Strategi pemasaran bibit/benih tanaman hias Balai Benih Induk Hortikultura Dinas Pertanian dan Kehutanan DKI Jakarta
Abstract
Saat ini tanaman hortikultura khususnya tanaman hias dan bunga potong
mendapatkan perhatian yang besar dari pemerintah karena permintaannya yang
semakin meningkat. Kenyataan menunjukan bahwa pasar internasional tanaman
hias dan bunga potong didominasi oleh negara maju dengan pangsa pasar
melebihi 70 persen dari total perdagangan dunia. Sementara negara yang sedang
berkembang hanya menguasai sebagian kecil dari pangsa dunia (Sinar Tani. Ed 2-
8 No.3088 Maret 2005).
> DKI Jakarta merupakan titik masuk gerbang ekspor tanaman hias nasional yang potensial selama lima tahun terakhir. Dengan kemampuan penyerapan pasar yang besar diharapkan DKI Jakarta dapat menjadi pemicu utama bagi bangkitnya pasar agribisnis, dapat merintis berdirinya basis ekspor yang tangguh dan pada gilirannya akan mampu mengangkat perekonomian rakyat melalui komoditi tanaman hias. Melihat besarnya potensi ekspor komoditas tanaman hias, membuka peluang bagi petani Indonesia untuk merebut peluang pasar dunia dan mengisi substitusi impor yang menghamburkan devisa.
Untuk dapat meningkatkan ekspor maka produksi florikultur di Indonesia harus lebih diarahkan pada pengembangan tanaman hias khususnya dalam hal penyediaan varietas baru yang unggul. Balai Benih Induk (BBI) Hortikultura merupakan unit pelaksana teknis (UPT) Dinas Pertanian dan Kehutanan Propinsi DKI Jakarta yang bertugas untuk melaksanakan produksi benih/bibit unggul tanaman hortikultura. Berbagai perubahan yang terjadi pada lingkungan eksternal dan internal menuntut setiap organisasi termasuk BBI untuk menerapkan strategi baru agar mencapai target yang telah ditetapkan. Untuk mempertajam analisis terhadap lingkungan BBI, dilakukan pula penilaian terhadap tingkat kepuasan pelanggan BBI. Hal ini penting untuk dilakukan agar BBI dapat lebih meningkatkan peranannya dalam agribisnis hortikultura khususnya tanaman hias.
Perumusan strategi pemasaran melalui pendekatan manajemen strategis dimulai dengan merumuskan pernyataan misi dan visi. Pernyataan misi yang baik penting untuk merumuskan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi strategi (David, 1998). Setelah itu dilakukan audit terhadap lingkungan organisasi yang terdiri dari lingkungan eksternal dan internal. Intisari dari perumusan strategi ini adalah penilaian apakah suatu organisasi melakukan hal-hal yang tepat dan bagaimana organisasi dapat bekerja dengan lebih efektif.
Analisis yang dilakukan terhadap lingkungan eksternal dirangkum ke dalam matriks EFE. Lingkungan internal dirangkum ke dalam matriks IFE. Analisa tersebut dilakukan terhadap masing-masing kebun bibit (KB) yaitu KB Anggrek dan KB Non-Anggrek. Hasil matriks EFE dan IFE pada masing-masing kebun kemudian dimasukan ke dalam matriks IE guna menempatkan posisi tiap- tiap kebun bibit ke dalam diagram skematis (matriks portofolio) kemudian disusun strategi di tingkat kebun dengan menggunakan analisis TOWS yang akan menghasilkan berbagai alternatif strategi. Untuk mempertajam analisa, dilakukan penilaian terhadap tingkat kepuasan konsumen BBI sehingga dapat diketahui...dst
