Sistim tataniaga pisang : studi kasus di Desa Panyutran, Kecamatan Padaherang, Ciamis Jawa Barat
Abstract
Tanaman pisang (Musa paradisiaca) merupakan tanaman yang serba guna dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi kalau sistim tataniaga yang selama ini kurang menguntung- kan petani dapat diperbaiki. Penelitian yang dilakukan pa- da bulan April 1986 sampai Juni 1986 ini dimaksudkan seba- gai penelitian pendahuluan untuk mempelajari tataniaga pisang, struktur pasar, analisa biaya dan marjin tataniaga di desa Panyutran.
Adapun titik tolak permasalahan adalah mengingat sifat komoditi pisang yang mempunyai sifat mudah rusak, dan membutuhkan ruang yang besar, sehingga nilai ekonomi pisang mempunyai kecenderungan dapat menurun dengan semakin lama- nya masa penyimpanan. Petani pisang umumnya tidak menjual langsung produknya ke pedagang pengecer, tetapi melalui rantai tataniaga yang cukup panjang untuk sampai ke konsu- men. Dilain pihak jarak antara daerah produsen dan konsumen cukup jauh dan sarana jalan kurang baik.
Data-data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data kualitatif dan kuantitatif dianalisa seca- deskriptif dan tabulasi. Hasil penelitian ini diperoleh bahwa terdapat lima tingkat lembaga tataniaga yang beroperasi dalam menyalurkan pisang dari desa Panyutran ke daerah konsumen yang berada di Bandung. Fungsi tataniaga yang di- lakukan oleh lembaga tataniaga antara lain fungsi pertukaran yang meliputi penjualan menciptakan kegunaan hak milik, kegunaan waktu, kegunaan tempat, sedangkan kegunaan bentuk belum terjadi. Kondisi jalan yang buruk antara desa Panyutran dan Padaherang (ibu kota kecamatan), dan jarak Padaherang dengan Bandung yang jauh menyebabkan tataniaga pisang beroperasi pada biaya yang tinggi. Sedangkan struktur pра- sar yang terjadi menyebabkan marjin keuntungan tidak ter- sebar merata antar lembaga-lembaga tataniaga yang terlibat.
Petani mendapat bagian harga sebesar 20 persen dari harga jual eceran. Biaya tataniaga terbesar adalah biaya transportasi, diikuti oleh biaya susut. Biaya tataniaga besarnya adalah 43,43 persen dari harga eceran (Saluran I) dan 37,18 persen dari harga jual eceran (saluran II). Se- dangkan Keuntungan Lembaga Tataniaga adalah 36,57 persen dari harga eceran ( Saluran I) dan 42,82 persen harga eceran (Saluran II)….
