Strategi Pengembangan Perikanan Berkelanjutan di Taman Wisata Perairan (TWP) Selat Dampier, Kabupaten Raja Ampat
Date
2024-01-24Author
Wibowo, Ichsan Suryo
Mashar, Ali
Pratiwi, Niken Tunjung Murti
Metadata
Show full item recordAbstract
Potensi pemanfaatan kawasan pesisir dan laut untuk pengembangan aktivitas
marikultur di Taman Wisata Perairan (TWP) Selat Dampier dapat dilihat dari
ketersediaan ruang perairan dan keberadaan komoditas lokal. Akan tetapi, kondisi
aktual kegiatan budidaya laut di TWP Selat Dampier belum ditopang oleh adanya
basis perencanaan yang mampu mendukung pengelolaan kawasan secara
berkelanjutan. Oleh karena itu, dibutuhkan langkah pengembangan yang
komprehensif untuk mendorong implementasi akuakultur yang mengedepankan
fungsi pelestarian alam dan integrasi ruang, merujuk dari status dan
karakteristiknya sebagai Taman Wisata Perairan. Untuk mencapai hal tersebut,
dilakukan beberapa tahapan analisis untuk menentukan daya dukung dan strategi
pengelolaan melalui pendekatan marikultur yang berkelanjutan dengan konsep
Ecosystem Approach to Aquaculture (EAA).
Daya dukung fisik dinilai secara spasial menggunakan teknik Spatial Multi Criteria Evaluation. Daya dukung ekologi dan produksi diukur dengan pendekatan
kapasitas fisik perairan. Daya dukung ekonomi dievaluasi melalui metode analisis
biaya-manfaat (cost-benefit analysis). Strategi pengelolaan ditentukan lewat kajian
deskriptif-kualitatif berdasarkan temuan yang diperoleh dari hasil pengamatan
kondisi aktual karakteristik usaha budidaya laut dan penilaian daya dukung.
Luas potensial perairan yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan
aktivitas marikultur adalah 886,38 ha (0,38% dari total alokasi ruang sebesar
232.588,59 ha). Jumlah unit budidaya rumput laut dan tiram mutiara yang dapat
dikembangkan sebanyak 704 dan 805 unit dengan volume produksi per tahun
rumput laut kering dan spat tiram mutiara siap operasi sekitar 4.660,46 ton dan
2.817.753 individu. Berdasarkan hasil analisis biaya-manfaat, usaha budidaya laut
kedua komoditas laik untuk dikembangkan dengan telah memenuhi persyaratan
kelayakan bisnis berdasarkan perbandingan nilai biaya dan manfaat, tingkat
persentase keuntungan, taraf pengembalian aset, selisih dan perbandingan antara
pengeluaran dengan penerimaan, serta waktu pemulangan modal. Strategi
pengelolaan yang direkomendasikan meliputi pemantauan secara berkala terhadap
usaha marikultur, kondisi lingkungan perairan dan kualitas air, kesesuaian lahan,
daya dukung kawasan, skema peningkatan kapasitas sumberdaya manusia, serta
sistem tata kelola ruang yang mencakup pengaturan desain tata letak konstruksi
budidaya dan mekanisme pengendalian pemanfaatan ruang.
Seluruh tahapan analisis telah mampu menampilkan hasil yang komprehensif
untuk mencapai pemanfaatan kawasan secara optimal dan berkelanjutan dari
adanya pengembangan aktivitas marikultur. Hal tersebut telah mempertimbangkan
kesinambungan antara potensi lingkungan dengan adanya tuntutan manusia dalam
memanfaatkan jasa ekosistem secara terpadu. Hasil analisis data direkomendasikan
sebagai mekanisme arahan pemanfaatan ruang dan pedoman pengelolaan kawasan.
Collections
- MT - Fisheries [3214]
