dari keenam jenis kayu ini (dengan masing-masing kayu gubal dan teras dipisah) diukur besarnya pH dan kapasitas penyangganya, masing-masing tiga kali ulangan. Begitu juga pada pengukuran waktu pengerasan perekat UF (gelation time) dilakukan tiga kali ulangan dengan cara menghitung waktu resin sampai mengeras setelah dicampurkan dengan serbuk kayu dan dipanaskan pada suhu 90°C. Untuk melengkapi data penelitian maka diukur pula kadar ekstraktif masing-masing kayu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keasaman kayu yang diteliti bervariasi baik menurut jenis kayu maupun berdasarkan kayu teras dan kayu gubal. Secara umum kayu yang diteliti bersifat asam dengan při berkisar dari 3.91 sampai 5.94 dan kapasitas penyangganya berkisar dari 0.057 mmeq sampai 0.379 muneq dengan bagian kayu terns memiliki keasaman yang lebih tinggi dibanding kayu gubal pada masing-masing jenis kayu. Begitu pula dengan kadar ekstraktif pada kayu teras lebih tinggi dibanding kayu gubal....
Collections
- UT - Forestry Products [2469]
