Pengaruh logam berat seng (Zn) terhadap perkembangan porphyridium cruentum
View/ Open
Date
1998Author
Triyulianti, Iis
Effendi, Hefni
Soedharma, Dedi
Metadata
Show full item recordAbstract
Ikan hias merupakan salah satu komoditi non migas yang potensial karena semakin banyaknya
permintaan baik di dalam maupun di luar negeri. Salah satu jenis ikan hias yang memiliki nilai
ekonomi tinggi dan banyak permintaan di pasaran adalah ikan Betta (Betta splendens). Selain
digunakan sebagai ikan laga, ikan betta jantan mempunyai hiasan warna tubuh yang indah dengan sirip yang panjang. Hal ini mengakibatkan adanya usaha untuk meningkatkan populasi monoseks ikan betta jantan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah merendam embrio dalam larutan hormon l 7α.-metiltestosteron.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman embrio dengan lama waktu yang 6, 8, 10 dan 12 jam menggunakan 20 mg/] hormon 17a. metiltestosteron terhadap nisbah kelamin ikan betta. Perendaman embrio dimulai pada saat fase bintik mata yaitu ± 30 jam setelah pembuahan.
Parameter uji pada percobaan ini adalah penghitungan derajat penetasan telur, derajat kelangsungan
hidup larva umur 2 minggu dan 90 hari. Persentase jenis kelamin jantan secara morfologi dapat
dilihat setelah ikan berumur 3 bulan. Hasilnya dipastikan melalui pengujian gonad dengan pewarnaan asetokarmin. Data disajikan dalam bentuk tabel kemudian diuji dengan menggunakan uji antara 2 nilai proporsi serta dianalisa secara deskriptif
Uji proporsi menunjukkan bahwa proporsi jenis kelamin ikan betta jantan yang diberi perlakuan
hormon memberikan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan proporsi ikan bettajantan yang tidak diberi perlakuan hormon pada taraf0,01 (selang kepercayaan 99%) baik secara morfologi maupun histologi gonad, sedangkan antar perlakuan yaitu perendaman embrio dalam hormon selama 6, 8, 10 dan 12 jam menunjukkan hasil tidak berbeda nyata pada taraf0,05 dan 0,01. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perendaman embrio ikan betta dalam larutan hormon 20 mg/l l 7α.-metiltestosteron selama 6 - 12 jam menunjukkan hasil maskulinisasi yang cukup baik (78,0% - 83,4%).
Porphyridiwn cruentum merupakan salah satu jenis mikroalga yang berpotensi terkena dampak dari
adanya pencemaran logam berat. Salah satu jenis logam berat yang masuk ke suatu badan perairan
sebagai hasil samping dari aktivitas manusia adalah Seng (Zn).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh logam berat Seng (Zn) terhadap perkembangan
Porphyridium cruentum, serta menentukan nilai konsentrasi Seng (Zn) yang dapat menghambat
pertumbuhan Porphyridium cruentum sebesar 50 % (IC₅₀), nilai NOEC dan LOEC. NOEC (No Observed
Effect Concentration) adalah nilai konsentrasi tertinggi yang secara nyata tidak menyebabkan
pengaruh negatif terhadap pertumbuhan biota uji, sedang LOEC (Lowest Observed Effect Concentration)
adalah konsentrasi terendah yang secara nyata berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan biota
Penelitian ini dilakukan mulai tanggal 20 Juni-10 Agustus 1998, di Laboratorium
Planktonologi, Limnologi Jurusan MSP dan Mikrobiologi Jurusan THP, Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan, Institut Pertanian Bogar. Uji toksisitas yang dilakukan adalah uji toksisitas kronik
dengan lamanya pengujian adalah 96 jam (4 hari). Kegiatan penelitian meliputi : kultur mikroalga,
uji mencari nilai kisaran konsentrasi toksikan yang akan diujikan, dan uji pengaruh logam berat
Seng (Zn) terhadap perkembangan mikroalga uji (uji definitif).
