Penentuan daur optimal kelas perusahaan jati (Tectona grandis L. f.) dengan mempertimbangkan resiko kehilangan tegakan akibat pencurian di KPH Madiun Perum Perhutani Unit II Jawa Timur
View/ Open
Date
2006Author
Istichomah, Nurul
Prihanto, Budi
Saleh, M. Buce
Metadata
Show full item recordAbstract
Kayu jati (Tectona grandis L. f) termasuk jenis kayu paling berharga di antara jenis-jenis kayu yang lain, bahkan termasuk jenis kayu mewah karena mempunyai profil yang ditunjukkan olch garis lingkar tumbuh yang indah dan bernilai artistik tinggi, awet dan tahan terhadap hama dan penyakit, serta mudah pengerjaannya. Kerusakan hutan jati yang terus bertambah oleh meningkatnya pencurian hasil hutan tidak hanya berpengaruh terhadap potensi hutan tetapi juga mempengaruhi dan mengurangi panjang daur jati yang telah lama digunakan. Pencurian hutan telah mengakibatkan struktur tegakan hutan didominasi oleh tegakan dengan Kelas Umur (KU) muda sehingga kegiatan penebangan dilakukan sebelum daur. Berdasarkan hal-hal tersebut dirasakan perlu diadakan kajian tentang panjang daur finansial optimal dengan resiko gangguan hutan yang berupa pencurian hasil hutan sebagai faktor penentunya.
Penelitian yang berlokasi di KPH Madiun Perum Perhutani Unit II Jawa Timur ini bertujuan untuk menentukan panjang daur finansial optimal berdasarkan peubah finansial dengan mempertimbangkan faktor resiko berkurangnya tegakan hutan akibat gangguan keamanan pada tegakan jati di KPH Madiun Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan data pencurian hutan selama 10 tahun terakhir dan kemudian dihitung proporsi antara kehilangan tegakan akibat pencurian hutan dengan jumlah total pohon dalam tegakan.
Dari data pencurian hutan selama 10 tahun terakhir (1996-2005), kehilangan tunggak pada KUI (2169 tunggak); KU II (13418 tunggak); KU III (20419 tunggak); KU IV (12429 tunggak);
KU V (11448 tunggak), KU VI (4327 tunggak), KU VII (1374 tunggak); KU VIII (467 tunggak);
KU IX (153 tunggak); dan KU X (82 tunggak). Secara keseluruhan, jumlah total kehilangan tunggak selama sepuluh tahun (1996-2005) di KPH Madiun adalah sebesar 66286 tunggak.
Proporsi kehilangan tegakan rata-rata per tahun pada setiap kelas umur akibat adanya pencurian hutan pada KUI (0,0013); KU II (0,0071); KU III (0,0162); KU IV (0,0329); KU V (0,0288); KU VI (0,0150); KU VII (0,0270); KU VIII (0,0102). Secara keseluruhan, jumlah total proporsi kehilangan tegakan dari KUI-KU VIII adalah sebesar 0,1385 (13,85%).
Perhitungan NPV (Net Present Value) dilakukan pada daur 50, 60, dan 70 tahun pada kondisi hutan tidak ada pencurian (aman) dan ada pencurian. Dari ketiga daur alternatif pada masing-masing kondisi hutan, luas dan volume tebangan terbesar terdapat pada daur 50 tahun untuk kedua kondisi hutan (aman dan tercuri). Hal ini disebabkan oleh pendeknya daur yang mengakibatkan semakin banyaknya luasan hutan yang bisa ditebang jika dibandingkan pada kedua daur alternatif lainnya ...
Collections
- UT - Forest Management [3207]
