Pengembangan Model Bisnis Usaha Pelatihan Hidroponik di kota Bogor
Date
2024Author
Syuja' Hakim, Muhammad Alief
Baga, Lukman Mohammad
Tinaprilla, Netti
Metadata
Show full item recordAbstract
Pertumbuhan penduduk global dan Indonesia menimbulkan masalah
pemenuhan pangan. Hidroponik adalah solusi atas masalah tersebut di tengah krisis
iklim dan menurunnya luas lahan pertanian. Tren hidroponik meningkat di
Indonesia seiring dengan perkembangan dan keterbukaan teknologi informasi,
walaupun hidroponik membutuhkan keahlian khusus. Permintaan pelatihan
dimanfaatkan oleh unit usaha pelatihan hidroponik di Bogor, namun masih terbatas
pertemuan tatap muka. Pertemuan tatap muka tidak dapat dilakukan selama masa
pandemi Covid-19. Keadaan ini memerlukan solusi berupa model bisnis alternatif
untuk menjawab tantangan pembatasan pergerakan sosial saat pandemi, dan
menggunakan peluang yang ada dari adaptasi internet di Indonesia.
Penelitian ini bertujuan untuk 1) memetakan model bisnis awal usaha
pelatihan hidroponik di kota Bogor. 2) menganalisa kekuatan dan kelemahan dalam
model bisnis usaha pelatihan hidroponik di kota Bogor dalam menghadapi
lingkungan bisnis selama masa pandemi Covid-19. 3) merumuskan model bisnis
alternatif untuk usaha pelatihan hidroponik di kota Bogor. Penelitian ini dilakukan
pada bulan September 2021 hingga Oktober 2023, dengan melakukan wawancara,
FGD, dengan pihak internal jasa pelatihan hidroponik, dan survei analisis CRI
dengan model AISAS untuk survei pelanggan. Metode analisis yang digunakan
adalah deskriptif kualitatif menggunakan software Nvivo 12 untuk data wawancara
yang diinterpretasikan dalam bentuk Business Model Canvas (BMC), dan deskriptif
kuantitatif menggunakan customer response index (CRI) dengan adaptasi model
AISAS untuk analisis lingkungan usaha. Setelah itu dilakukan analisis SWOT pada
masing – masing elemen BMC diperkaya dengan hasil analisis CRI. Hasil dari
analisis SWOT berupa strategi alternatif diadaptasikan ke BMC prototype dengan
adaptasi Blue Ocean Strategy (BOS) yang menerapkan kerangka kerja empat
langkah. Berdasarkan hasil penelitian, pemetaan BMC menunjukkan adaptasi
bisnis digital masih terbatas dalam saluran pemasaran dan pelatihan tatap muka
masih dominan. Potensi pendapatan dibatasi oleh terbatasnya layanan yang
disediakan, dan metode pelatihan yang masih tatap muka. Analisis SWOT
mengidentifikasi isu strategis seperti ketergantungan pada produk pelatihan,
peluang diversifikasi layanan, dan risiko oportunistik mitra bisnis.
Hasil penelitian adalah dua model bisnis alternatif prototype BMC yang
menjadi rekomendasi bagi unit usaha pelatihan dalam menjalankan bisnis pada
periode selanjutnya. Alternatif prototype BMC yang pertama menekankan
diversifikasi layanan untuk memperkaya layanan jasa yang telah disediakan unit
usaha pelatihan hidroponik dan menambah arus kas pemasukan. Alternatif
prototype BMC yang kedua adalah spesialis pelatihan hidroponik, dengan variasi
layanan yang menjangkau dan melayani peserta secara tatap muka maupun daring.
Collections
- MT - Economic and Management [3203]
