View Item 
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Undergraduate Theses
      • UT - Faculty of Economics and Management
      • UT - Agribusiness
      • View Item
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Undergraduate Theses
      • UT - Faculty of Economics and Management
      • UT - Agribusiness
      • View Item
      JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

      Analisis pendapatan dan efisiensi produksi belimbing dewa peserta primatani di kota Depok Jawa Barat

      Thumbnail
      View/Open
      Abstract (36.80Kb)
      Full Text (887.1Kb)
      PostScript (212.8Kb)
      Date
      2009
      Author
      Yulistia, Nur
      Metadata
      Show full item record
      Abstract
      Sektor pertanian dalam pembangunan perekonomian di Kota Depok menjadi salah satu sektor yang dapat diandalkan. Sektor pertanian di perkotaan memiliki keunggulan spesifik dan sangat prospektif karena jaminan pangsa pasar dan permintaan akan produk pertanian segar dan olahan sangat beragam. Permasalahannya adalah perlu upaya pemilihan komoditas potensial yang dapat dikembangkan melalui pemanfaatan lahan terbatas dengan teknologi pertanian yang berwawasan agribisnis. Salah satu komoditas yang cukup potensial dan prospektif di Kota Depok adalah buah belimbing. Kini buah Belimbing Dewa telah dijadikan ikon Kota Depok. Upaya pengembangan Belimbing Dewa sebagai ikon Kota Depok pada kenyataannya masih ditemukan beberapa kendala dan permasalahan. Salah satu akar permasalahan dari pengembangan komoditas belimbing di Kota Depok adalah kapasitas produksi yang masih rendah dikarenakan lahan terbatas dan penerapan teknologi yang belum optimal. Hadirnya Primatani di Kota Depok diharapkan dapat memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi dalam upaya pengembangan komoditas belimbing, khususnya dalam hal penerapan teknologi. Inovasi teknologi yang diintroduksikan oleh Primatani tentunya bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, kuantitas, kualitas serta kontinuitas produksi tanaman belimbing yang dihasilkan oleh petani. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) menganalisis pengaruh Primatani terhadap tingkat pendapatan usahatani Belimbing Dewa di Kota Depok, dan (2) menganalisis pengaruh Primatani terhadap tingkat efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi usahatani Belimbing Dewa di Kota Depok. Pengaruh hadirnya Primatani dianalisis dengan metode membandingkan tingkat pendapatan dan efisiensi produksi usahatani Belimbing Dewa antara petani Primatani dan non Primatani. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan, Kota Depok untuk petani peserta Primatani dan untuk petani non peserta Primatani dipilih petani yang berasal dari Kelurahan Pancoran Mas, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok. Pemilihan petani responden dilakukan secara stratified random sampling dari populasi kelompok tani yang ada di lokasi penelitian. Petani responden dibagi menjadi dua kelompok (strata) yaitu petani yang memiliki umur pohon 5-9 tahun dan 10-15 tahun. Total jumlah petani responden adalah 60 orang petani, terdiri dari 30 orang petani yang masingmasing adalah peserta Primatani dan non peserta Primatani. Berdasarkan hasil analisis pendapatan usahatani Belimbing Dewa dapat disimpulkan bahwa pengaruh hadirnya Primatani di Kota Depok belum memberikan dampak yang terlalu besar terhadap tingkat pendapatan petani peserta Primatani. Hal ini dapat dilihat dari pendapatan atas biaya tunai dan total pada petani non Primatani lebih tinggi jika dibandingkan dengan petani Primatani. Pendapatan atas biaya total per hektar per tahun petani Primatani dengan umur pohon 5-9 tahun dan 10-15 tahun adalah sebesar Rp113.631.847,50 dan Rp166.429.243,10. Pendapatan atas biaya total per hektar per tahun pada petani non Primatani dengan umur pohon 5-9 tahun dan 10-15 tahun adalah sebesar Rp142.801.521,80 dan Rp232.608.691,69. Hasil analisis R/C rasio pada usahatani Belimbing Dewa untuk Petani Primatani dan non Primatani dengan umur pohon 5-9 tahun menunjukkan bahwa usahatani ini memiliki penerimaan usahatani yang lebih besar dibandingkan dengan biaya usahatani. Nilai R/C rasio tunai petani Primatani dan non Primatani masing-masing adalah 3,14 dan 3,48. Ini berarti dari setiap satu rupiah biaya tunai yang dikeluarkan oleh petani dapat menghasilkan penerimaan sebesar Rp 3,14 untuk petani Primatani dan Rp 3,48 untuk petani non Primatani. Nilai imbangan penerimaan dan biaya atas biaya total pada petani Primatani adalah 2,38 dan untuk petani non Primatani 2,75. Nilai imbangan penerimaan dan biaya pada petani non Primatani dengan umur pohon 10-15 tahun lebih besar jika dibandingkan dengan petani Primatani. Dari hasil perhitungan R/C rasio atas biaya tunai pada petani Primatani dan non Primatani masing-masing adalah 3,34 dan 3,45. Artinya dari setiap satu rupiah biaya tunai yang dikeluarkan oleh petani Primatani dan non Primatani akan menghasilkan penerimaan sebesar Rp 3,34 dan Rp 3,45, sedangkan jika dilihat dari sisi biaya totalnya maka R/C rasio untuk petani Primatani adalah sebesar 2,52 dan untuk petani non Primatani 2,76. Artinya usahatani Belimbing Dewa yang diusahakan petani non Primatani lebih memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan petani Primatani. Model penduga fungsi produksi untuk petani Primatani dan non Primatani yang diajukan dalam penelitian ini adalah model fungsi produksi eksponensial dengan menggunakan metode penduga kuadrat terkecil atau Ordinary Least Square (OLS). Variabel bebas yang digunakan dalam model penduga fungsi produksi petani Primatani adalah pupuk kandang, pupuk NPK, pupuk gandasil, pestisida, petrogenol dan tenaga kerja. Model penduga fungsi produksi petani non Primatani menggunakan variabel bebas pupuk kandang, pupuk gandasil, pestisida, petrogenol dan tenaga kerja. Pupuk NPK tidak dimasukkan ke dalam model dikarenakan akan menimbulkan masalah multikolinearitas pada fungsi produksi. Jumlah nilai elastisitas dalam model untuk petani Primatani dan non Primatani adalah 0,9879 dan 0,983. Hal ini menggambarkan bahwa usahatani Belimbing Dewa yang dilakukan petani Primatani dan non Primatani berada pada skala decreasing returns to scale. Hal ini menandakan bahwa, jika input yang digunakan petani Primatani dan non Primatani dalam proses produksi Belimbing Dewa secara bersama-sama ditambah sebesar satu persen, maka output yang diproduksi akan bertambah sebesar kurang dari satu persen, yakni 0,9879 persen pada petani Primatani dan 0,983 persen untuk petani non Primatani. Hadirnya Primatani ternyata belum memberikan pengaruh terhadap tingkat efisiensi penggunaan faktor produksi pada petani peserta Primatani. Tingkat penggunaan faktor produksi pada petani Primatani belum mencapai kondisi yang optimal. Hal ini ditandai dari hasil rasio NPM/BKM pada seluruh input yang digunakan oleh petani Primatani dan non Primatani yang tidak sama dengan satu.
      URI
      http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/14118
      Collections
      • UT - Agribusiness [4776]

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository
        

       

      Browse

      All of IPB RepositoryCollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

      My Account

      Login

      Application

      google store

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository