Penggunaan prostaglandin F dalam penyerentakan berahi pada ternak domba
Abstract
Domba merupakan ternak ruminan yang cukup potensial dalam usaha menambah penghasilan dan sebagai penghasil protein hewani. Hal ini ditunjang dengan cara pemeliharaan yang mudah, mudah berproduksi dan harganya relatif murah jika dibandingkan dengan ternak ruminan besar lainnya. Oleh sebab itu perlu peningkatan populasi ternak domba.
Salah satu cara untuk meningkatkan populasi ternak domba dengan peningkatan produksi anak untuk tujuan pemasaran pada saat tertentu yaitu dengan mengawinkan induk secara bersama-sama sehingga akan menghasilkan anak pada waktu yang bersamaan pula. Hal ini memerlukan tehnik penyerentakan be- rahi atau sinkhronisasi estrus yang efektif.
Sinkhronisasi estrus merupakan pengendalian siklus berahi sedemikian rupa sehingga berahi pada sekelompok ternak betina terjadi secara serentak pada waktu yang bersamaan. Preparat yang paling mutakhir digunakan dalam usaha penye- rentakan berahi secara efektif adalah prostaglandin. Secara fisiologis dihasilkan oleh uterus melalui mekanisme "counter current" dan dapat menyebabkan regresi corpus luteum.
Pemberian PGF20 sebanyak 7.5 mg secara intramuscular dapat menimbulkan berahi dua sampai tiga hari setelah penyuntikan. Pemberian PGF2a sebanyak satu kali memberikan chasil yang tidak jauh berbeda dengan pemberian sebanyak dua kali. Pemberian PGF2 sebanyak 2 mg secara intrauterin da- pat menimbulkan berahi dua sampai tiga hari setelah penyuntikan. Begitu juga analog PGF2a yaitu Cloprostenol (ICI 80996) dengan dosis 125Pg intramuskular pada domba 10 hari sesudah berahi untuk penyuntikan pertama dan untuk penyun- tikan kedua diberikan 14 atau 15 hari kemudian…
