Morfologi dan morfometri spermatozoa sapi bali(Bos sondaicus) dengan pewarnaan williams, eosin, eosin nigrosin dan formol-saline
View/ Open
Date
2005Author
Retnani, Elies Frida
Arifianti, R. Iis
Wresdiyati
Metadata
Show full item recordAbstract
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik morfologi spermatozoa dengan pewarnaan Williams serta mengkaji morfometri spermatozoa sapi bali dengan pewarnaan Williams (W), eosin (E), eosin nigrosin (EN) dan fiksasi formol-saline (FS) sebagai data dasar yang sampai saat ini belum dilaporkan. Semen dikoleksi dengan teknik vagina buatan dari sepuluh ekor sapi di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Baturiti, Bali. Semen yang diperoleh dievaluasi secara makroskopis dan mikroskopis. Morfologi dengan pewarnaan W dilakukan dengan membuat preparat ulas dari semen segar dan dikeringudarakan. Sedangkan untuk melihat morfometri selain W juga dilakukan pewarnaan E dan EN serta fiksasi pada FS. Evaluasi morfologi menggunakan mikroskop cahaya pada perbesaran 1000X dengan minyak emersi sebanyak 200 sel untuk masing-masing jantan. Morfometri spermatozoa dilakukan dengan menggunakan mikrometer dengan bagian yang diukur adalah panjang dan lebar kepala, panjang ekor bagian tengah dan utama serta panjang total sperma pada 50 sel.
Hasil evaluasi menunjukkan volume semen sebesar 6.30±1.88 ml, warna putih susu sampai krem, konsistensi sedang sampai kental, gerakan massa +++++, sperma motil 71.04±3.69% dan konsentrasi spermatozoa 1340±447.85X 100ml¹. Morfologi spermatozoa sapi bali yang abnormal adalah 9.38% dengan abnormalitas bagian kepala 2.70±1.35% dan abnormalitas bagian ekor sebesar 6.68±1.67%. Morfometri spermatozoa pada bagian panjang kepala dengan pewarnaan W (10.05±0.05 µm) dan FS (10.08±0.04 µm) nyata lebih panjang (P<0.05) dibandingkan E (9.94±0.06 µm) dan ΕΝ (9.98±0.04 µm). Tidak ada perbedaan pada lebar kepala dengan rataan 4.96±0.05 µm. Pada panjang bagian tengah ekor tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dari keempat pewarnaan dengan rataan 12.97±0.08 µm. Pada bagian utama ekor pewarnaan W tidak menunjukkan perbedaan dengan E, demikian juga E dengan FS. Panjang bagian utama ekor pada pewarnaan ΕΝ (12.92±0.09 µm) menunjukkan perbedaan yang nyata lebih pendek (P<0.05) dibandingkan W, E dan FS.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa semen sapi bali yang digunakan dalam penelitian memiliki kualitas yang baik berdasarkan hasil evaluasi semen segar dengan persentase spermatozoa abnormal yang cukup rendah. Teknik pewarnaan yang digunakan dalam pengukuran morfometri spermatozoa memberikan pengaruh nyata pada ukuran panjang kepala dan ekor bagian utama tetapi tidak pada lebar dan panjang ekor bagian tengah.
