Analisis Pendapatan Usahatani Tebu dan Tanaman Kompetitifnya di Wilayah Kerja PTP XIV (Persero) Pabrik Gula SIndang Laut, Kabupaten Cirebon
Abstract
Praktek lapang ini bertujuan untuk melihat dari dekat bagaimana pelaksanaan TRI di daerah praktek lapang, membandingkan pendapatan usahatani tebu dengan pendapatan usahatani tanaman kompetitifnya, serta melihat faktor-faktor yang mempengaruhi petani dalam memilih suatu jenis usahatani tertentu.
Pada musim tanam 1982/1983 tanaman tebu di wilayah kerja Pabrik Gula Sindanglaut terdiri dari Tebu Rakyat Intensifikasi di lahan sawah (TRIS) 1 911.613 hektar (88.6 persen), Tebu Tegalan (TT) 179.396 hektar (8,3 persen) dan Tebu Bibit (TB) 65.453 hektar (3.1 persen). Dalam praktek lapang ini dibatasi pada tanaman Tebu Rakyat Intensifikasi di lahan sawah (TRIS), baik TRIS I yang ber- umur 16 bulan maupun TRIS II yang berumur 12 bulan.
Program Tebu Rakyat Intensifikasi di wilayah kerja Pabrik Gula Sindanglaut, mulai diterapkan pada musim Tanam 1975/1976. Jika dilihat produktivitasnya dari tahun ke tahun, terlihat adanya fluktuasi yaitu antara 632 kwintal dan 886 kwintal tebu per hektar. Sedangkan apabila dilihat rendemen tebu dari tahun ke tahun terlihat adanya produktivitas tanaman TRIS II sebesar 704 Kw/Ha. Sedang- kan rendemen tebu TRIS I sebesar 6.92 persen dan rendemen TRIS II sebesar 6.99 persen.
Akibat rendahnya pendapatan usahatani tebu, maka pe- tani diduga akan beralih memilih tanaman kompetitif tebu. Disamping itu, kebiasaan petani menanam tanaman pangan dan pendapatan dari tanaman pangan yang lebih cepat diperoleh, juga akan mempunyai pengaruh terhadap kecenderungan petani beralih ke tanaman pangan.
Adanya kecenderungan petani beralih ke tanaman pangan (tanaman kompetitif tebu) diduga akan mengakibatkan produksi gula semakin menurun karena bahan baku pabrik gula tidak terjamin. Untuk mengatasi hal ini, dan sekaligus meningkatkan pendapatan petani maka perlu peningkatan produk- tivitas dan rendemen tebu.
