Model Pemantauan Implementasi Kemitraan Konservasi KTH Getah Lestari di Taman Nasional Gunung Halimun Salak Jawa Barat
Abstract
Skema kemitraan konservasi merupakan merupakan wujud pemberdayaan masyarakat lokal dengan memberikan akses untuk memasuki kawasan hutan dan memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya. Penelitian ini bertujuan untuk memantau pelaksanaan di lapangan, kinerjanya dibandingkan dengan yang seharusnya, mengidentifikasi indikator-indikator yang kinerjanya rendah dan kemudian merekomendasikan indikator-indikator apa yang perlu dipertahankan dan ditingkatkan kinerjanya. Hasil analisis data dengan metode AHP menunjukkan bahwa skor kinerja pemberdayaan berdasarkan pemenuhan kewajiban dan hak adalah 5 yang berarti kinerja pemberdayaan antara BTNGHS dan KTH Getah Lestari termasuk dalam kinerja tinggi. Berdasarkan uji sensitivitas, Indikator K1.2 mengalami perubahan alternatif kinerja tinggi menjadi kinerja sedang. Hasil tersebut dikarenakan indikator K1.2 mempunyai nilai bobot global terbesar diantara 27 indikator lainnya yaitu sebesar 0,361 sehingga perlu dipertahankan kinerjanya. Selain itu, sensitivitas pemantauan menunjukkan perlunya pengelolaan yang adaptif terhadap seluruh indikator berdasarkan hasil pemantauan. The conservation partnership scheme is a form of empowerment of local communities by providing access to enter forest areas and utilize the resources they have. This research aims to monitor implementation in the field, compare performance with what it should be, identify indicators whose performance is low and then recommend what indicators need to be maintained and improved performance. The results of data analysis using the AHP method show that the empowerment performance score based on fulfilling obligations and rights is 5, which means that the empowerment performance between BTNGHS and KTH Getah Lestari is included in high performance. Based on the sensitivity test, Indicator K1.2 experienced a change from high performance alternative to medium performance. This result is because the K1.2 indicator has the largest global weight value among the 27 other indicators, namely 0.361, so its performance needs to be maintained. In addition, monitoring sensitivity shows the need for adaptive management of all indicators based on monitoring results.
