Analisis trend dan faktor yang mempengaruhi permintaan impor kentang di Indonesia
Abstract
Pertanian sudah sejak lama menjadi sektor utama di Indonesia. Hal ini terlihat pada setiap Rencana Pembangunan Lima Tahun yang dicanangkan dahulu di Indonesia dengan menitikberatkan pada sektor pertanian. Secara langsung maupun tidak langsung, sektor pertanian memainkan peranan penting dalam pembangunan di Indonesia. Pengaruh secara langsung kepada Pendapatan Domestik Bruto (PDB), menyediakan lapangan pekerjaan, pendapatan masyarakat, pengentasan kemiskinan, dan ketahanan pangan nasional. Peran tidak langsungnya antara lain dalam menciptakan iklim yang kondusif dalam pembangunan nasional lintas sektoral. Sampai akhir pembangunan jangka panjang (PJP I) pengembangan tanaman hortikultura khususnya sayuran, masih dinomorduakan setelah padi dan palawija. Walaupun tanpa disadari bahwa tanaman sayuran telah turut memberikan sumbangan sebagai konsumsi pengganti pangan domestik.
Terpuruknya perekonomian Indonesia akibat krisis moneter sejak tahun 1997 telah menyadarkan berbagai pihak akan pentingnya sektor pertanian dalam kontribusinya terhadap perekonomian nasional. Sebagai sektor penting dalam pembangunan nasional, berbagai langkah strategis telah ditempuh untuk mengoptimalkan hasil sektor pertanian diantaranya dengan melakukan reorientasi pembangunan pertanian berwawasan agribisnis. Pembangunan pertanian yang berwawasan agribisnis adalah perlunya pengembangan usaha pertanian yang berorientasi menciptakan usaha berkelanjutan dan menguntungkan, serta mengacu pada permintaan pasar salah satunya melalui jalur impor. Sebagai komoditi sayuran, konsumsi kentang dipengaruhi oleh tingkat harga produk dan pendapatan konsumen. Krisis ekonomi di tahun 1997 yang meningkatkan harga komoditi dan menurunkan pendapatan riil berdampak terhadap menurunnya konsumsi kentang.
Seperti komoditas pertanian lainnya, kentang (Solanum tuberosum) memiliki sifat kegunaan yang beragam. Selain dapat dikonsumsi langsung, kentang juga dapat dipakai sebagai bahan baku produk olahan lain. Faktor ini memungkinkan terjadinya perubahan pola konsumsi konsumen yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap pola permintaan pasar akan komoditas kentang. Selain mutu yang diminta menjadi beragam, volume yang diminta juga semakin besar. Hal ini membuat respon para importir terhadap perubahan pola permintaan pasar sangat diperlukan, guna memenuhi kebutuhan konsumsi yang belum tercukupi dari produksi kentang beku dalam negeri. Dengan penambahan penduduk dan perbaikan ekonomi masyarakat terutama di kota-kota besar, maka kebutuhan kentang pun akan semakin bertambah. ...
