Pengusahaan jeruk di kebun ankola
Abstract
Produksi buah-buahan di Indonesia dewasa ini masih belum mencukupi kebutuhan di dalam negeri. Seperti terlihat pada Tabel Lampiran 1, Indonesia pada tahun 1981 masih harus mengimpor jeruk manis, apel segar, anggur segar dan pir masing-masing 7 798, 7 455, 2 499 dan 2 579 ton.
Sebagai salah satu buah-buahan penting di Indonesia, produktivitas jeruk sejak 1976 mengalami peningkatan. Pada tahun 1976, rata-rata produktivitas jeruk di Indonesia adalah 6.56 ton yang meningkat menjadi 8.57 ton pada tahun 1981 (Ramelan, 1983).
Kalau dilihat produktivitas jeruk yang semakin meningkat, masih adanya impor jeruk dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti luas panennya kurang, peningkatan jumlah penduduk yang lebih pesat dari pada peningkatan produksi jeruk dan bertambahnya tingkat konsumsi masyarakat dengan naiknya tingkat pendapatan mereka.
Dipandang dari nilai gizinya, jeruk merupakan salah satu buah-buahan yang bernilai gizi tinggi. Berdasarkan penelitian Direktorat Gizi Departemen Kesehata RI (1967), setiap 100 g jeruk manis mengandung 45 kalori, 0.9 g protein, 0.2 g lemak, 11.2 g hidrat arang, 33 mg Ca, 23 mg P, 0.4 mg Fe, 190 SI vitamin A, 0.08 mg vitamin B1, 49 mg vitamin C dan 87.2 g air.
