Penggunaan indeks massa tubuh (IMT) sebagai alat pengukur status gizi pada balita
View/ Open
Date
1998Author
Hotmauli, Lamris
Musa, M.Sjarkani
Indahwati
Metadata
Show full item recordAbstract
Sebagai salali satu dari indikator status gizi penggunaan IMT lebih praktis dibandingkan dengan indikator status gizi lainnya seperti Zru dan Zogu Namun di kalangan masyarakat selama ini IMT digunakan untuk mengukur status gizi orang dewasa.
IMT untuk orang dewasa dihitung dengan menggunakan rummus IMT-B/P.. Sedangkan rumus umum bagi IMT yaitu IMT-B/P. Rumus ini diturunkan dari persamaan Be P. Untuk menduga parameter ẞ bagi balita dari model tersebut, maka model itu ditransformasi terlebih dulu dengan transformasi logaritma menjadi log(B)=o+log(P)+log(e). Setelah itu pendugaan nilai diduga dengan Metode Kuadrat Terkecil.
Melalui pengujian kesamaan diketahui bahwa di antara balita laki-laki dan perempuan tidak terdapat perbedaan nilai 3 yang nyata. Begitupula di antara balita yang berumur 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun, 4 tahun, dan 5 tahun, tidak terdapat perbedaan nilai ẞ yang nyata. Sehingga nilai ẞ yang dipakai untuk menghitung IMT bagi balita dalam kajian ini adalah nilai ẞ yang berasal dari pendugaan terhadap data balita secara keseluruhan baik umur maupun jenis kelamin, yaitu 1,86.
Selain itu dilakukan pula pencarian batas aimbang IMT yang baru bagi balita ini, agar terdapat kesesuaian klasifikasi status gizi yang optimal dengan hasil klasifikasi indikator status gizi lain, dalam hal ini Zau dan Zax Penentuan batas ambang ini dilakukan dengan melihat plot-plot dua dimensi diantara Zu, Zamu dan IMT dan sebaran peluang kumulatif dari masing-masing ketiga indikator status gizi tersebut. Pada kajian ini didapatkan batas ambang baru bagi IMT untuk kategori status gizi gemuk, normal, kurus tingkat ringan dan kurus tingkat berat secara berturut-turut yaitu: IMT 16, 162IMT>14, 142IMT>12, dan IMT $12.
