Pengaruh Perbedaan Peningkatan Persentase Pergantian Air Terhadap Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Larva lkan Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis) Pada Sistem Air Mengalir
Abstract
Masalah utama pada usaha pembenihan ikan kerapu adalah tingkat kematian yang tinggi pada stadia larva. Mortalitas yang tinggi biasanya terjadi pada stadia larva umur 10 hingga 12 hari, pada saat ship punggung larva mulai berkembang dan memanjang dan larva saling bersinggungan satu sama lainnya. Pemberian aliran (debit) air sebagai cara pergantian air yang lebih baik, tetapi belum diketahui secara pasti pengaruh dan nilai optimumnya bagi kelangsungan hidup benih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan peningkatan persentase pergantian air terhadap kelangsungan hidup, pertumbuhan, jumlah jasad pakan (rotifer) dalam lambung dan kualitas air media pemeliharaan larva ikan kerapu bebek yang dipelihara dalam sistem air mengalir. Penelitian dilaksanakan bulan September 2000 sampai dengan Januari 2001 di Laboratorium Multi Spesies Hatchery pada Loka Penelitian Perika!1an Pantai GondalBali. Wadah pemeliharaan merupakan bagian dari sistem resirkulasi ditempatkan dalam ruangan tertutup (in door). Air laut yang masuk wadah pemeliharaan diatur menggunakan keran, pembuangan air laut dilakukan melalui pipa yang diberi penyaring. Padat tebar larva yang digunakan yaitu 2000 ekor/wadah. Pakan yang diberikan pada larva terdiri dari Chlorella, rotifer, pakan buatan berbentuk pelet dan Artemia yang diberikan berturut-turut sejak umur 2, 3, 17 dan 21 hari hingga larva berumur 31 hari. Peningkatan persentase pergantian air dilaksanakan saat larva umur 7-31 hari. Peningkatan persentase pergantian air selama 24 jam per 3 hari terdiri dari: 0% (perlakuan kontrol, A), 10% (perlakuan B), 20% (perlakuan C) dan 30% (perlakuan D). Penempatan perlakuan ke dalam satuan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Setiap perlakuan diulang 3 kali. Parameter yang diukur adalah kelangsungan hidup dan pertumbuhan panjang mutlak larva, dianalisis dengan sidik ragam (ANOVA) dan uji beda nyata (p<O.OS) menggunakan uji Tukey. Untuk jumlah rotifer dalam !ambung larva dan sisa rotifer dalam wadah perlakuan sampai dengan umur 16 hari serta kualitas air (suhu, pH, oksigen terlarut, salinitas, cahaya, amonia dan nitrit) dianalisis secara deskriptif. Tingkat kelangsungan hidup tanpa peningkatan pergantian air (10% konstan) lebih tinggi (p<0.05) dibandingkan dengan peningkatan pergantian air 10 dan 30%, kecuali peningkatan pergantian air 20%. Larva ikan kerapu bebek yang dipelihara dengan peningkatan pergantian air 0 dan 20% temyata memiliki kelangsungan hidup yang lebih tinggi, masing-masing 24.15 dan 21.07% dari larva yang dipelihara dalam wadah dengan peningkatan persentase pergantian air 10 dan 30%. Perbedaan peningkatan pergantian air 0, 10, 20 dan 30% tidak menunjukkan perbedaan pertumbuhan panjang mutlak larva ikan kerapu bebek (6.83-8.21 mm) sampai umur 31 hari (p>0.05). Panjang larva cenderung meningkat konstan baik yang diberi peningkatan pergantian air 0, 10, 20 maupun 30%. Jumlah pakan (rotifer) dalam lambung menunjukkan peningkatan sampai larva umur 13 hari pada semua perlakuan. Saat larva umur 13-16 hari peningkatan jumlah rotifer dalam lambung mulai konstan. Jumlah rotifer dalam lambung larva pada peningkatan pergantian air 0% (10% konstan) lebih tinggi (95.73 ind./ekor) dibandingkan dengan peningkatan pergantian air 10, 20, dan 30% saat larva umur 16 hari. Jumlah sisa rotifer dalam wadah peme1iharaan sampai larva umur 13 hari cenderung meningkat dan setelah larva umur 13 hari jumlah rotifer mengalarni penurunan. Pada kontrol dimana peningkatan pergantian aimya 0% menunjukkan jumlah sisa rotifer yang tertinggi (102.83 ind./ml) dan peningkatan pergantian air 30% menunjukkan jumlah sisa rotifer terendah (30.50 ind./ml) saat larva berumur 13 hari diantara semua perlakuan. Peningkatan persentase pergantian air pada wadah pemeliharaan dari tandon menyebabkan tingkat fluktuasi kualitas air harian tidak terlalu tinggi. Kualitas air yang terukur dalam wadah pemeliharaan selama percobaan, suhu berkisar antara 27.0-29.50C, salinitas berkisar antara 33.0-35.5%0, pH berkisar antara 8.13-8.94, kisaran DO antara 2.6-4.7 mg/I, kisaran cahaya antara 310-1180 lux, kisaran amonia antara 0.064-0.454 mg/l dan kadar nitrit berkisar antara 0.108-1.424 mg/I.

