Pengaruh Dosis Akriflavin yang Diberikan secara Oral kepada Lama Ikan Nila Merah (Oreoclzromis sp.) terhadap Nisbah Kelaminnya.
Abstract
Ikan nila merah (Oreochromis sp.) merupakan ikan yang memiliki sifat unggul, di antaranya memiliki dapng yang benvama putih dan tebal seperti ikan kakap merah sehingga mempunyai nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis ikan nila lainnya. Ikan ini juga mempunyai kelebihan lain yaitu cepat berkembang biak dan mampu beradaptasi dengan baik terhadap perubahan kondisi lingkungan. Akan tetapi dari kelebihan-kelebihan tersebut timbul masalah budidaya yaitu terjadinya pemijahan yang tidak terkontrol dan berlebih, sehingga menyebabkan kepadatan tinggi, yang selanjutnya akan memperlambat pertumbuhan biomassa. Untuk mengatasi masalah tersebut dilakukan usaha yang mengarah kepada tercapainya populasi monoseks, dalam ha1 ini monoseks jantan. Dengan demikian pemijahan yang tidak di kehendaki dapat di cegah. Di samping itu ikan nila jantan memiliki pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan ikan nila betina. Salah satu teknik yang digunakan dalam memperoleh populasi monoseks adalah perangsangan hormonal. Umumnya hormon yang digunakan adalah dari golongan androgen. Namun penggunaan hormon androgen mulai dibatasi, sehingga perlu dicari bahan lain untuk menggantikannya yaitu akriflavin. Dalam penelitian ini, telah dipelajari pengaruh pemberian akriflavin secara oral kepada larva ikan nila dengan dosis 15 mgkg makanan, 25 mgikg makanan, dan 35 mgikg makanan selama enam pekan terhadap nisbah kelaminnya. Penelitiannya sendiri dilaksanakan di BaIai Budidaya Air Tawar (BEAT), Sukabumi, Jawa Barat mulai tanggal 15 Maret sampai dengan 21 Juni 2004. Wadah yang digunakan adalah akuarium sebanyak 20 buah, masing-masing berdimensi (60x40~40) cm3 untuk perlakuan dan bak semen berdimensi (3xlx0,5) m3 untuk tempat penampungan air. Dalam ha1 ini digunakan sistem resirkulasi. Selain akriflavin masih digunakan 17a-metiltestosteron sebagai kontrol positif Larva ikan nila merah yang digunakan berumur sepuluh hari setelah pembuahan dengan panjang tubuh sekitar 9,27 mm dan bobot sekitar 0,0179 g. Banyaknya dua ribu ekor. Semua ditempatkan pada dua puluh akuarium dengan kepadatan 100 ekor tiap akuarium. Volume air tiap akuarium 84 liter. Percobaan ini terdiri dari lima perlakuan yang masing-masing terdiri dari empat kali ulzngan yaitu parlakuan A (35 mg akriflavidkg makandn), B (25 mg akriflavidkg makanan), C (15 mg akriflavidkg makanan); kontrol positif (50 mg I7a-MTlkg makanan) dan kontrol(0 mgikg makanan). Dari data yang diperoleh terlihat bahwa ketiga perlakuan memberikan hasil yang cukup baik dalam pengarahan jenis kelamin. Akan tetapi, bila dibandingkan dengan pemberian perlakuan hormon 17a-metiltestosteron, hasil ini masih kalah. Persentase rata-rata ikan yang berkelamin jantan dengan menggunakan aknflavin tertinggi (79,Ol %) diperoleh dari pemberian dosis 35 mglkg makanan. Namun, uji statistik lebih lanjut (Tukey) tidak menuajukkan perbedaan nyata dengan hasil perlakuan 25 mgkg makanan (yaitu 78,30 %). Hasil terendah terdapat pada pemberian dosis 15 mg/kg makanan sebesar 72,46 %. Perlakuan kontrol positif (pemberian hormon 17ametiltestosteron) dengan dosis 50 mgkg makanan menghasilkan persentase rata-rata ikan berkelamin jantan sebesar 99,19 %, sedangkan perlakuan kontrol (dosis 0 mgtkg makanan) menghasilkan persentase rata-rata berkelamin jantan sebesar 58,37 %. Terlihat bahwa hasil pengarahan kelamin menjadi jantan yang diperoleh cukup tinggi meskipun belurn menyamai pengaruh pemberian 17a-metiltestosteron.

